Ditakhrijkan oleh At-Thabrani dari Abu Wail Shaqiq bin Salamah sesungguhnya Umar bin Khathab ra. telah melantik Bashar bin Asim ra. untuk memungut zakat penduduk Hawazin. Bashar ra. telah melewat-lewatkan kepergiannya lalu beliau telah ditemui oleh Umar ra. dan telah berkata kepadanya, "Apakah yang telah menyebabkanmu terlambat?". Adakah kamu tidak mendengar dan thaat kepada perintah kami?". Bashar ra. berkata, "Tidak, melainkan aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa yang menjadi ketua bagi sesuatu urusan kaum Muslimin, maka ia akan datang pada hari kiamat sehingga ia akan berdiri di atas sebuah jembatan Neraka. Jika ia telah melakukan kebaikan, ia akan selamat. Jika telah melakukan kejahatan, jembatan itu akan runtuh lalu ia akan terjatuh ke dalam api Neraka tersebut selama tujuh puluh tahun".
Abu Dzar ra. telah berkata kepada Umar ra. "Adakah kamu telah mendengar sesuatu dari Rasulullah SAW?" Umar ra. pun menjawab. "Tidak". Abu Dzar ra. berkata, "Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
'Barangsiapa yang bertanggungjawab ke atas urusan kaum Muslimin, ia akan datang pada hari kiamat sehingga ia akan berdiri di atas sebuah jembatan neraka. Jika beliau melakukan melakukan kebaikan dalam tanggungjawabnya ia akan selamat. Jika sebaliknya jembatan itu akan rubuh dan ia akan tejatuh ke dalam neraka itu selama tujuh puluh tahun dan Neraka itu amat gelap dan hitam'.
Maka hadis yang mana satukah yang lebih menggetarkan hatimu?". Umar ra. mejawab, "Kedua-duanya. Oleh itu adakah sesiapa yang mau mengambil jabatan Khalifah ini?". Abu Dzar ra. pun berkata, "Hanya orang yang hidungnya telah terpotong dan pipinya telah dilekapkan diatas tanah yang akan mengambil alih jabatan ini. Adapun aku tidak mengetahui melainkan jabatan Khalifah ini baik untuk mu. Karena jika kamu memberikan jabatan Khalifah ini kepada seseorang yang tidak akan berlaku adil, kamu juga akan menanggung dosa bersama dengannya".
Sebagaimana dalam kitab At-Targhib. Ditakhrijkan juga oleh Abdul Razak, Abu Nu'aim Abu Said An-Naqashi, Al-Baghowi dan Ad-Daruqutni dari jalur Sawid sebagaimana dalam kitab Al-Kanz. Ditakhrijkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Mundah dari selain galur Sawid sebagaimana dalam kitab Al-Isobah.
Senin, 20 September 2010
Sabtu, 13 Februari 2010
Biografi Abu bakar ash-Shiddiq (4)
10) Berita Gembira Untuknya Sebagai Penghuni Surga
Diriwayatkan dari Sa'id bin Musayyab رضي الله عنه dia berkata, "Telah berkata kepadaku Abu Musa al-Asy'ari bahwa suatu hari dia berwudhu' di rumahnya kemudian berangkat keluar dan berkata, "Aku harus mengiringi Rasulullah saw. hari ini."Beliau berangkat ke mesjid dan bertanya di mana Nabi saw, maka dijawab bahwa beliau keluar untuk suatu hajat, maka aku segera pergi beru-saha menyusulnya sambil bertanya-tanya, hingga akhirnya beliau masuk ke kebun yang di dalamnya terdapat sebuah sumur bernama Aris, maka aku duduk di pintu -dan ketika itu pintunya terbuat dari pelepah kurma- hingga beliau menyelesaikan buang hajat dan setelah itu berwudhu, maka akupun berdiri berjalan ke arahnya ternyata beliau sedang duduk-duduk di atas sumur tersebut sambil menyingkap kedua betisnya dan menjulur-julurkan kakinya ke dalam sumur, maka aku datang memberi salam kepadanya, kemudian kembali ke pintu sambil berkata dalam hatiku, "Hari ini aku harus menjadi penjaga pintu Rasulullah saw. Tak lama kemudian datanglah Abu Bakar ingin membuka pintu, maka kutanyakan, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Abu Bakar!" Maka kukatakan padanya, "Tunggu sebentar!" Aku segera datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya padanya, "Wahai Rasulullah saw., ada Abu Bakar
datang dan minta izin masuk!" Rasulullah saw. berkata, "Suruhlah dia masuk dan beritahukan padanya bahwa dia adalah penghuni surga."Maka aku berangkat menujunya dan berkata, "Masuklah sesungguhnya Rasulullah saw. memberitakan padamu kabar gembira bahwa engkau adalah penghuni surga." Abu Bakar masuk dan duduk di sebelah kanan Rasulullah saw. sambil menjulurkan kakinya ke sumur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan dia menyingkap kedua betisnya ............................hingga akhir kisah."
Diriwayatkan dari Qatadah dari Anas bin Malik رضي الله عنه dia pernah bercerita bahwa Nabi pernah menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman, رضي الله عنه maka tiba-tiba gunung Uhud bergoncang dan Rasulullah saw. lang-sung berkata, "Diamlah woahai Uhud sesunggnhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq ra. dan dua syahid."
11) Sepak Terjangnya dalam Membela RasuIullah saw.
Diriwayatkan dari Urwah bin az-Zubair رضي الله عنه dia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Amru tentang perbuatan kaum musyrikin yang paling menyakitkan RasuIuUah, maka dia berkata, "Aku pernah melihat Utbah bin Abi Mu'ith mendatangi Nabi yang sedang shalat, maka tiba-tiba Uqbah melilit leher Nabi dengan sorban miliknya dan mencekiknya sekeras-kerasnya, kemudian datanglah Abu Bakar membelanya dan melepas-kan ikatan tersebut sambil berkata,"Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah' padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu." (Al-Mukmin: 28).
VI. JASA-JASA ABU BAKAR رضي الله عنه
Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه. adalah sahabat yang pertama kali masuk Islam, dan selalu menyertai Rasulullah sepanjang hidupnya baik di Makkah maupun di Madinah. Tidak hanya itu, beliau adalah sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم. sekaligus teman bermusyawarah dan wazirnya. Di tangannya para senior sahabat masuk memeluk Islam seperti Usman bin Affan, az-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah رضي الله عنه. Setia mendampingi Rasulullah saw. dalam menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan, siap membela beliau dengan sepenuh jiwa, bahkan beliau pula yang telah membebaskan banyak budak-budak yang di siksa karena masuk Islam seperti Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubaisy. Zinnirah, Nahdiyyah رضي الله عنه dan kedua putrinya, serta budak wanita milik Bani Muammal(27) Beliaulah yang menemani Nabi di kala hijrah, dan turut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah saw. seperti Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah, Penaklukan kota Makkah, Hunain, Tabuk dan pertempuran besar lainnya. Setelah menjabat sebagai khalifah maka beliaulah yang berrugas dan bertanggung jawab terhadap seluruh negeri Islam dan wilayah kekhalifahannya sepeninggal Rasulullah saw. maka tercatat sejumlah reputasi beliau yang gemilang di antaranya,
1- Instruksinya agar jenazah Rasulullah saw., diurus hingga dikebumikan.
2- Melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah yang sebelum-nya telah dipersiapkan Rasulullah saw. sebelum wafat, sebagaimana kelak akan diterangkan secara rinci.
3- Kebijakannya menyatukan persepsi seluruh sahabat untuk memerangi kaum murtad dengan segala persiapan ke arah itu, kemudian instruksinya untuk memerangi seluruh kelompok yang murtad di wilayah masing-masing.
4- Memerintahkan untuk mengumpulkan teks Al-Qur’an
Ibnu Katsir berkata, "Pada tahun 12 H Abu Bakar ash-Shiddiq ra. memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengkumpulkan al-Qur'an dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun yang dihafal dalam dada kaum muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para Qari' penghafal al-Qur'an banyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitabShahih al-Bukhari(28). Imam al-Bukhari berkata(29), Bab Pengumpulan al-Qur'an kemudian dia mulai menyebutkan sanadnya hingga sampai kepada Ibnu Syihab dari Ubaid bin as- Sabbaq, bahwa Zaid bin Tsabit pernah berkata, "Abu Bakar ash-Shiddiq ra. mengirim kepadaku surat tentang orang-orang yang terbunuh diperang Yamamah, ketika aku mendatanginya, kudapati Umar bin al-Khaththab berada di sampingnya, maka Abu Bakar berkata, "Umar mendatangiku dan berkata, "Sesungguhnya banyak para Qurra' penghafal al-Qur'an yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari' yang masih hidüp kelak terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar dari ayat al-Qur'an, menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan al-Qur'an." Aku bertanya kepada Umar, "Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah saw.?" Umar menjawab, "Demi Allah, ini adalah kebaikan!" Dan Umar terus menuntutku hingga Allah melapangkan dadaku untuksegera melaksanakannya, akhirnya akupun setuju dengan pendapat Umar Zaid bin Tsabit berkata, "Kemudian Abu Bakar berkata padaku, "Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal dan penuh amanah, dan engkau telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah saw., maka carilah seluruh ayat al-Qur'an yang berserakan dan kumpulkanlah." Berkata Zaid, "Demi Allah jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung tentu-lah lebih ringan bagiku daripada melaksanakan instruksi Abu Bakar agar aku mengumpulkan al-Qur'an." Aku bertanya, "Bagaimana kalian melakukan sesuatu perbuatan yang tidak diperbuat oleh Rasulullah saw. Dia berkata, "Demi Allah ini adalah suatu kebaikan!" Dan Abu Bakar terus berusaha meyakinkan aku hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk menerimanya sebagaimana Allah melapangkan dada
mereka berdua Maka aku mulai mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur'an yang ditulis di daun-daunan, kulit maupun dari hafalan para penghafal al-Qur'an, hingga akhirnya aku menemukan akhir surat at-Taubah yang ada pada Abu Khuzaimah al-Anshari, yang tidak kudapatkan dari selainnya, yaitu ayat:
"Sesungguhmja telah datang kepndamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu." (At-Taubah: 128). Hingga akhir surat al-Bara'ah.
Kemudian al-Qur'an yang telah dikum-ulkan dan dibukukan itu disimpan oleh Abu Bakar hingga Allah mewafatkannya. Setelah itu berpindah ke tangán Umar رضي الله عنهsewaktu hidup-nya, dan akhirnya berpindah ketangán Hafshah binti Umar, Imam al-Bukhari berkata, Ibnu Syihab berkata, Telah berkata kepadaku Kharijah bin Zaid bin Tsabit, bahwasanya dia mendengar Zaid berkata, "Aku tidak mendapatkan satu ayat dari surat al-Ahzab ketika kami menulis al-Qur'an ke dalam satu mushaf, sementara aku pernah mendengarkan Rasulullah saw. membacanya, akhirnya ayat tersebut kami cari dan ternyata ayat tersebut ada pada Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari,
" Di antara orang-orang mu' min itu ada orang-orang yang menepati apa yang
mereka janjikan kepada Allah." (Al-Ahzab: 23).
Maka segera kami sisipkan ke tempatnya di dalam mushaf.
5- Pengiriman pasukan untuk menyebarkan Agama Allah kepada bangsa-bangsa yang bertetangga dengan kaum muslimin baik kepada penduduk Persia maupun penduduk Syam, dalam rangka merealisasikan firman Allah SWT
"Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari padamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa." (At-Taubah: 123).
Sebagaimana yang akan diterangkan secara rinci insya Allah di pasal keempat dan kelima.
bersambung.........
Diriwayatkan dari Sa'id bin Musayyab رضي الله عنه dia berkata, "Telah berkata kepadaku Abu Musa al-Asy'ari bahwa suatu hari dia berwudhu' di rumahnya kemudian berangkat keluar dan berkata, "Aku harus mengiringi Rasulullah saw. hari ini."Beliau berangkat ke mesjid dan bertanya di mana Nabi saw, maka dijawab bahwa beliau keluar untuk suatu hajat, maka aku segera pergi beru-saha menyusulnya sambil bertanya-tanya, hingga akhirnya beliau masuk ke kebun yang di dalamnya terdapat sebuah sumur bernama Aris, maka aku duduk di pintu -dan ketika itu pintunya terbuat dari pelepah kurma- hingga beliau menyelesaikan buang hajat dan setelah itu berwudhu, maka akupun berdiri berjalan ke arahnya ternyata beliau sedang duduk-duduk di atas sumur tersebut sambil menyingkap kedua betisnya dan menjulur-julurkan kakinya ke dalam sumur, maka aku datang memberi salam kepadanya, kemudian kembali ke pintu sambil berkata dalam hatiku, "Hari ini aku harus menjadi penjaga pintu Rasulullah saw. Tak lama kemudian datanglah Abu Bakar ingin membuka pintu, maka kutanyakan, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Abu Bakar!" Maka kukatakan padanya, "Tunggu sebentar!" Aku segera datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya padanya, "Wahai Rasulullah saw., ada Abu Bakar
datang dan minta izin masuk!" Rasulullah saw. berkata, "Suruhlah dia masuk dan beritahukan padanya bahwa dia adalah penghuni surga."Maka aku berangkat menujunya dan berkata, "Masuklah sesungguhnya Rasulullah saw. memberitakan padamu kabar gembira bahwa engkau adalah penghuni surga." Abu Bakar masuk dan duduk di sebelah kanan Rasulullah saw. sambil menjulurkan kakinya ke sumur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan dia menyingkap kedua betisnya ............................hingga akhir kisah."
Diriwayatkan dari Qatadah dari Anas bin Malik رضي الله عنه dia pernah bercerita bahwa Nabi pernah menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman, رضي الله عنه maka tiba-tiba gunung Uhud bergoncang dan Rasulullah saw. lang-sung berkata, "Diamlah woahai Uhud sesunggnhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq ra. dan dua syahid."
11) Sepak Terjangnya dalam Membela RasuIullah saw.
Diriwayatkan dari Urwah bin az-Zubair رضي الله عنه dia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Amru tentang perbuatan kaum musyrikin yang paling menyakitkan RasuIuUah, maka dia berkata, "Aku pernah melihat Utbah bin Abi Mu'ith mendatangi Nabi yang sedang shalat, maka tiba-tiba Uqbah melilit leher Nabi dengan sorban miliknya dan mencekiknya sekeras-kerasnya, kemudian datanglah Abu Bakar membelanya dan melepas-kan ikatan tersebut sambil berkata,"Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah' padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu." (Al-Mukmin: 28).
VI. JASA-JASA ABU BAKAR رضي الله عنه
Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه. adalah sahabat yang pertama kali masuk Islam, dan selalu menyertai Rasulullah sepanjang hidupnya baik di Makkah maupun di Madinah. Tidak hanya itu, beliau adalah sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم. sekaligus teman bermusyawarah dan wazirnya. Di tangannya para senior sahabat masuk memeluk Islam seperti Usman bin Affan, az-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah رضي الله عنه. Setia mendampingi Rasulullah saw. dalam menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan, siap membela beliau dengan sepenuh jiwa, bahkan beliau pula yang telah membebaskan banyak budak-budak yang di siksa karena masuk Islam seperti Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubaisy. Zinnirah, Nahdiyyah رضي الله عنه dan kedua putrinya, serta budak wanita milik Bani Muammal(27) Beliaulah yang menemani Nabi di kala hijrah, dan turut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah saw. seperti Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah, Penaklukan kota Makkah, Hunain, Tabuk dan pertempuran besar lainnya. Setelah menjabat sebagai khalifah maka beliaulah yang berrugas dan bertanggung jawab terhadap seluruh negeri Islam dan wilayah kekhalifahannya sepeninggal Rasulullah saw. maka tercatat sejumlah reputasi beliau yang gemilang di antaranya,
1- Instruksinya agar jenazah Rasulullah saw., diurus hingga dikebumikan.
2- Melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah yang sebelum-nya telah dipersiapkan Rasulullah saw. sebelum wafat, sebagaimana kelak akan diterangkan secara rinci.
3- Kebijakannya menyatukan persepsi seluruh sahabat untuk memerangi kaum murtad dengan segala persiapan ke arah itu, kemudian instruksinya untuk memerangi seluruh kelompok yang murtad di wilayah masing-masing.
4- Memerintahkan untuk mengumpulkan teks Al-Qur’an
Ibnu Katsir berkata, "Pada tahun 12 H Abu Bakar ash-Shiddiq ra. memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengkumpulkan al-Qur'an dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun yang dihafal dalam dada kaum muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para Qari' penghafal al-Qur'an banyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitabShahih al-Bukhari(28). Imam al-Bukhari berkata(29), Bab Pengumpulan al-Qur'an kemudian dia mulai menyebutkan sanadnya hingga sampai kepada Ibnu Syihab dari Ubaid bin as- Sabbaq, bahwa Zaid bin Tsabit pernah berkata, "Abu Bakar ash-Shiddiq ra. mengirim kepadaku surat tentang orang-orang yang terbunuh diperang Yamamah, ketika aku mendatanginya, kudapati Umar bin al-Khaththab berada di sampingnya, maka Abu Bakar berkata, "Umar mendatangiku dan berkata, "Sesungguhnya banyak para Qurra' penghafal al-Qur'an yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari' yang masih hidüp kelak terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar dari ayat al-Qur'an, menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan al-Qur'an." Aku bertanya kepada Umar, "Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah saw.?" Umar menjawab, "Demi Allah, ini adalah kebaikan!" Dan Umar terus menuntutku hingga Allah melapangkan dadaku untuksegera melaksanakannya, akhirnya akupun setuju dengan pendapat Umar Zaid bin Tsabit berkata, "Kemudian Abu Bakar berkata padaku, "Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal dan penuh amanah, dan engkau telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah saw., maka carilah seluruh ayat al-Qur'an yang berserakan dan kumpulkanlah." Berkata Zaid, "Demi Allah jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung tentu-lah lebih ringan bagiku daripada melaksanakan instruksi Abu Bakar agar aku mengumpulkan al-Qur'an." Aku bertanya, "Bagaimana kalian melakukan sesuatu perbuatan yang tidak diperbuat oleh Rasulullah saw. Dia berkata, "Demi Allah ini adalah suatu kebaikan!" Dan Abu Bakar terus berusaha meyakinkan aku hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk menerimanya sebagaimana Allah melapangkan dada
mereka berdua Maka aku mulai mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur'an yang ditulis di daun-daunan, kulit maupun dari hafalan para penghafal al-Qur'an, hingga akhirnya aku menemukan akhir surat at-Taubah yang ada pada Abu Khuzaimah al-Anshari, yang tidak kudapatkan dari selainnya, yaitu ayat:
"Sesungguhmja telah datang kepndamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu." (At-Taubah: 128). Hingga akhir surat al-Bara'ah.
Kemudian al-Qur'an yang telah dikum-ulkan dan dibukukan itu disimpan oleh Abu Bakar hingga Allah mewafatkannya. Setelah itu berpindah ke tangán Umar رضي الله عنهsewaktu hidup-nya, dan akhirnya berpindah ketangán Hafshah binti Umar, Imam al-Bukhari berkata, Ibnu Syihab berkata, Telah berkata kepadaku Kharijah bin Zaid bin Tsabit, bahwasanya dia mendengar Zaid berkata, "Aku tidak mendapatkan satu ayat dari surat al-Ahzab ketika kami menulis al-Qur'an ke dalam satu mushaf, sementara aku pernah mendengarkan Rasulullah saw. membacanya, akhirnya ayat tersebut kami cari dan ternyata ayat tersebut ada pada Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari,
" Di antara orang-orang mu' min itu ada orang-orang yang menepati apa yang
mereka janjikan kepada Allah." (Al-Ahzab: 23).
Maka segera kami sisipkan ke tempatnya di dalam mushaf.
5- Pengiriman pasukan untuk menyebarkan Agama Allah kepada bangsa-bangsa yang bertetangga dengan kaum muslimin baik kepada penduduk Persia maupun penduduk Syam, dalam rangka merealisasikan firman Allah SWT
"Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari padamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa." (At-Taubah: 123).
Sebagaimana yang akan diterangkan secara rinci insya Allah di pasal keempat dan kelima.
bersambung.........
Biografi Abu bakar ash-Shiddiq (3)
3) Abu Bakar رضي الله عنه Adalah Sahabat Yang Paling Utama
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah رضي الله عنهdia berkata, "Kutanyakan pada ayahku siapa manusia yang paling baik setelah Rasulullah saw." Maka beliau menjawab, "Abu Bakar!" Kemudian kutanyakan lagi, "Siapa setelahnya?" Beliau menjawab, "Umar." Dan aku takut jika dia menyebut Utsman sesudahnya maka kukatakan, "Setelah itu pasti anda. Namun beliau menjawab, "Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin."
4) Kedudukan Abu Bakar رضي الله عنه di Sisi Rasulullah saw.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنه dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم. beliau bersabda, ”Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilih Abu bakar sebagai khalil namun dia adalah saudaraku dan sahabatku." Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Malikah ia berkata, "Penduduk Kufah bertanya kepada Abdullah bin az-Zubair perihal bagian warisan yang akan diperoleh seorang kakek, maka dia berkata, "Ikutilah pendapat Abu Bakar. Bukankah Rasulullah saw. pernah menyebutkan perihal dirinya, "Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilihnya." Abu Bakar mengatakan, "Samakan pembagian kakek dengan bagian bapak (Jika bapak tidak ada)."
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنه dari Nabi saw ” Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar.”
Dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im dari bapaknya dia berkata, "Pernah seorang wanita mendatangi Nabi, kemudian beliau menyuruh-nya kembali datang menghadapnya, maka wanita itu bertanya, "Bagaimana jika kelak aku datang namun tidak lagi menjumpaimu -seolah-olah ia meng-isyaratkan setelah rasul wafat- maka Rasulullah saw. berkata,"Jika engkau tidak menjumpaiku maka datangilah Abu Bakar."
Diriwayatkan dari Abu Darda رضي الله عنه"Aku sedang duduk bersama Nabi tiba-tiba muncullah Abu Bakar sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya, maka Nabi berkata, "'Sesungguhnya teman kalian ini sedang kesal maka berilah salam atasnya." Maka Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah saw., antara aku dan Ibnu al-Khaththab terjadi perselisihan, maka aku segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar mema-afkan aku namun dia enggan menerima permohonanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang." Rasulullah saw. menjawab, "Semoga Allah mengam-punimu wahai Abu Bakar." Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannyadan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, "Apakah di dalam ada Abu Bakar?" Namun keluarganya menjawab, tidak, Umar segera mendatangi Rasulullah saw. sementara wajah Rasulullah saw. terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan terhadap Umar dan memohon sambil duduk diatas kedua lututnya, "Wahai Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah -dua kali-," Maka Rasulullah saw. berkata, "Sesungguhnya aku telah diutus Allah kepada kalian namun kalian mengatakan, "Engkau pendusta!" Sementara Abu Bakar berkata, "Engkau benar " Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku ?" Setelah itu Abu Bakar tidak pernah lagi di sakiti."
5) Abu Bakar رضي الله عنه Paling Dulu Masuk Islam dan Selalu Mendampingi Rasulullah saw.
Diriwayatkan dari Wabirah bin Abdurrahman dari Hammam dia berkata, Aku mendengar Ammar berkata, "Aku melihat Rasulullah saw. pada waktu itu tidak ada yang mengikutinya kecuali lima orang budak, dua wanita dan Abu Bakar."
6) Orang yang Paling Dicintai Rasulullah saw.
Diriwayatkan dari Abu Utsman رضي الله عنه dia berkata, "Telah berkata kepadaku Amru bin al-Ash bahwa Rasulullah saw. pernah mengutusnya dalam peperangan Dzatus Salaasil, kemudian aku mendatanginya dan bertanya, "Siapakah orang yang paling kau cintai? Maka Rasulullah saw. menjawab, '"Aisyah!" Kemudian kutanyakan lagi, "Dari kalangan laki-laki?" Rasul صلى الله عليه وسلم menjawab, "Bapaknya." Kemudian kutanyakan lagi, "Siapa setelah itu?" Dia menjawab, "Umar!" Kemudian Rasulullah saw. menyebutkan beberapa orang lelaki".
7) Imán dan Keyakinannya yang Kuat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه dia berkata, "Aku pernah men-dengar Rasulullah saw. berkata, "Ketika seorang pengembala sedang menggembala kambingnya, tiba-tiba datang seekor serigala memangsa seekor kambingnya, maka spontan pengembala tersebut mengejarnya, tiba-tiba serigala itu berpaling menoleh kepadanya dan berkata, 'Siapa yang dapat menjaganya pada waktu dia akan dimangsa, yaitu hari tatkala tidak ada pengembala selain diriku Dan ketika seorang sedang menggiring sapinya yang membawa beban, maka seketika sapi itu menoleh padanya dan berkata, ' Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk tugas ini, tetapi aku diciptakan Allah untuk membajak.' Orang-orang berkata, 'Subhanallah!' Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, ' Sesungguhnya aku beriman kepada berita itu sebagaimana Abu Bakar dan Umar mengimaninya pula'."
Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar رضي الله عنه dia berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda," Barangsiapa menjulurkan pakaiannya (di bawah mata kaki) karena kesombongan maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."
Maka Abu bakar رضي الله عنه berkata, "Sesungguhnya salah satu sisi dari bajuku selalu melorot ke bawah, kecuali jika aku selalu mengetatkarmya, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang menjulurkan pakaiannya karena kesombongan."
8)Kemauannya yang Tinggi
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata," Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda," Barangsiapa menginfakkan sesuatu dari dua yang dimilikinya di jalan Allah niscaya akan diseru dari pintu-pintu surga, "Wahai Harnba Allah inilahke-baikan. Maka barangsiapa termasuk ahli shalat maka akan dipanggil dari pintu shalat, barang siapa termasuk golongan yang suka berjihad maka akan dipanggil dari pintu jihad dan barang siapa yang suka bersedekah maka akan dipanggil dari pintu sedekah, barang siapa yang suka berpuasa maka akan dipanggil dari pintu puasa dan dari pintu Ar Rayyan. Maka Abu Bakar berkata, ' Bagaimana jika seseorang harus dipanggil dari setiap pintu, dan apakah mungkin seseorang dipangil dari setiap pintu wahai Rasulullah saw.?' Rasulullah صلى الله عليه وسلم. menjawab, ' Ya, dan aku berharap agar engkau wahai Abu Bakar termasuk salah seorang dari mereka'."
9)Keberkahan Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه dan Keluarganya
Diriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنه dia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم. dalam sebuah perjalanan, ketika kami sampai di suatu tempat yang bernama al-Baida -atau di Dzatul Jaisy- terputuslah kalung yang kupakai, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم. menyuruh rombongan berhenti untuk mencarinya dan orang-orang pun berhenti bersama beliau, sementara mereka tidak menda-pati air dan tidak mempunyai air, maka orang-orang mendatangi Abu Bakar dan berkata, Tidakkah engkau melihat apa yang telah diperbuat oleh Aisyah? Dia telah membuat Rasulullah saw. berhenti dan manusia pun berhenti bersa-manya, sementara mereka tidak mendapatkan air dan tidak memilikinya.' Maka datanglah Abu Bakar ketika Rasulullah saw. berbaring meletakkan kepala-nya di atas pahaku sedang tertidur, Abu Bakar mendatangiku dan berkata, 'Engkau telah menahan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. dan manusia sementara mereka tidak memiliki air dan tidak pula mendapatkannya'." ‘Aisyah ra. berkata, "Maka ayahku mencelaku habis-habisan sambil menusuk-nusuk pinggangku dengan tangan-nya, tidak ada yang menghalangiku untuk bergerak kecuali takut Rasulullah saw. terganggu tidurnya,
sementara Rasululullah masih tetap tidur hingga pagi datang dan mereka tidak memiliki air, maka Allah turunkan waktu itu ayat mengenai tayammum,
'Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).'(An-Nisa': 43).
Usa'id bin Hudhair رضي الله عنه berkata, "Bukanlah ini awal dari keberkahan kalian wahai keluarga Abu Bakar." Maka ‘Aisyah رضي الله عنه. berkata, "Kemudian kami membangkitkan kendaraan tungganganku dan ternyata kalung tersebut berada di bawahnya."
bersambung.......
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah رضي الله عنهdia berkata, "Kutanyakan pada ayahku siapa manusia yang paling baik setelah Rasulullah saw." Maka beliau menjawab, "Abu Bakar!" Kemudian kutanyakan lagi, "Siapa setelahnya?" Beliau menjawab, "Umar." Dan aku takut jika dia menyebut Utsman sesudahnya maka kukatakan, "Setelah itu pasti anda. Namun beliau menjawab, "Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin."
4) Kedudukan Abu Bakar رضي الله عنه di Sisi Rasulullah saw.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنه dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم. beliau bersabda, ”Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilih Abu bakar sebagai khalil namun dia adalah saudaraku dan sahabatku." Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Malikah ia berkata, "Penduduk Kufah bertanya kepada Abdullah bin az-Zubair perihal bagian warisan yang akan diperoleh seorang kakek, maka dia berkata, "Ikutilah pendapat Abu Bakar. Bukankah Rasulullah saw. pernah menyebutkan perihal dirinya, "Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilihnya." Abu Bakar mengatakan, "Samakan pembagian kakek dengan bagian bapak (Jika bapak tidak ada)."
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنه dari Nabi saw ” Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar.”
Dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im dari bapaknya dia berkata, "Pernah seorang wanita mendatangi Nabi, kemudian beliau menyuruh-nya kembali datang menghadapnya, maka wanita itu bertanya, "Bagaimana jika kelak aku datang namun tidak lagi menjumpaimu -seolah-olah ia meng-isyaratkan setelah rasul wafat- maka Rasulullah saw. berkata,"Jika engkau tidak menjumpaiku maka datangilah Abu Bakar."
Diriwayatkan dari Abu Darda رضي الله عنه"Aku sedang duduk bersama Nabi tiba-tiba muncullah Abu Bakar sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya, maka Nabi berkata, "'Sesungguhnya teman kalian ini sedang kesal maka berilah salam atasnya." Maka Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah saw., antara aku dan Ibnu al-Khaththab terjadi perselisihan, maka aku segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar mema-afkan aku namun dia enggan menerima permohonanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang." Rasulullah saw. menjawab, "Semoga Allah mengam-punimu wahai Abu Bakar." Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannyadan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, "Apakah di dalam ada Abu Bakar?" Namun keluarganya menjawab, tidak, Umar segera mendatangi Rasulullah saw. sementara wajah Rasulullah saw. terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan terhadap Umar dan memohon sambil duduk diatas kedua lututnya, "Wahai Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah -dua kali-," Maka Rasulullah saw. berkata, "Sesungguhnya aku telah diutus Allah kepada kalian namun kalian mengatakan, "Engkau pendusta!" Sementara Abu Bakar berkata, "Engkau benar " Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku ?" Setelah itu Abu Bakar tidak pernah lagi di sakiti."
5) Abu Bakar رضي الله عنه Paling Dulu Masuk Islam dan Selalu Mendampingi Rasulullah saw.
Diriwayatkan dari Wabirah bin Abdurrahman dari Hammam dia berkata, Aku mendengar Ammar berkata, "Aku melihat Rasulullah saw. pada waktu itu tidak ada yang mengikutinya kecuali lima orang budak, dua wanita dan Abu Bakar."
6) Orang yang Paling Dicintai Rasulullah saw.
Diriwayatkan dari Abu Utsman رضي الله عنه dia berkata, "Telah berkata kepadaku Amru bin al-Ash bahwa Rasulullah saw. pernah mengutusnya dalam peperangan Dzatus Salaasil, kemudian aku mendatanginya dan bertanya, "Siapakah orang yang paling kau cintai? Maka Rasulullah saw. menjawab, '"Aisyah!" Kemudian kutanyakan lagi, "Dari kalangan laki-laki?" Rasul صلى الله عليه وسلم menjawab, "Bapaknya." Kemudian kutanyakan lagi, "Siapa setelah itu?" Dia menjawab, "Umar!" Kemudian Rasulullah saw. menyebutkan beberapa orang lelaki".
7) Imán dan Keyakinannya yang Kuat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه dia berkata, "Aku pernah men-dengar Rasulullah saw. berkata, "Ketika seorang pengembala sedang menggembala kambingnya, tiba-tiba datang seekor serigala memangsa seekor kambingnya, maka spontan pengembala tersebut mengejarnya, tiba-tiba serigala itu berpaling menoleh kepadanya dan berkata, 'Siapa yang dapat menjaganya pada waktu dia akan dimangsa, yaitu hari tatkala tidak ada pengembala selain diriku Dan ketika seorang sedang menggiring sapinya yang membawa beban, maka seketika sapi itu menoleh padanya dan berkata, ' Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk tugas ini, tetapi aku diciptakan Allah untuk membajak.' Orang-orang berkata, 'Subhanallah!' Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, ' Sesungguhnya aku beriman kepada berita itu sebagaimana Abu Bakar dan Umar mengimaninya pula'."
Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar رضي الله عنه dia berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda," Barangsiapa menjulurkan pakaiannya (di bawah mata kaki) karena kesombongan maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."
Maka Abu bakar رضي الله عنه berkata, "Sesungguhnya salah satu sisi dari bajuku selalu melorot ke bawah, kecuali jika aku selalu mengetatkarmya, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang menjulurkan pakaiannya karena kesombongan."
8)Kemauannya yang Tinggi
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata," Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda," Barangsiapa menginfakkan sesuatu dari dua yang dimilikinya di jalan Allah niscaya akan diseru dari pintu-pintu surga, "Wahai Harnba Allah inilahke-baikan. Maka barangsiapa termasuk ahli shalat maka akan dipanggil dari pintu shalat, barang siapa termasuk golongan yang suka berjihad maka akan dipanggil dari pintu jihad dan barang siapa yang suka bersedekah maka akan dipanggil dari pintu sedekah, barang siapa yang suka berpuasa maka akan dipanggil dari pintu puasa dan dari pintu Ar Rayyan. Maka Abu Bakar berkata, ' Bagaimana jika seseorang harus dipanggil dari setiap pintu, dan apakah mungkin seseorang dipangil dari setiap pintu wahai Rasulullah saw.?' Rasulullah صلى الله عليه وسلم. menjawab, ' Ya, dan aku berharap agar engkau wahai Abu Bakar termasuk salah seorang dari mereka'."
9)Keberkahan Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه dan Keluarganya
Diriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنه dia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم. dalam sebuah perjalanan, ketika kami sampai di suatu tempat yang bernama al-Baida -atau di Dzatul Jaisy- terputuslah kalung yang kupakai, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم. menyuruh rombongan berhenti untuk mencarinya dan orang-orang pun berhenti bersama beliau, sementara mereka tidak menda-pati air dan tidak mempunyai air, maka orang-orang mendatangi Abu Bakar dan berkata, Tidakkah engkau melihat apa yang telah diperbuat oleh Aisyah? Dia telah membuat Rasulullah saw. berhenti dan manusia pun berhenti bersa-manya, sementara mereka tidak mendapatkan air dan tidak memilikinya.' Maka datanglah Abu Bakar ketika Rasulullah saw. berbaring meletakkan kepala-nya di atas pahaku sedang tertidur, Abu Bakar mendatangiku dan berkata, 'Engkau telah menahan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. dan manusia sementara mereka tidak memiliki air dan tidak pula mendapatkannya'." ‘Aisyah ra. berkata, "Maka ayahku mencelaku habis-habisan sambil menusuk-nusuk pinggangku dengan tangan-nya, tidak ada yang menghalangiku untuk bergerak kecuali takut Rasulullah saw. terganggu tidurnya,
sementara Rasululullah masih tetap tidur hingga pagi datang dan mereka tidak memiliki air, maka Allah turunkan waktu itu ayat mengenai tayammum,
'Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).'(An-Nisa': 43).
Usa'id bin Hudhair رضي الله عنه berkata, "Bukanlah ini awal dari keberkahan kalian wahai keluarga Abu Bakar." Maka ‘Aisyah رضي الله عنه. berkata, "Kemudian kami membangkitkan kendaraan tungganganku dan ternyata kalung tersebut berada di bawahnya."
bersambung.......
Biografi Abu bakar ash-Shiddiq (2)
V. BEBERAPA CONTOH KETELADANAN DAN KEUTAMAANNYA
Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه sangat banyak sekali dan telah dimuat dalam kitab-kitab sunnah, kitab tarajim (biografi para tokoh), maupun kitab-kitab tarikh, namun saya akan berusaha meringkas sesuai dengan yang telah disebutkan al-Hafizh Abdullah al-Bukhari dalam shahihnya yang termuat dalam Kitab Fadha'il Shahabat.(25)
1) Beliau Adalah Sahabat Rasulullah saw. di Gua Dan Ketika Hijrah
Allah berfirman,
"Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluar-kannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika ke-duanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, 'Janganlah berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita”. (At-Taubah: 40)
Aisyah, Abu Said dan Ibnu Abbas رضي الله عنه dalam menafsirkan ayat ini mengatakan “ Abu Bakarlah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”
Diriwayatkan dari al-Barra' bin 'Azib رضي الله عنه, ia berkata, "Suatu ketika Abu Bakar pernah membeli seekor tunggangan dari Azib dengan harga 10 Dirham, maka Abu Bakar berkata kepada 'Azib, Suruhlah anakmu si Barra agar mengantarkan hewan tersebut." Maka 'Azib berkata, "Tidak, hingga engkau menceritakan kepada kami bagaimana kisah perjalananmu bersama Rasulullah saw. ketika keluar dari Makkah sementara orang-orang musyrikin sibuk mencari-cari kalian." Abu Bakar berkata, "Kami berangkat dari Makkah, berjalan sepanjang siang dan malam hingga datang waktu zuhur, maka aku mencari-cari tempat bernaung agar kami dapat istirahat di bawahnya, ternyata aku melihat ada batu besar, maka segera kudatangi dan terlihat di situ ada naungannya, maka kubentangkan tikar untuk Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian kukatakan padanya, "Istirahat-lah wahai Nabi Allah." Maka beliaupun beristirahat, sementara aku memantau daerah sekitarku, apakah ada orang-orang yang mencari kami datang mengin-tai. Tiba-tiba aku melihat ada seorang pengembala kambing sedang menggiring kambingnya ke arah teduhan di bawah batu tersebut ingin berteduh seperti kami, maka aku bertanya padanya, "Siapa tuannmu wahai budak?" Dia menja-wab, "Budak milik si fulan, seseorang dari suku Quraisy." Dia menyebut nama tuannya dan aku mengenalnya, kemudian kutanyakan, "Apakah kambingmu memiliki susu?" Dia menjawab, "Ya!" lantas kukatakan, "Maukah engkau memeras untuk kami?" Dia menjawab, "Ya!" Maka dia mengambil salah satu dari kambing-kambing tersebut, setelah itu kuperintahkan dia agar member-sihkan susu kambing tersebut terlebih dahulu dari kotoran dan debu, kemudian kuperintahkan agar menghembus telapak tangannya dari debu, maka dia menepukkan kedua telapak tanggannya dan dia mulai memeras susu, sementara aku telah mempersiapkan wadah yang di mulutnya dibalut kain menampung susu tersebut, maka segera kutuangkan susu yang telah diperas itu ke dalam tempat tersebut dan kutunggu hingga bawahnya dingin, lalu kubawakan kehadapan Nabi saw. dan ternyata beliau sudah bangun, segera kukatakan padanya, "Minumlah wahai Rasulullah saw.." Maka beliau mulai minum hingga kulihat beliau telah kenyang, setelah itu kukatakan padanya, "Bukan-kah kita akan segera berjalan kembali ya Rasulullah saw.?" Beliau menjawab, "Ya!" Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sementara orang-orang musyrik terus menerus mencari kami, tidak satupun yang dapat menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju'syam yang mengendarai kudanya, maka kukatakan pada Rasulullullah, "Orang ini telah berhasil mengejar kita wahai Rasulullah saw.," namun beliau menjawab,"Jangan khawatir, sesungguhnya Allah beserta kita."
Diriwayatkan dari Anas dari Abu Bakar beliau berkata, "Kukatakan kepada Nabi saw ketika kami berada dalam gua, 'Andai saja mereka (orang-orang Musyrik) melihat ke bawah kaki mereka pastilah kita akan terlihat.' Rasul menjawab,"Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia sementara Allah menjadi yang ketiga."
2) Abu Bakar رضي الله عنه Adalah Sahabat yang Paling Banyak Ilmunya
Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه berkata, "Suatu ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkhutbah dihadapan manusia dan berkata,"Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa-apa yang ada di sisiNya, namun ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada disisi Allah." Abu Sa'id رضي الله عنه berkata, "Maka Abu Bakar menangis, kami heran kenapa beliau menangis padahal Rasulullah saw. hanyalah menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan, akhirnya kami ketahui bahwa hamba tersebut ternyata tidak lain adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. sendiri, dan Abu Bakarlah yang paling mengerti serta berilmu di antara kami. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم. bersabda,"Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja
aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar رضي الله عنه, namun cukuplah persaudaraan se-lslam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja."
Diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنه istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم. ia berkata, "Ketika Rasulullah saw. wafat Abu Bakar sedang berada di suatu tempat yang bernama Sunuh- Ismail berkata, "Yaitu sebuah kampung, maka Umar berdiri dan berpidato, "Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw. tidak meninggal. ‘Aisyah ra. melanjutkan, Kemudian Umar رضي الله عنه berkata, "Demi Allah tidak terdapat dalam hatiku melainkan perasaan bahwa beliau belum mati, Allah pasti akari membangkitkannya dan akan dipotong kaki dan tangán mereka (yang menga-takan beliau telah mati, pent.). Kemudian datanglah Abu Bakar رضي الله عنه menyingkap kain yang menutup wajah Rasulullah saw. serta menciumnya sambil berkata, Kutebus dirimu dengan ibu dan bapakku, alangkah harum dan eloknya engkau saat hidup dan sesudah mati, demi Allah yang diriku berada di-tanganNya mustahil Allah akan menimpakan padamu dua kali kematian selama-lamanya."
Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata, "Wahai orang yang telah bersumpah, (yakni Umar) tahanlah bicaramu!" Ketika Abu Bakar mulai berbicara maka Umar duduk, setelah memuji Allah beliau berkata, "Ingatlah sesungguhnya siapa saja yang menyembah Muhammad صلى الله عليه وسلم maka beliau se-karang telah wafat,
dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesung guhnya Allah akan tetap hidup tidak pernah mati. Kemudian beliau memba-cakan ayat,
"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Az-Zumar: 30).
Dan ayat,
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali-Imran: 144).
Ismail رضي الله عنه berkata, "Maka manusia mulai menangis terisak-isak, kemudian kaum Anshar segera berkumpul bersama Sa'ad bin Ubadah di Saqifah Bani Sa'idah dan mereka berpendapat, "Dari kami seorang amir (pemimpin) dan dari kalian (muhajirin) juga seorang amir." Maka segera Abu Bakar, Umar bin al-Khaththabdan Abu Ubaidah bin al-Jarrah berangkat mendatangi majlis mereka, Umar berbicara tetapi Abu Bakar menyuruhnya untuk diam, Umar berkata, "Demi Allah sebenarnya aku tidak ingin berbicara melainkan aku telah persiapkan kata-kata yang kuanggap sangat baik yang kutakutkan tidak akan disampaikan oleh Abu Bakar." Kemudian Abu Bakar bepidato dan perkataarnnya sungguh mengena, beliau berkata, "Kami yang menjadi amir dan kalian menjadi wazir." Maka Hubab bin Munzir berkata, "Tidak Demi Allah kami tidak akan terima, tetapi dari kami seorang amir dan dari kalian seorang amir pula." Abu Bakar menja-wab, "Tidak, tetapi kamilah yang menjabat sebagai amir dan kalian menjadi wazir, karena sesungguhnya mereka (Quraisy) yang paling mulia kedu-dukannya di bangsa Arab dan yang paling tinggi nasabnya, maka silahkan kalian membai'at Umar ataupun Abu Ubaidah." Maka spontan Umar menja-wab, "Tetapi engkaulah yang lebih pantas kami bai'at engkaulah pemimpin kami, orang yang paling baik di antara kami dan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah saw. daripada kami." Maka Umar segera meraih tangán Abu Bakar dan membai'atnya akhirnya orang-orangpun turut membaiatnya pula.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنه ia berkata, "Pandangan Nabi menengadah keatas dan berkata, "Tetapi Yang kupilih adalah Ar-Rafiqul A'la (kekasih Allah Yang Mahatinggi) 3X. ‘Aisyah ra. melanjutkan, "Tidaklah perkataan mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) kecuali Allah jadikan bermanfaat untuk manusia, profile Umar yang tegas berhasil membuat orang munafik yang menyusup di antara kaum muslimin sangat takut padanya, dengan kepriba-diannya Allah menolak kemunafikan. Adapun Abu Bakar, beliau berhasil menggiring manusia hingga mendapatkan petunjuk kepada kebenaran dan mengetahui kewajiban mereka, Abu Bakar berhasil mengeluarkan umat dari bencana perpecahan setelah meninggalnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم. setelah membacakan ayat,
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran :144).
bersambung.......
Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه sangat banyak sekali dan telah dimuat dalam kitab-kitab sunnah, kitab tarajim (biografi para tokoh), maupun kitab-kitab tarikh, namun saya akan berusaha meringkas sesuai dengan yang telah disebutkan al-Hafizh Abdullah al-Bukhari dalam shahihnya yang termuat dalam Kitab Fadha'il Shahabat.(25)
1) Beliau Adalah Sahabat Rasulullah saw. di Gua Dan Ketika Hijrah
Allah berfirman,
"Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluar-kannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika ke-duanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, 'Janganlah berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita”. (At-Taubah: 40)
Aisyah, Abu Said dan Ibnu Abbas رضي الله عنه dalam menafsirkan ayat ini mengatakan “ Abu Bakarlah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”
Diriwayatkan dari al-Barra' bin 'Azib رضي الله عنه, ia berkata, "Suatu ketika Abu Bakar pernah membeli seekor tunggangan dari Azib dengan harga 10 Dirham, maka Abu Bakar berkata kepada 'Azib, Suruhlah anakmu si Barra agar mengantarkan hewan tersebut." Maka 'Azib berkata, "Tidak, hingga engkau menceritakan kepada kami bagaimana kisah perjalananmu bersama Rasulullah saw. ketika keluar dari Makkah sementara orang-orang musyrikin sibuk mencari-cari kalian." Abu Bakar berkata, "Kami berangkat dari Makkah, berjalan sepanjang siang dan malam hingga datang waktu zuhur, maka aku mencari-cari tempat bernaung agar kami dapat istirahat di bawahnya, ternyata aku melihat ada batu besar, maka segera kudatangi dan terlihat di situ ada naungannya, maka kubentangkan tikar untuk Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian kukatakan padanya, "Istirahat-lah wahai Nabi Allah." Maka beliaupun beristirahat, sementara aku memantau daerah sekitarku, apakah ada orang-orang yang mencari kami datang mengin-tai. Tiba-tiba aku melihat ada seorang pengembala kambing sedang menggiring kambingnya ke arah teduhan di bawah batu tersebut ingin berteduh seperti kami, maka aku bertanya padanya, "Siapa tuannmu wahai budak?" Dia menja-wab, "Budak milik si fulan, seseorang dari suku Quraisy." Dia menyebut nama tuannya dan aku mengenalnya, kemudian kutanyakan, "Apakah kambingmu memiliki susu?" Dia menjawab, "Ya!" lantas kukatakan, "Maukah engkau memeras untuk kami?" Dia menjawab, "Ya!" Maka dia mengambil salah satu dari kambing-kambing tersebut, setelah itu kuperintahkan dia agar member-sihkan susu kambing tersebut terlebih dahulu dari kotoran dan debu, kemudian kuperintahkan agar menghembus telapak tangannya dari debu, maka dia menepukkan kedua telapak tanggannya dan dia mulai memeras susu, sementara aku telah mempersiapkan wadah yang di mulutnya dibalut kain menampung susu tersebut, maka segera kutuangkan susu yang telah diperas itu ke dalam tempat tersebut dan kutunggu hingga bawahnya dingin, lalu kubawakan kehadapan Nabi saw. dan ternyata beliau sudah bangun, segera kukatakan padanya, "Minumlah wahai Rasulullah saw.." Maka beliau mulai minum hingga kulihat beliau telah kenyang, setelah itu kukatakan padanya, "Bukan-kah kita akan segera berjalan kembali ya Rasulullah saw.?" Beliau menjawab, "Ya!" Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sementara orang-orang musyrik terus menerus mencari kami, tidak satupun yang dapat menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju'syam yang mengendarai kudanya, maka kukatakan pada Rasulullullah, "Orang ini telah berhasil mengejar kita wahai Rasulullah saw.," namun beliau menjawab,"Jangan khawatir, sesungguhnya Allah beserta kita."
Diriwayatkan dari Anas dari Abu Bakar beliau berkata, "Kukatakan kepada Nabi saw ketika kami berada dalam gua, 'Andai saja mereka (orang-orang Musyrik) melihat ke bawah kaki mereka pastilah kita akan terlihat.' Rasul menjawab,"Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia sementara Allah menjadi yang ketiga."
2) Abu Bakar رضي الله عنه Adalah Sahabat yang Paling Banyak Ilmunya
Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه berkata, "Suatu ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkhutbah dihadapan manusia dan berkata,"Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa-apa yang ada di sisiNya, namun ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada disisi Allah." Abu Sa'id رضي الله عنه berkata, "Maka Abu Bakar menangis, kami heran kenapa beliau menangis padahal Rasulullah saw. hanyalah menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan, akhirnya kami ketahui bahwa hamba tersebut ternyata tidak lain adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. sendiri, dan Abu Bakarlah yang paling mengerti serta berilmu di antara kami. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم. bersabda,"Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja
aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar رضي الله عنه, namun cukuplah persaudaraan se-lslam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja."
Diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنه istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم. ia berkata, "Ketika Rasulullah saw. wafat Abu Bakar sedang berada di suatu tempat yang bernama Sunuh- Ismail berkata, "Yaitu sebuah kampung, maka Umar berdiri dan berpidato, "Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw. tidak meninggal. ‘Aisyah ra. melanjutkan, Kemudian Umar رضي الله عنه berkata, "Demi Allah tidak terdapat dalam hatiku melainkan perasaan bahwa beliau belum mati, Allah pasti akari membangkitkannya dan akan dipotong kaki dan tangán mereka (yang menga-takan beliau telah mati, pent.). Kemudian datanglah Abu Bakar رضي الله عنه menyingkap kain yang menutup wajah Rasulullah saw. serta menciumnya sambil berkata, Kutebus dirimu dengan ibu dan bapakku, alangkah harum dan eloknya engkau saat hidup dan sesudah mati, demi Allah yang diriku berada di-tanganNya mustahil Allah akan menimpakan padamu dua kali kematian selama-lamanya."
Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata, "Wahai orang yang telah bersumpah, (yakni Umar) tahanlah bicaramu!" Ketika Abu Bakar mulai berbicara maka Umar duduk, setelah memuji Allah beliau berkata, "Ingatlah sesungguhnya siapa saja yang menyembah Muhammad صلى الله عليه وسلم maka beliau se-karang telah wafat,
dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesung guhnya Allah akan tetap hidup tidak pernah mati. Kemudian beliau memba-cakan ayat,
"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Az-Zumar: 30).
Dan ayat,
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali-Imran: 144).
Ismail رضي الله عنه berkata, "Maka manusia mulai menangis terisak-isak, kemudian kaum Anshar segera berkumpul bersama Sa'ad bin Ubadah di Saqifah Bani Sa'idah dan mereka berpendapat, "Dari kami seorang amir (pemimpin) dan dari kalian (muhajirin) juga seorang amir." Maka segera Abu Bakar, Umar bin al-Khaththabdan Abu Ubaidah bin al-Jarrah berangkat mendatangi majlis mereka, Umar berbicara tetapi Abu Bakar menyuruhnya untuk diam, Umar berkata, "Demi Allah sebenarnya aku tidak ingin berbicara melainkan aku telah persiapkan kata-kata yang kuanggap sangat baik yang kutakutkan tidak akan disampaikan oleh Abu Bakar." Kemudian Abu Bakar bepidato dan perkataarnnya sungguh mengena, beliau berkata, "Kami yang menjadi amir dan kalian menjadi wazir." Maka Hubab bin Munzir berkata, "Tidak Demi Allah kami tidak akan terima, tetapi dari kami seorang amir dan dari kalian seorang amir pula." Abu Bakar menja-wab, "Tidak, tetapi kamilah yang menjabat sebagai amir dan kalian menjadi wazir, karena sesungguhnya mereka (Quraisy) yang paling mulia kedu-dukannya di bangsa Arab dan yang paling tinggi nasabnya, maka silahkan kalian membai'at Umar ataupun Abu Ubaidah." Maka spontan Umar menja-wab, "Tetapi engkaulah yang lebih pantas kami bai'at engkaulah pemimpin kami, orang yang paling baik di antara kami dan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah saw. daripada kami." Maka Umar segera meraih tangán Abu Bakar dan membai'atnya akhirnya orang-orangpun turut membaiatnya pula.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنه ia berkata, "Pandangan Nabi menengadah keatas dan berkata, "Tetapi Yang kupilih adalah Ar-Rafiqul A'la (kekasih Allah Yang Mahatinggi) 3X. ‘Aisyah ra. melanjutkan, "Tidaklah perkataan mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) kecuali Allah jadikan bermanfaat untuk manusia, profile Umar yang tegas berhasil membuat orang munafik yang menyusup di antara kaum muslimin sangat takut padanya, dengan kepriba-diannya Allah menolak kemunafikan. Adapun Abu Bakar, beliau berhasil menggiring manusia hingga mendapatkan petunjuk kepada kebenaran dan mengetahui kewajiban mereka, Abu Bakar berhasil mengeluarkan umat dari bencana perpecahan setelah meninggalnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم. setelah membacakan ayat,
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran :144).
bersambung.......
Biografi Abu bakar ash-Shiddiq 1
I. NASABNYA.
Nama Abu bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه sebenarnya adalah Abdullah bin Usman bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai bin Ghalib bin Fihr(17) al-Qurasy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi صلى الله عليه وسلم pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai.
Dan ibunya adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim.(18 ) Berarti ayah dan ibunya berasal dari kabilah Bani Taim.
Ayahnya diberi kuniyah (sebutan panggilan) Abu Quhafah. Dan pada masa jahiliyyah Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه digelari Atiq. Imam Thabari menye-butkan(19) dari jalur Ibnu Luhai'ah bahwa anak-anak dari Abu Quhafah tiga orang, pertama Atiq (Abu Bakar), kedua Mu'taq dan ketiga Utaiq.
II. KARAKTER FISIK DAN AKHLAKNYA,
Abu Bakar رضي الله عنه adalah seorang yang bertubuh kurus, berkulit putih.(20) ' Aisyah رضي الله عنه menerangkan karakter bapaknya, "Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggang (sehingga kainnya seialu turun dari pinggangnya), wajahnya seialu berkeringat, hitam matanya, berkening lebar, tidak bisa bersaja’ dan seialu mewarnai jenggotnya dengan memakai hinai maupun katam."(21) Begitulah karakter fisik beliau. Adapun akhlaknya, beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, seialu memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar memiliki azimah (keinginan keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakkal kepada Allah dan yakin dengan segala janjiNya, bersifat wara' dan jauh dari segala syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi Allah, serta lembut dan ramah, semoga Allah meridhainya. Akan diterang-kan kelak secara rinci hal-hal yang membuktikan sifat-sifat dan akhlaknya yang mulia ini.
III. KEISLAMANNYA
Abu Bakar رضي الله عنه adalah lelaki yang pertama kali memeluk Islam, walaupun Khadijah رضي الله عنه lebih dahulu masuk Islam daripadanya, adapun dari golongan anak-anak, Ali yang pertama kali memeluk Islam, sementara Zaid bin Haritsah رضي الله عنه adalah yang pertama kali memeluk Islam dari golongan budak. Ternyata keislaman Abu Bakar ra. paling banyak membawa manfaat besar terhadap Islam dan kaum muslimin dibandingkan dengan keislaman selainnya, karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta kesungguhan-nya dalam berdakwah.(22 ) Dengan keislamannya maka masuk mengikutinya tokoh-tokoh besar yang masyhur sepérti Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Talhah bin Ubaidil-lah رضي الله عنه Di awal keislamannya beliau menginfakkan di jalan Allah apa yang dimilikinya sebanyak 40.000 dirham, beliau banyak memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keislamannya di jalan Allah, seperti Bilal رضي الله عنه. Beliau selalu mengiringi Rasulullah صلى الله عليه وسلم selama di Makkah, bahkan dialah yang mengiringi beliau ketika bersembunyi dalam gua dan dalam perjalanan hij-rah hingga sampai di kota Madinah. Di samping itu beliau mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota Makkah, Hunain maupun peperangan di Tabuk.
IV. ISTRI-ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA(23)
Abu Bakar رضي الله عنه pernah menikahi Qutailah binti Abd al-Uzza bin Abd bin As'ad pada masa Jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma'. Beliau juga menikahi Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin Dahman dari Kinanah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan ‘Aisyah ra. Beliau juga menikahi Asma' binti Umais bin Ma'add bin Taim al-Khats'amiyyah, dan sebelumnya Asma' diperisteri oleh Ja'far bin Abi Thalib رضي الله عنه. Dari hasil pernikahan ini lahirlah Muhammad bin Abu Bakar رضي الله عنه, dan kelahiran tersebut terjadi pada waktu haji Wada' di Dzul Hulaifah. Beliau juga menikahi Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair رضي الله عنه dari Bani al-Haris bin al-Khazraj. Abu bakar رضي الله عنه pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau datang ke Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih terus berdiam dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh(24)hingga Rasulullah saw. wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah صلى الله عليه وسلم Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Kaltsum setelah wafatnya Rasulullah saw.
bersambung.....
Nama Abu bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه sebenarnya adalah Abdullah bin Usman bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai bin Ghalib bin Fihr(17) al-Qurasy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi صلى الله عليه وسلم pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai.
Dan ibunya adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim.(18 ) Berarti ayah dan ibunya berasal dari kabilah Bani Taim.
Ayahnya diberi kuniyah (sebutan panggilan) Abu Quhafah. Dan pada masa jahiliyyah Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه digelari Atiq. Imam Thabari menye-butkan(19) dari jalur Ibnu Luhai'ah bahwa anak-anak dari Abu Quhafah tiga orang, pertama Atiq (Abu Bakar), kedua Mu'taq dan ketiga Utaiq.
II. KARAKTER FISIK DAN AKHLAKNYA,
Abu Bakar رضي الله عنه adalah seorang yang bertubuh kurus, berkulit putih.(20) ' Aisyah رضي الله عنه menerangkan karakter bapaknya, "Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggang (sehingga kainnya seialu turun dari pinggangnya), wajahnya seialu berkeringat, hitam matanya, berkening lebar, tidak bisa bersaja’ dan seialu mewarnai jenggotnya dengan memakai hinai maupun katam."(21) Begitulah karakter fisik beliau. Adapun akhlaknya, beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, seialu memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar memiliki azimah (keinginan keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakkal kepada Allah dan yakin dengan segala janjiNya, bersifat wara' dan jauh dari segala syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi Allah, serta lembut dan ramah, semoga Allah meridhainya. Akan diterang-kan kelak secara rinci hal-hal yang membuktikan sifat-sifat dan akhlaknya yang mulia ini.
III. KEISLAMANNYA
Abu Bakar رضي الله عنه adalah lelaki yang pertama kali memeluk Islam, walaupun Khadijah رضي الله عنه lebih dahulu masuk Islam daripadanya, adapun dari golongan anak-anak, Ali yang pertama kali memeluk Islam, sementara Zaid bin Haritsah رضي الله عنه adalah yang pertama kali memeluk Islam dari golongan budak. Ternyata keislaman Abu Bakar ra. paling banyak membawa manfaat besar terhadap Islam dan kaum muslimin dibandingkan dengan keislaman selainnya, karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta kesungguhan-nya dalam berdakwah.(22 ) Dengan keislamannya maka masuk mengikutinya tokoh-tokoh besar yang masyhur sepérti Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Talhah bin Ubaidil-lah رضي الله عنه Di awal keislamannya beliau menginfakkan di jalan Allah apa yang dimilikinya sebanyak 40.000 dirham, beliau banyak memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keislamannya di jalan Allah, seperti Bilal رضي الله عنه. Beliau selalu mengiringi Rasulullah صلى الله عليه وسلم selama di Makkah, bahkan dialah yang mengiringi beliau ketika bersembunyi dalam gua dan dalam perjalanan hij-rah hingga sampai di kota Madinah. Di samping itu beliau mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota Makkah, Hunain maupun peperangan di Tabuk.
IV. ISTRI-ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA(23)
Abu Bakar رضي الله عنه pernah menikahi Qutailah binti Abd al-Uzza bin Abd bin As'ad pada masa Jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma'. Beliau juga menikahi Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin Dahman dari Kinanah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan ‘Aisyah ra. Beliau juga menikahi Asma' binti Umais bin Ma'add bin Taim al-Khats'amiyyah, dan sebelumnya Asma' diperisteri oleh Ja'far bin Abi Thalib رضي الله عنه. Dari hasil pernikahan ini lahirlah Muhammad bin Abu Bakar رضي الله عنه, dan kelahiran tersebut terjadi pada waktu haji Wada' di Dzul Hulaifah. Beliau juga menikahi Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair رضي الله عنه dari Bani al-Haris bin al-Khazraj. Abu bakar رضي الله عنه pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau datang ke Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih terus berdiam dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh(24)hingga Rasulullah saw. wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah صلى الله عليه وسلم Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Kaltsum setelah wafatnya Rasulullah saw.
bersambung.....
Sejarah tentang Valentine
Ada berbagai versi tentang asal muasal Valentin’s Day ini. Beberapa ahli mengatakan bahwa ia berasal dari seorang yang bernama Saint (Santo) Valentine, seorang yang dianggap suci oleh kalangan Kristen, yang menjadi martir karena menolak untuk meninggalkan agama Kristiani. Dia meninggal pada tanggal 14 Februari 269 M., pada hari yang sama saat dia mengungkapkan ucapan cinta. Dalam legenda yang lain disebutkan bahwa Saint Valentine meninggalkan satu catatan selamat tinggal kepada seorang gadis anak sipir penjara yang menjadi temannya. Dalam catatan itu dia menuliskan tanda tangan yang berbunyi From Your Valentine. Ada pula yang menyebutkan bahwa bunyi pesan akhir itu adalah Love From Your Valentine.
Cerita lain menyebutkan bahwa Valentine mengabdikan dirinya sebagai pendeta pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Claudius kemudian memenjarakannya karena dia menentang Kaisar. Penentangan ini bermula pada saat Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara. Namun, banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide “gila”. Dia berpikiran bahwa jika laki-laki tidak kawin, mereka akan bergabung menjadi tentara. Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengizinkan laki-laki kawin.
Kalangan remaja menganggap bahwa ini adalah hukum biadab. Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai seorang pendeta, dia bertugas menikahkan lelaki dan perempuan. Bahkan, setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar, dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia dan ini sungguh sangat mengasyikkan. Bayangkan, dalam sebuah kamar hanya ada sinar lilin dan ada pengantin putra dan putri serta Valentine sendiri. Peristiwa perkawinan diam-diam inilah yang menyeret dirinya ke dalam penjara dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.
Walaupun demikian, dia selalu bersikap ceria sehingga membuat beberapa orang datang menemuinya di dalam penjara. Mereka menaburkan bunga dan catatan-catatan kecil di jendela penjara. Mereka ingin dia tahu bahwa mereka juga percaya tentang cinta dirinya. Salah satu pengunjung tersebut adalah seorang gadis anak sipir penjara. Dia mengobrol dengannya berjam-jam. Di saat menjelang kematiannya dia menuliskan catatan kecil: Love from your Valentine. Dan pada tahun 496 Paus Gelasius menyeting 14 Februari sebagai tanggal penghormatan untuk Saint Valentine. Akhirnya secara gradual 14 Februari menjadi tanggal saling menukar pesan kasih, dan Saint Valentine menjadi patron dari para penabur kasih. Tanggal ini ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah, seperti bunga dan gula-gula. Bahkan, sering pula ditandai dengan adanya kumpul-kumpul atau pesta dansa.
Dari paparan di atas kita tahu bahwa kisah cinta Valentine ini merupakan kisah cinta milik kalangan Kristen dan sama sekali tidak memiliki benang merah budaya dan peradaban dengan Islam. Namun, mengapa remaja-remaja Muslim ikut larut dan merayakannya? Ada beberapa jawaban yang bisa kita berikan terhadap pertanyaan tersebut. Pertama, kalangan remaja Muslim tidak tahu latar belakang sejarah Valentine’s Day, sehingga mereka tidak merasa risih untuk mengikutinya. Dengan kata lain, remaja Muslim banyak yang memiliki kesadaran sejarah yang rendah. Kedua, adanya anggapan bahwa Valentine’s Day sama sekali tidak memiliki muatan agama dan hanya bersifat budaya global yang mau tidak mau harus diserap oleh siapa saja. Ketiga, keroposnya benteng pertahanan relijius remaja Muslim sehingga tidak mampu lagi menyaring budaya dan peradaban yang seharusnya mereka “lawan” dengan keras. Keempat, adanya perasaan loss of identity kalangan remaja Muslim sehingga mereka mencari identitas lain sebagai pemuas keinginan mendapat identitas global. Kelima, hanya mengikuti tren yang sedang berkembang agar tidak disebut ketinggalan zaman. Keenam, adanya pergaulan bebas yang kian tak terbendung dan terjadinya de-sakralisasi seks yang semakin ganas. Mungkin masih ada deretan jawaban lain yang bisa diberikan terhadapa pertanyaan di atas.
Islam, Valentine’s Day, dan Cinta
Bisa kita lihat pada bahasan di atas bahwa Valentine’s Day merupakan peringatan “cinta kasih” yang diformalkan untuk mengenang sebuah peristiwa kematian seorang pendeta yang mati dalam sebuah penjara. Yang kemudian diabadikan oleh gereja lewat tangan Paus Gelasius. Maka, merupakan sebuah kurang cerdas jika kaum Muslim dan secara khusus kalangan remajanya ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan historis, emosioal, dan religius dengan mereka. Keikutsertaan remaja Muslim dalam “hura-hura” ini merupakan refleksi sebuah kekalahan dalam sebuah pertarungan mempertahankan identitas dirinya. Mungkin ada sebagian remaja yang akan bertanya: Kenapa memperingati sebuah tragedi cinta itu tidak boleh dilakukan? Apakah Islam melarang cinta kasih? Bukankah Islam menganjurkan pemeluknya kasih kepada sesama?
Tak ada yang menyangkal bahwa Islam tidak melarang cinta kasih. Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta kepada sesama. Dalam Islam cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus, dan sakral. Islam sama sekali tidak phobi terhadap cinta. Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun demikian, Islam tidak menjadikan cinta sebagai komoditas yang rendah dan murahan. Cinta yang merupakan perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihanya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih sayang dalam Islam dibagi menjadi tiga tingkatan yang kita tangkap dari ayat Al-Quran. “Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kerabat-kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerusakannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu senangi lebih kau cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24).
Dalam ayat ini menjadi jelas kepada kita semua bahwa cinta yang utama adalah cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya. Inilah yang disebut dengan cinta hakiki. Cinta hakiki akan melahirkan pelita. Cinta hakiki yang dilahrikan iman akan senantiasa memberikan kenikmatan-kenikmatan nurani. Cinta hakiki akan melahirkan jiwa rela berkorban dan mampu menundukkan hawa nafsu dan syahwat birahi. Cinta akan menjadi berbinar tatkala orang yang memilikinya mampu menaklukkan segala gejolak dunia. Cinta Ilahi akan menuntun manusia untuk hidup berarti.
Islam memandang cinta kasih itu sebagai rahmat. Maka, seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri (HR Muslim). “Perumpamaan kasih sayang dan kelembutan seorang mukmin adalah laksana kesatuan tubuh; jika salah satu anggota tubuh terasa sakit, maka akan merasakan pula tubuh yang lainnya: tidak bisa tidur dan demam.” (Bukhari dan Muslim). Seorang Mukmin memiliki ikatan keimanan sehingga mereka menjadi laksana saudara (Al-Hujarat: 13), dan cinta yang meluap sering kali menjadikan seorang Mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (Al-Hasyr: 9).
Di mata Islam mencintai dan dicintai itu adalah “risalah” suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada setiap pemeluknya. Makanya Islam menghalalkan perkawinan. Islam tidak menganut “selibasi” yang mengebiri fitrah manusia, seperti yang terjadi dalam ajaran Kristen dan Hindu serta Budha yang menganut sistem sosial yang dikenal dengan kependetaan. Sebab, memang tidak ada rahbaniyah dalam Islam.
Valentine’s Day yang merupakan ungkapan kasih yang bukan bagian dari agama kita, juga saat ini dirayakan dengan menonjolkan aksi-aksi permisif, dengan lampu remang, dan lilin-lilin temaram. Meniru perilaku agama lain dan sekaligus melegalkan pergaulan bebas inilah yang tidak dibenarkan dalam pandangan Islam.
By: Ustad Jefri Al Bukhori
• Merayakan Valentine Sama Artinya Meniru-niru Orang Kafir
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269).
• Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” [QS. Al-Furqaan (25) : 72]
Semoga Bermanfaat.
Cerita lain menyebutkan bahwa Valentine mengabdikan dirinya sebagai pendeta pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Claudius kemudian memenjarakannya karena dia menentang Kaisar. Penentangan ini bermula pada saat Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara. Namun, banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide “gila”. Dia berpikiran bahwa jika laki-laki tidak kawin, mereka akan bergabung menjadi tentara. Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengizinkan laki-laki kawin.
Kalangan remaja menganggap bahwa ini adalah hukum biadab. Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai seorang pendeta, dia bertugas menikahkan lelaki dan perempuan. Bahkan, setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar, dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia dan ini sungguh sangat mengasyikkan. Bayangkan, dalam sebuah kamar hanya ada sinar lilin dan ada pengantin putra dan putri serta Valentine sendiri. Peristiwa perkawinan diam-diam inilah yang menyeret dirinya ke dalam penjara dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.
Walaupun demikian, dia selalu bersikap ceria sehingga membuat beberapa orang datang menemuinya di dalam penjara. Mereka menaburkan bunga dan catatan-catatan kecil di jendela penjara. Mereka ingin dia tahu bahwa mereka juga percaya tentang cinta dirinya. Salah satu pengunjung tersebut adalah seorang gadis anak sipir penjara. Dia mengobrol dengannya berjam-jam. Di saat menjelang kematiannya dia menuliskan catatan kecil: Love from your Valentine. Dan pada tahun 496 Paus Gelasius menyeting 14 Februari sebagai tanggal penghormatan untuk Saint Valentine. Akhirnya secara gradual 14 Februari menjadi tanggal saling menukar pesan kasih, dan Saint Valentine menjadi patron dari para penabur kasih. Tanggal ini ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah, seperti bunga dan gula-gula. Bahkan, sering pula ditandai dengan adanya kumpul-kumpul atau pesta dansa.
Dari paparan di atas kita tahu bahwa kisah cinta Valentine ini merupakan kisah cinta milik kalangan Kristen dan sama sekali tidak memiliki benang merah budaya dan peradaban dengan Islam. Namun, mengapa remaja-remaja Muslim ikut larut dan merayakannya? Ada beberapa jawaban yang bisa kita berikan terhadap pertanyaan tersebut. Pertama, kalangan remaja Muslim tidak tahu latar belakang sejarah Valentine’s Day, sehingga mereka tidak merasa risih untuk mengikutinya. Dengan kata lain, remaja Muslim banyak yang memiliki kesadaran sejarah yang rendah. Kedua, adanya anggapan bahwa Valentine’s Day sama sekali tidak memiliki muatan agama dan hanya bersifat budaya global yang mau tidak mau harus diserap oleh siapa saja. Ketiga, keroposnya benteng pertahanan relijius remaja Muslim sehingga tidak mampu lagi menyaring budaya dan peradaban yang seharusnya mereka “lawan” dengan keras. Keempat, adanya perasaan loss of identity kalangan remaja Muslim sehingga mereka mencari identitas lain sebagai pemuas keinginan mendapat identitas global. Kelima, hanya mengikuti tren yang sedang berkembang agar tidak disebut ketinggalan zaman. Keenam, adanya pergaulan bebas yang kian tak terbendung dan terjadinya de-sakralisasi seks yang semakin ganas. Mungkin masih ada deretan jawaban lain yang bisa diberikan terhadapa pertanyaan di atas.
Islam, Valentine’s Day, dan Cinta
Bisa kita lihat pada bahasan di atas bahwa Valentine’s Day merupakan peringatan “cinta kasih” yang diformalkan untuk mengenang sebuah peristiwa kematian seorang pendeta yang mati dalam sebuah penjara. Yang kemudian diabadikan oleh gereja lewat tangan Paus Gelasius. Maka, merupakan sebuah kurang cerdas jika kaum Muslim dan secara khusus kalangan remajanya ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan historis, emosioal, dan religius dengan mereka. Keikutsertaan remaja Muslim dalam “hura-hura” ini merupakan refleksi sebuah kekalahan dalam sebuah pertarungan mempertahankan identitas dirinya. Mungkin ada sebagian remaja yang akan bertanya: Kenapa memperingati sebuah tragedi cinta itu tidak boleh dilakukan? Apakah Islam melarang cinta kasih? Bukankah Islam menganjurkan pemeluknya kasih kepada sesama?
Tak ada yang menyangkal bahwa Islam tidak melarang cinta kasih. Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta kepada sesama. Dalam Islam cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus, dan sakral. Islam sama sekali tidak phobi terhadap cinta. Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun demikian, Islam tidak menjadikan cinta sebagai komoditas yang rendah dan murahan. Cinta yang merupakan perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihanya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih sayang dalam Islam dibagi menjadi tiga tingkatan yang kita tangkap dari ayat Al-Quran. “Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kerabat-kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerusakannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu senangi lebih kau cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24).
Dalam ayat ini menjadi jelas kepada kita semua bahwa cinta yang utama adalah cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya. Inilah yang disebut dengan cinta hakiki. Cinta hakiki akan melahirkan pelita. Cinta hakiki yang dilahrikan iman akan senantiasa memberikan kenikmatan-kenikmatan nurani. Cinta hakiki akan melahirkan jiwa rela berkorban dan mampu menundukkan hawa nafsu dan syahwat birahi. Cinta akan menjadi berbinar tatkala orang yang memilikinya mampu menaklukkan segala gejolak dunia. Cinta Ilahi akan menuntun manusia untuk hidup berarti.
Islam memandang cinta kasih itu sebagai rahmat. Maka, seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri (HR Muslim). “Perumpamaan kasih sayang dan kelembutan seorang mukmin adalah laksana kesatuan tubuh; jika salah satu anggota tubuh terasa sakit, maka akan merasakan pula tubuh yang lainnya: tidak bisa tidur dan demam.” (Bukhari dan Muslim). Seorang Mukmin memiliki ikatan keimanan sehingga mereka menjadi laksana saudara (Al-Hujarat: 13), dan cinta yang meluap sering kali menjadikan seorang Mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (Al-Hasyr: 9).
Di mata Islam mencintai dan dicintai itu adalah “risalah” suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada setiap pemeluknya. Makanya Islam menghalalkan perkawinan. Islam tidak menganut “selibasi” yang mengebiri fitrah manusia, seperti yang terjadi dalam ajaran Kristen dan Hindu serta Budha yang menganut sistem sosial yang dikenal dengan kependetaan. Sebab, memang tidak ada rahbaniyah dalam Islam.
Valentine’s Day yang merupakan ungkapan kasih yang bukan bagian dari agama kita, juga saat ini dirayakan dengan menonjolkan aksi-aksi permisif, dengan lampu remang, dan lilin-lilin temaram. Meniru perilaku agama lain dan sekaligus melegalkan pergaulan bebas inilah yang tidak dibenarkan dalam pandangan Islam.
By: Ustad Jefri Al Bukhori
• Merayakan Valentine Sama Artinya Meniru-niru Orang Kafir
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269).
• Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” [QS. Al-Furqaan (25) : 72]
Semoga Bermanfaat.
Minggu, 17 Januari 2010
Kisah Asma r.a bertanya tentang Pahala bagi Kaum Wanita
Asma binti Yazid Anshari r.ha adalah seorang sahabiyah. Pada suatu ketika, ia mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, aku datang sebagai utusan kaum wanita. Sungguh, engkau adalah utusan Allah untuk kaum laki laki dan juga wanita. Untuk itu kami sebagai kaum wanita telah beriman kepada Allah dan kepadamu. Kami kaum wanita selalu tinggal di dalam rumah saja, tertutup dalam hijab hijab dan sibuk menunaikan keperluan serta keinginan suami. Kami selalu mengasuh anak anak, sedangkan kaum laki laki selalu mendapat pekerjaan yang memborong pahala. Mereka dapat menghadiri shalat jum’at, dapat berjamaah shalat lima waktu, dapat menjenguk orang sakit, menyertai jenazah, pergi haji, dan yang paling utama mereka dapat berjihad di jalan Allah. Jika mereka sedang mengerjakan haji, umrah, atau jihad, kamilah yang menjaga harta mereka, menjahitkan baju mereka dan memelihara anak anak mereka. Maka, apakah kami tidak mendapatkan pahala yang sama dengan mereka?“
Rasulullah saw. Mendengarnya dengan penuh perhatian. Kemudian berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda. “ Pernahkan kalian mendengar sebuah pertanyaan agama yang lebih baik daripada pertanyaan wanita ini?” Para sahabat r.a berkata, “ Ya Rasulullah, bahkan kami tidak menduga bahwa kaum wanita akan dapat bertanya seperti itu.” Lalu beliau saw. Berpaling kembali kepada Asma r.ha dan bersabda, “Dengarlah dengan baik dan perhatian, lalu sampaikan kepada para wanita muslimah yang telah mengirimmu kesini. Apabila para istri selalu berbuat baik kepada suaminya, selalu mentaatinya, melayaninya dengan baik dan berusaha membuat suaminyaselalu bergembira, maka itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Jika semua itu dapat kalian kerjakan, kalian akan mendapatkan pahala yang sama dengan kaum laki laki.“ Mendengar jawaban Nabi saw. itu, hait Asma r.ha sangat bergembira. Kemudian ia segera kembali menjumpai kaumnya.
Rasulullah saw. Mendengarnya dengan penuh perhatian. Kemudian berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda. “ Pernahkan kalian mendengar sebuah pertanyaan agama yang lebih baik daripada pertanyaan wanita ini?” Para sahabat r.a berkata, “ Ya Rasulullah, bahkan kami tidak menduga bahwa kaum wanita akan dapat bertanya seperti itu.” Lalu beliau saw. Berpaling kembali kepada Asma r.ha dan bersabda, “Dengarlah dengan baik dan perhatian, lalu sampaikan kepada para wanita muslimah yang telah mengirimmu kesini. Apabila para istri selalu berbuat baik kepada suaminya, selalu mentaatinya, melayaninya dengan baik dan berusaha membuat suaminyaselalu bergembira, maka itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Jika semua itu dapat kalian kerjakan, kalian akan mendapatkan pahala yang sama dengan kaum laki laki.“ Mendengar jawaban Nabi saw. itu, hait Asma r.ha sangat bergembira. Kemudian ia segera kembali menjumpai kaumnya.
SIFAT NABI MUHAMMAD SAW (baca : Shalallahu 'alaihi wassallam) Bagian Ke-1
Dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi Al Hafizh dari Al-Hasan bin Ali ra., dia berkata, “Aku Pernah bertanya kepada pamanku Hindun bin Abu Halah, yang pandai menggambarkan sifat-sifat perilaku Rasulullah SAW, sementara aku menginginkan dia menggambarkan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW kepadaku agar dapat kujadikan pedoman, maka dia berkata, ”Rasulullah SAW itu seorang yang mulia yang senantiasa dimuliakan, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama yang bercahaya, perawakan beliau sedang, tidak terialu pendek, dan tidak terlalu tinggi. Rambut beliau berombak, menyentuh daun telinga dan lebat. Warna kulitnya terang, keningnya lebar, alisnya tipis dan memanjang. Jika sedang marah, diantara alisnya tampak urat. Hidungnya mancung, ada cahaya di bagian atasnya, yang tampak mancung di mata orang yang tidak memperhatikannya. Janggutnya lebat, bagian bola hitam matanya tampak hitam, kedua pipinya lembut, giginya putih dan bagus, ada bulu-bulu halus di dadanya, badannya kekar dan kokoh, permukaan perut dan dadanya datar. Dadanya bidang, jarak antara kedua bahunya lebar, sendi-sendi tulangnya besar, kulitnya bersih. Antara dada sampai ke pusar ditumbuhi bulu bulu yang membentuk garis. Di antara puting susu dan perut tidak ditumbuhi rambut. Lengan, bahu dan dadanya bagian atas ditumbuhi bulu bulu yang halus. Jarinya kuat, lengannya panjang, telapak kaki dan tangannya lebar, ujung jarinya panjang. Bagian tengah telapak kakinya berongga dan tidak menyentuh tanah saat berjalan, kedua telapak kakinya menjadi ringan ibarat air yang turun kebawah. Beliau mengayunkan kaki sambil menunduk jalannya agak cepat. Jika berjalan seolah olah sedang berjalan di jalan yang menurun. Jika menoleh, beliau menoleh dengan seluruh anggota badannya. Pandangan matanya menunduk ke bawah, lebih lama memandang ke tanah daripada langit, pandangannya bersungguh sungguh jika memperhatikan sesuatu. Beliau selalu mendahului mengucapkan salam ketika berpapasan dengan para sahabat, sebelum para sahabat mengucapkan salam.”
Aku(Al-Hasan) berkata, “Beritahukanlah kepadaku sifat beliau saat berbicara.“ Maka dia (Hindun bin Abu Halah) menjawab, “ Rasulullah SAW senantiasa risau, selalu berpikir, sehingga tidak ada waktu untuk beristitrahat, tidak berkata apapun jika dibutuhkan. Beliau lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri setiap perkataan dengan mulut beliau bagian tepi, berbicara dengan kata kata yang luas maknanya, perkataan tersusun, tidak dilebihkan lebihkan atau dikurangi, lembut budi pekertinya, tidak tinggi hati dan juga tidak rendah, senantiasa bersyukur walaupun mendapat nikmat yang sedikit dan tidak mencela nikmat itu, juga tidak memujinya, tidak melayani amarahnya. Jika tampak kebenaran walau hanya sedikit, beliau pasti akan menolongnya (dalam riwayat lain, tidak bisa dibuat marah hanya karena dunia dan untuk kepentinga Islam). Jika tampak kebenaran dan seorang pun tidak ada yang mengetahui serta tidak memancing amaah beliau, maka beliau pasti akan menolongnya. Beliau tidak mengutamakan kepentingan dirinya dan tidak pula mendukungnya. Jia memberi isyarat, beliau memberikankannya denga sejelas jelasnya. Jika sedang kagum, beliau membalik telapak tangannya. Jika sedang bersungguh sungguh dalam berbicara, beliau biasa memukulkan telapak tangannya yang kanan ke ibu jari tangan kirinya. Jika marah, beliau berpaling dengan sungguh sungguh (menghindarinya). Jika gembira, beliau tersenyum dengan ujung bibirnya. Tertawa beliau adalah senyuman. Senyuman beliau seperti embun yang dingin.“
Al-Hasan berkata, “Aku tidak memberitahukan semua ini kepada Al-Husein bin Ali (saudaranya) sehingga beberapa lama. Baru kemudian aku memberitahukan kepadanya, tetapi rupa rupanya ia telah mengetahuinya lebih dulu dari aku. Dia lebih dulu menanyakan kepada paman tentang apa yang aku tanyakan. Bahkan dia juga bertanya kepada ayah tentang keluar masuknya Rasulullah SAW. di majelis dan keadaan beliau secara keseluruhan, hingga tida ada sedikitpun yang tertinggal.“
Al-Hasan berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang cara masuknya Rasulullah SAW kedalam rumah. Maka Ayah menjawab,“beliau masuk rumah setelah mendapat izin untuk memasukinya. Jika menuju kerumah, beliau membagi waktu masuknya itu menjadi tiga bagian, yaitu satu bagian untuk Allah swt, satu bagian untuk keluarga beliau dan satu bagian untuk beliau sendiri. Kemudian beliau juga membagi waktu untuk dirinya, yakni keperluan dirinya dan keperluan manusia (ummat). Beliau lebih mementingkan bagian ini untuk kepentingan manusia secara umum dan khusus dan semua kepentingan mereka tidak ada sedikitpun yang terabaikan. Diantara kebiasaan beliau adalah lebih mementingkan waktunya untuk ummat. Beliau mengutamakan orang orang yang mulia karena budi pekertinya dan disesuaikan dengan bagiannya tergantung pada kadar kemuliaannya dalam agama. Diantara mereka ada yang memiliki satu keperluan, yang lain lagi dua keperluan dan yang lain lagi banyak keperluan. Karena beliau menyibukan diri dengan urusan mereka, dan beliau membuat sibuk dalam urusan yang bermaslahat bagi diri mereka dan bagi ummat manusia. Beliau biasa menanyakan keadaaan mereka dan mengabarkan tentang mereka dan mengabarkan tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dengan bersabda, “Hendaklah yang hadir memberitahu yang tidak hadir dan sampaikanlah keperluan orang yang tidak menyampaikan kepada ku. Sesungguhnya orang yang menyampaikannya kepada pemimpinnya keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya, Allah swt. Akan meneguhkan kedua kaki oran tersebut pada hari kiamat yang tidak akan ada kesengsaraan di sisi-Nya dan tidak diterima sesuatupun dari selain-Nya. Mereka bisa menemuinya sebagai orang yang sedang berkunjung dan tidak terpecah belah kecuali kaena bisikan hati. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa mereka tidak terpencar pencar kecuali karena adanya bisikan hati, kemudian mereka keluar sebagai orang yang mengerti.“
Aku(Al-Hasan) berkata, “Beritahukanlah kepadaku sifat beliau saat berbicara.“ Maka dia (Hindun bin Abu Halah) menjawab, “ Rasulullah SAW senantiasa risau, selalu berpikir, sehingga tidak ada waktu untuk beristitrahat, tidak berkata apapun jika dibutuhkan. Beliau lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri setiap perkataan dengan mulut beliau bagian tepi, berbicara dengan kata kata yang luas maknanya, perkataan tersusun, tidak dilebihkan lebihkan atau dikurangi, lembut budi pekertinya, tidak tinggi hati dan juga tidak rendah, senantiasa bersyukur walaupun mendapat nikmat yang sedikit dan tidak mencela nikmat itu, juga tidak memujinya, tidak melayani amarahnya. Jika tampak kebenaran walau hanya sedikit, beliau pasti akan menolongnya (dalam riwayat lain, tidak bisa dibuat marah hanya karena dunia dan untuk kepentinga Islam). Jika tampak kebenaran dan seorang pun tidak ada yang mengetahui serta tidak memancing amaah beliau, maka beliau pasti akan menolongnya. Beliau tidak mengutamakan kepentingan dirinya dan tidak pula mendukungnya. Jia memberi isyarat, beliau memberikankannya denga sejelas jelasnya. Jika sedang kagum, beliau membalik telapak tangannya. Jika sedang bersungguh sungguh dalam berbicara, beliau biasa memukulkan telapak tangannya yang kanan ke ibu jari tangan kirinya. Jika marah, beliau berpaling dengan sungguh sungguh (menghindarinya). Jika gembira, beliau tersenyum dengan ujung bibirnya. Tertawa beliau adalah senyuman. Senyuman beliau seperti embun yang dingin.“
Al-Hasan berkata, “Aku tidak memberitahukan semua ini kepada Al-Husein bin Ali (saudaranya) sehingga beberapa lama. Baru kemudian aku memberitahukan kepadanya, tetapi rupa rupanya ia telah mengetahuinya lebih dulu dari aku. Dia lebih dulu menanyakan kepada paman tentang apa yang aku tanyakan. Bahkan dia juga bertanya kepada ayah tentang keluar masuknya Rasulullah SAW. di majelis dan keadaan beliau secara keseluruhan, hingga tida ada sedikitpun yang tertinggal.“
Al-Hasan berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang cara masuknya Rasulullah SAW kedalam rumah. Maka Ayah menjawab,“beliau masuk rumah setelah mendapat izin untuk memasukinya. Jika menuju kerumah, beliau membagi waktu masuknya itu menjadi tiga bagian, yaitu satu bagian untuk Allah swt, satu bagian untuk keluarga beliau dan satu bagian untuk beliau sendiri. Kemudian beliau juga membagi waktu untuk dirinya, yakni keperluan dirinya dan keperluan manusia (ummat). Beliau lebih mementingkan bagian ini untuk kepentingan manusia secara umum dan khusus dan semua kepentingan mereka tidak ada sedikitpun yang terabaikan. Diantara kebiasaan beliau adalah lebih mementingkan waktunya untuk ummat. Beliau mengutamakan orang orang yang mulia karena budi pekertinya dan disesuaikan dengan bagiannya tergantung pada kadar kemuliaannya dalam agama. Diantara mereka ada yang memiliki satu keperluan, yang lain lagi dua keperluan dan yang lain lagi banyak keperluan. Karena beliau menyibukan diri dengan urusan mereka, dan beliau membuat sibuk dalam urusan yang bermaslahat bagi diri mereka dan bagi ummat manusia. Beliau biasa menanyakan keadaaan mereka dan mengabarkan tentang mereka dan mengabarkan tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dengan bersabda, “Hendaklah yang hadir memberitahu yang tidak hadir dan sampaikanlah keperluan orang yang tidak menyampaikan kepada ku. Sesungguhnya orang yang menyampaikannya kepada pemimpinnya keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya, Allah swt. Akan meneguhkan kedua kaki oran tersebut pada hari kiamat yang tidak akan ada kesengsaraan di sisi-Nya dan tidak diterima sesuatupun dari selain-Nya. Mereka bisa menemuinya sebagai orang yang sedang berkunjung dan tidak terpecah belah kecuali kaena bisikan hati. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa mereka tidak terpencar pencar kecuali karena adanya bisikan hati, kemudian mereka keluar sebagai orang yang mengerti.“
SIFAT NABI MUHAMMAD SAW (baca : Shalallahu 'alaihi wassallam) Bagian Ke-2
Al-Hasan berkata,“Aku bertanya kepada paman tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika keluar rumah maka dia menjawab,“ Rasulullah SAW biasa menahan lidahnya kecuali terhadap perkataan yang dapat memberi manfaat kepada mereka, menyatukan mereka dan tidak membuat mereka pergi menghindar. Beliau menghormati orang yang dihormati di setiap kaum dan mengangkatnya sebagai pemimpin mereka, memperingatkan manusia, menjaga keadaan mereka, menunjukan wajah yang ramah terhadap siapapun, selalu menanyakan keadaan para sahabatnya, bertanya kepada para sahabatnya tentang keadaaan yang terjadi ditengah tengah mereka, mengatakan bagus terhadap yang bagus, mengatakan buruk terhadap sesuatu yang buruk dan berusaha memperbaikinya, mencari penyelesaian dalam setiap urusan, dan tidak malas dan tida lalai, karena takut para sahahat ikut ikutan lalai dan menyimpang. Setiap keadaaan harus di letakan di tempatnya, tidak pernah meremehkan dan berlebih-lebihan. Orang orang yang mengkuti beliau adalah orang orang yang baik diantara manusia. Menurut beliau, yang paling mulia adalah yang paling luas nasehatnya. Yang paling tinggi kedudukannya disisi beliau adalah orang yang paling baik pertolongan (nushroh) dan bantuan (ikhrom).“
Lalu aku berkata,“ Lalu aku bertanya kepada paman tentang gambaran majelis Rasulullah SAW“ maka dia menjawab, “ Rasulullah SAW tidak duduk dan berdiri, melainkan dalam keadaan berdzikir, tidak memilih tempat tempat tertentu dan melarang orang lain menempatinya. Jika berkumpul dengan para sahabatnya, beliau duduk di bagian akhir dari majelis itu, dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berbuat seperti itu. Beliau memberikan kepada teman duduknya apa yang menjadi bagiannya. Sehingga orang orang tidak ada yang menganggap bahwa tidak ada yang terhormat bagi beliau. Beliau tidak pernah menolak orang yang meminta keperluan atau kalau beliau tidak dapat menunaikannya, beliau akan mengatakan tidak dapat menunaikannya. Orang orang merasakan betapa mulianya akhlak beliau dan beliau sangat ramah terhadap mereka, sehingga beliau menjadi bapak bagi mereka, dan mereka memperoleh hak yang sama di sisi beliau. Majelis beliau adalah majelis yang penuh kasih sayang, rasa malu, sabar dan amanah. Didalamnya tidak ada suara yang keras, yang haram tidak dicela, tida ada aib yang disebar luaskan, selalu ada pertimbangan antara dua permasalahan. Mereka saling berlomba untuk bertakwa dan bertawadhu’. Yang tua dihormati dan yang muda disayangi. Orang yang memiliki keperluan dilayani dan orang asing dijaga.“
Al-Hasan berkata,“Kemudian aku bertanya kepada paman tentang kebiasaan Rasulullah SAW ketika berada ditengah tengah para sahabat. Maka dia menjawab,“ Wajah Rasulullah SAW senantiasa tampak berseri, luwes, lemah lembut, tidak kasar, tidak keras, tidak bersuara lantang, tidak kejam, tidak suka mencaci maki, tidak banyak bercanda, melupakan apa yang menjadi minatnya, tidak membuat orang yang mempunyai keperluan terhadap beliau putus asa untuk mendapatkan bagiannya dan tidak membuatnya kecewa karena takut ditelantarkan. Jika berada di majelis beliau, maka orang orang melihat tiga perkara, yaitu beliau tidak menghina siapapun, tidak mencari cari kesalahan siapapun dan tidak mengucapkan perkataan kecuali yang mendatangkan keberkahan (pahala). Jika beliau berbicara para sahabat pun menunduk (tawajjuh), seakan akan diatas mereka ada seekor burung yang hinggap. Jika beliau diam, para sahabat pun diam, kecuali jika diminta beliau untuk berbicara, sehingga para sahabat tidak pernah saling berdebat dihadapan beliau. Beliau tersenyum ketika melihat sesuatu membuat para sahabat tersenyum, dan mengagumi sesuatu yang membuat mereka kagum. Beliau bersabar menghadapi orang asing yang berkata kasar terhadap beliau dan banyak meminta, walaupun para sahabat tidak sabar mendengar kata kata oran asing itu. Karena itu beliau bersabda,“ Jika kalian melihat seseorang yang memunyai keperluan, maka tolonglah ia.“ Beliau tidak suka menerima pujian dari siapapun, kecuali yang sewajarnya. Beliau tidak penah memotong perkataan orang lain hingga orang tiu memotong sendiri perkataannya dan beranjak pergi.“
Al-Hasan berkata, “Aku bertanya lagi kepada paman tentang diamnya Rasulullah SAW.“ maka paman menjawab,“ Diamnya Rasulullah SAW disebabkan oleh empat perkara, yaitu diam karena bersikap sopan santun, waspada, mempertimbangkan sesuatu, dan berfikir. Diam beliau intuk mempertimbangkan sesuatu adalah mempertemukan jalan keluar dari permasalahan dan mendengarkan apa yang terjadi ditengah tengah manusia. Diam beliau untuk berfikir adalah untuk memikirkan hal hal yang kekal dan sementara. Dalam diri beliau tertanam keramahan dan kesabaran, sehingga beliau tidak akan mudah marah karena suatu hal dan tidak ada yang beliau takuti (kecuali Allah SWT.) Yang dimaksud beliau memiliki kewaspadaan adalah bahwa beliau berwaspada denga cara yang baik dan melaksanakannya untuk kepentingan manusia dunia dan akherat.“
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan didalam Al-Ishabah:10/161-162, bahwa pernyataan pernyataan tersebut dikeluarkan oleh At Tirmidzi, Al Baghawi, dan Ath Thabrani, Ibnu Mandah mengeluarkannya dari jalan Ya’kub At Taimi dari Ibnu Abbas r.a., kemudian dia menyebutkan hadist diatas.
At-Tirmidzi telah meriwayatkan dengan panjang lebar di dalam kita As-Syamail. Didalamnya dia menyebutkan hadist dari saudaranya, Al-Husein, dari Ayahnya, Ali bin Abi Thalib r.a. Al Baihaqi meriwayakan dalam Ad-Dalalail dai Al Hakim dengan isnadnya dari Al Hasan, kemudian dia menyebutkan sebagaimana yang disebutkan dalam Ibnu Katsir didalam kitab Al Bidayah : 1/137. Ar-Rauyani, Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir juga meriwatkan didalam kitab Kanzul Umal: 4/32, sedangkan Al Baghawi didalam Al-Ishabah:3/611.
Lalu aku berkata,“ Lalu aku bertanya kepada paman tentang gambaran majelis Rasulullah SAW“ maka dia menjawab, “ Rasulullah SAW tidak duduk dan berdiri, melainkan dalam keadaan berdzikir, tidak memilih tempat tempat tertentu dan melarang orang lain menempatinya. Jika berkumpul dengan para sahabatnya, beliau duduk di bagian akhir dari majelis itu, dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berbuat seperti itu. Beliau memberikan kepada teman duduknya apa yang menjadi bagiannya. Sehingga orang orang tidak ada yang menganggap bahwa tidak ada yang terhormat bagi beliau. Beliau tidak pernah menolak orang yang meminta keperluan atau kalau beliau tidak dapat menunaikannya, beliau akan mengatakan tidak dapat menunaikannya. Orang orang merasakan betapa mulianya akhlak beliau dan beliau sangat ramah terhadap mereka, sehingga beliau menjadi bapak bagi mereka, dan mereka memperoleh hak yang sama di sisi beliau. Majelis beliau adalah majelis yang penuh kasih sayang, rasa malu, sabar dan amanah. Didalamnya tidak ada suara yang keras, yang haram tidak dicela, tida ada aib yang disebar luaskan, selalu ada pertimbangan antara dua permasalahan. Mereka saling berlomba untuk bertakwa dan bertawadhu’. Yang tua dihormati dan yang muda disayangi. Orang yang memiliki keperluan dilayani dan orang asing dijaga.“
Al-Hasan berkata,“Kemudian aku bertanya kepada paman tentang kebiasaan Rasulullah SAW ketika berada ditengah tengah para sahabat. Maka dia menjawab,“ Wajah Rasulullah SAW senantiasa tampak berseri, luwes, lemah lembut, tidak kasar, tidak keras, tidak bersuara lantang, tidak kejam, tidak suka mencaci maki, tidak banyak bercanda, melupakan apa yang menjadi minatnya, tidak membuat orang yang mempunyai keperluan terhadap beliau putus asa untuk mendapatkan bagiannya dan tidak membuatnya kecewa karena takut ditelantarkan. Jika berada di majelis beliau, maka orang orang melihat tiga perkara, yaitu beliau tidak menghina siapapun, tidak mencari cari kesalahan siapapun dan tidak mengucapkan perkataan kecuali yang mendatangkan keberkahan (pahala). Jika beliau berbicara para sahabat pun menunduk (tawajjuh), seakan akan diatas mereka ada seekor burung yang hinggap. Jika beliau diam, para sahabat pun diam, kecuali jika diminta beliau untuk berbicara, sehingga para sahabat tidak pernah saling berdebat dihadapan beliau. Beliau tersenyum ketika melihat sesuatu membuat para sahabat tersenyum, dan mengagumi sesuatu yang membuat mereka kagum. Beliau bersabar menghadapi orang asing yang berkata kasar terhadap beliau dan banyak meminta, walaupun para sahabat tidak sabar mendengar kata kata oran asing itu. Karena itu beliau bersabda,“ Jika kalian melihat seseorang yang memunyai keperluan, maka tolonglah ia.“ Beliau tidak suka menerima pujian dari siapapun, kecuali yang sewajarnya. Beliau tidak penah memotong perkataan orang lain hingga orang tiu memotong sendiri perkataannya dan beranjak pergi.“
Al-Hasan berkata, “Aku bertanya lagi kepada paman tentang diamnya Rasulullah SAW.“ maka paman menjawab,“ Diamnya Rasulullah SAW disebabkan oleh empat perkara, yaitu diam karena bersikap sopan santun, waspada, mempertimbangkan sesuatu, dan berfikir. Diam beliau intuk mempertimbangkan sesuatu adalah mempertemukan jalan keluar dari permasalahan dan mendengarkan apa yang terjadi ditengah tengah manusia. Diam beliau untuk berfikir adalah untuk memikirkan hal hal yang kekal dan sementara. Dalam diri beliau tertanam keramahan dan kesabaran, sehingga beliau tidak akan mudah marah karena suatu hal dan tidak ada yang beliau takuti (kecuali Allah SWT.) Yang dimaksud beliau memiliki kewaspadaan adalah bahwa beliau berwaspada denga cara yang baik dan melaksanakannya untuk kepentingan manusia dunia dan akherat.“
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan didalam Al-Ishabah:10/161-162, bahwa pernyataan pernyataan tersebut dikeluarkan oleh At Tirmidzi, Al Baghawi, dan Ath Thabrani, Ibnu Mandah mengeluarkannya dari jalan Ya’kub At Taimi dari Ibnu Abbas r.a., kemudian dia menyebutkan hadist diatas.
At-Tirmidzi telah meriwayatkan dengan panjang lebar di dalam kita As-Syamail. Didalamnya dia menyebutkan hadist dari saudaranya, Al-Husein, dari Ayahnya, Ali bin Abi Thalib r.a. Al Baihaqi meriwayakan dalam Ad-Dalalail dai Al Hakim dengan isnadnya dari Al Hasan, kemudian dia menyebutkan sebagaimana yang disebutkan dalam Ibnu Katsir didalam kitab Al Bidayah : 1/137. Ar-Rauyani, Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir juga meriwatkan didalam kitab Kanzul Umal: 4/32, sedangkan Al Baghawi didalam Al-Ishabah:3/611.
Kisah Rasa Takutnya Abu Bakar r.a Kepada Allah SWT (baca : Allah Subhana wa Ta’ala)
Sesuai kesepakatan ahli sunnah, Abu Bakar r.a adalah seorang yang paling utama diantara seluruh manusia di dunia ini selain Anbiya a.s. Keyakinannya demikian tinggi, sehingga Rasulullah SAW sendiri telah memberi kabar gembira bahwa ia akan menjadi pemimpin satu jemaah di surga kelak. Semua pintu surga akan memanggil namanya dan menyampaikan kabar gembira kepadanya. Nabi SAW bersabda,”Orang yang paling dahulu masuk surga dikalangan ummatku adalah Abu Bakar r.a.” Walaupun demikian, Abu Bakar r.a justru berkata,”Seandainya aku menjadi sebatang pohon yang akhirnya ditebang.” Ia juga berkata,”Seandainya aku menjadi rumput yang dimakan hewan.” Kadangkala ia berkata,” Seandainya aku hanya menjadi rambut seorang mukmin.” Suatu ketika, ia pernah berada di dalam sebuah taman, sedangkan didekatnya ada seekor hewan yang sedang duduk. Sambil menarik nafas dingin, Abu Bakar r.a berkata,”Wahai, alangkah nikmatnya hidupmu, kamu makan, minum dan berkeliaran dibawah pepohonan, tetapi di akherat tidak ada hisab bagimu. Andaikan Abu Bakar menjadi sepertimu.” (Tharikhul-Khulafa).
Rabi’ah Aslami r.a bercerita,”Suatu ketika, pernah terjadi kesalahpahaman antara aku dengan Abu Bakar. Ia telah berbicara kata kata kasar kepadaku, tetapi aku diamkan saja. Ketika ia menyadari kesalahannya, ia berkata kepadaku,“Ucapkanlah kata kata kasar kepadaku, sehingga menjadi balasan bagiku.“ Namun aku menolaknya. Ia berkata,“Kamu harus mengucapkannya. Jika tidak, akan kuadukan kepada Rasulullah SAW.“ Aku tetap tidak menjawab apapun. Lalu ia bangun dan pergi meninggalkanku. Ketika itu, beberapa orang Banu Aslam yang menyaksikan kejadian tersebut berkata.“Orang ini aneh sekali, ia sendiri yang memulai dan ia sendiri yang mengadukannya kepada Rasulullah SAW.“ Kataku.“Tahukah kamu siapa dia? Dialah Abu Bakar r.a. Jika ia marah, Rasulullah SAW kekasih Allah, tentu ia akan marah kepada ku dan murka beliau adalah murka Allah. Jika demikian, siapakah yang dapat menyelamatkan kehancuran Rabi’ah?“ Lalu aku pergi menemui Nabi SAW dan menceritakan kejadian tersebut. Sabda beliau,“Baik, benar kamu tidak membalas dan tidak menjawabnya, tatapi sebaiknya kamu berkata, : Semoga Allah memaafkanmu wahai Abu Bakar.“
Faedah :
Inilah keteladanan rasa takut kepada Allah. Hanya karena sepotong kalimat yang sepele, Abu Bakar r.a demikian takut akan balasannya di akherat. Ia sangat cemas dan khawatir sehingga ia sendiri yang minta dibalas, lalu mengadukannya kepada Nabi SAW agar Rabi’ah r.a membalas perbuatannya.
Pada hari ini, kita mudah untuk saling mencaci tanpa rasa khawatir sedikitpun akan balasan perbuatan kita kelak di akherat atau hari Hisab.
Kisah Penderitaan Khabab bin Al-Arat rodhiallahu 'anhu
Khabab bin Al-Arat r.a adalah seorang sahabat yang tubuhnya dipenuhi keberkahan, karena berbagai ujian dan penderitaan di jalan Allah yang telah ia alami. Pada masa awal Islam, ia masuk Islam ketika baru ada lima hingga enam orang yang menerima Islam, sehingga cukup lama ia bergelut dengan penderitaan. Ia pernah dipakaikan baju besi lalu di baringkan di bawah terik matahari yang sangat panas. Keringat bercucuran dari tubuhnya. Begitu lama ia disiksa di bawah terik matahari, sehingga daging punggungnya mengelupas karena panas. Ia adalah hamba sahaya milik seorang wanita. Ketika tuannya mengetahui bahwa ia sering menjumpai Rasulullah saw. maka tuannya menghukumnya dengan menusukan batang besi panas ke kepala Khabab bin Al-Arat r.a
Pada masa khalifah Umar bin Khaththab r.a , Umar r.a meminta Khabab bin Al-Arat r.a menceritakan kembali penderitaannya dahulu pada awal Islam. Khabab bin Al-Arat r.a berkata, “Lihatlah punggungku ini.“ Begitu Umar r.a melihat punggungnya, ia berseru, “Belum pernah kulihat punggung seperti ini.“ Khabab bin Al-Arat r.a berkata, “Aku diseret diatas timbunan bara api yang menyala sehingga lemak dan darah yang mengalir dari punggung ku memadamkan apinya.“
Setelah Islam jaya dan pintu pintu kemenangan telah banyak diraih, Khabab bin Al-Arat r.a menangis, “ Jangan jangan Allah telah membalas penderitaan kita. Aku khawatir balasan ini hanya di dunia.“ Khabab bin Al-Arat r.a meriwayatkan “Suatu ketika, Nabi saw. shalat lama sekali, tidak seperti biasanya. Lalu ada seorang sahaba yang bertanya tentang shalatnya itu. Jawab Nabi saw. “Ini adalah shalat yang penuh harap dan takut. Aku mengajukan tiga permintaan kepada Allah. Dua telah dikabulkan dan satunya ditolak. Aku memohon agar umatku tidak di musnahkan karena kelaparan, doa ini dikabulkan. Kedua aku meminta agar umatku tidak di kuasai oleh musuh yang akan menghancurkan sama sekali, dan doa inipun dikabulkan_Nya. Yang ketiga, aku meminta agar tidak ada pertikaian di antara umatku, tetapi doa ini tidak dikabulkan-Nya.“
Khabab bin Al-Arat r.a wafat pada usia 37 tahun. Ia adalah sahabat yang pertama kali dikuburkan di Kuffah. Setelah wafatnya, Ali .r.a . pernah melewati kuburnya dan berkata, “Semoga Allah merahmati Khabab. Dengan semangatnya, ia telah memeluk Islam dan ia rela menghabiskan waktunya untuk hijrah, jihad, dan menerima segala penderitaan serta musibah. Penuh berkahlah orang yang selalu mengingat hari kiamat dan selalu bersiap siap menerima kitab amalnya pada hari hisab, dan ia menjalani kehidupan ini dengan menerima apa adanya, dan ia membuat ridha Allah.”
Pada masa khalifah Umar bin Khaththab r.a , Umar r.a meminta Khabab bin Al-Arat r.a menceritakan kembali penderitaannya dahulu pada awal Islam. Khabab bin Al-Arat r.a berkata, “Lihatlah punggungku ini.“ Begitu Umar r.a melihat punggungnya, ia berseru, “Belum pernah kulihat punggung seperti ini.“ Khabab bin Al-Arat r.a berkata, “Aku diseret diatas timbunan bara api yang menyala sehingga lemak dan darah yang mengalir dari punggung ku memadamkan apinya.“
Setelah Islam jaya dan pintu pintu kemenangan telah banyak diraih, Khabab bin Al-Arat r.a menangis, “ Jangan jangan Allah telah membalas penderitaan kita. Aku khawatir balasan ini hanya di dunia.“ Khabab bin Al-Arat r.a meriwayatkan “Suatu ketika, Nabi saw. shalat lama sekali, tidak seperti biasanya. Lalu ada seorang sahaba yang bertanya tentang shalatnya itu. Jawab Nabi saw. “Ini adalah shalat yang penuh harap dan takut. Aku mengajukan tiga permintaan kepada Allah. Dua telah dikabulkan dan satunya ditolak. Aku memohon agar umatku tidak di musnahkan karena kelaparan, doa ini dikabulkan. Kedua aku meminta agar umatku tidak di kuasai oleh musuh yang akan menghancurkan sama sekali, dan doa inipun dikabulkan_Nya. Yang ketiga, aku meminta agar tidak ada pertikaian di antara umatku, tetapi doa ini tidak dikabulkan-Nya.“
Khabab bin Al-Arat r.a wafat pada usia 37 tahun. Ia adalah sahabat yang pertama kali dikuburkan di Kuffah. Setelah wafatnya, Ali .r.a . pernah melewati kuburnya dan berkata, “Semoga Allah merahmati Khabab. Dengan semangatnya, ia telah memeluk Islam dan ia rela menghabiskan waktunya untuk hijrah, jihad, dan menerima segala penderitaan serta musibah. Penuh berkahlah orang yang selalu mengingat hari kiamat dan selalu bersiap siap menerima kitab amalnya pada hari hisab, dan ia menjalani kehidupan ini dengan menerima apa adanya, dan ia membuat ridha Allah.”
Kisah Rasa Takut Umar bin Khathab rohiallahu ‘anhu kepada Allah Subhana wa Ta'ala
Kadangkala Umar bin Khathab r.a memegang sebatang kayu dan berkata,“Seandainya aku menjadi batang kayu ini.“ Terkadang ia berkata,“Seandainya ibuku tidak melahirkanku.“ Suatu ketika, saat ia sibuk dengan pekerjaannya, seseorang mendatanginya dan berkata,“Si fulan telah. Menzhalimiku. Engkau hendaknya menuntut balas untukku.“ Umar bin Khathab r.a segera mengambil sebatang cambuk dan memukul orang itu sambil berkata,“Ketika kusediakan waktu untukmu, kamu tidak datang, sekarang aku sedang sibuk dengan urusan lain, kamu datang dan memintaku untuk menuntut balas.“ Orang itu pun pergi. Lalu Umar bin Khathab r.a menyuruh kembali orang tersebut. Setelah datang, Umar bin Khathab r.a memberikan cambuk kepadanya dan berkata,“Balaslah aku.“ Jawab orang itu,“Aku telah memaafkanmu karena Allah.“ Umar bin Khathab r.a segera pulang kerumahnya dan mengerjakan shalat dua rakaat. Lalu ia berbicara kepada dirinya sendiri,“Hai Umar, dahulu kamu rendah, sekarang Allah meninggikan derajatmu. Dahulu kamu sesat, lalu Allah memberimu hidayah. Dahulu kamu hina, lalu Allah memuliakanmu, dan Dia telah menjadikanmu sebagai raja bagi manusia. Sekarang telah datang seorang laki laki yang mengadukan nasibnya dan berkata,“Aku telah dizhalimi, balaskanlah untukku, tetapi kamu telah memukulnya. Kelak pada hari kiamat, apa jawabanmu dihadapaan Rabbmu?“ Lama sekali Umar bin Khathab r.a menghukumi dirinya senditi. (Usudul-Ghabah).
Pelayan Umar bin Khathab r.a, Aslam r.a, berkata,“Suatu ketika Umar pergi ke Harrah (salah satu kota dekat Madinah). Lalu terlihat nyala api di atas gunung. Umar bin Khathab r.a berkata,“Itu mungkin kafilah yang kemalaman yang tidak sampai ke kota, mereka terpaksa menunggu diluar kota. Marilah kita lihat keadaan mereka, bagaimana penjagaan malamnya!“ Setibanya disana, tampak seorang wanita dengan beberapa anak kecil menangis di sekelilingnya. Wanita itu sedang merebus air dalam kuali diatas tungku yang menyala. Umar bin Khathab r.a memberi salam kepada wanita tersebut dan meminta izin untuk mendekat. Ia bertanya,”mengapa anak-anak itu menangis?” Jawab wanita itu, “Mereka kelaparan” Umar bin Khathab r.a bertanya,“ Apa yang sedang engkau masak dalam panci itu? Jawabnya,”Panci ini berisi air, hanya untuk menghibur anak-anak agar mereka senang dengan menyangka aku sedang memasak makanan untuk mereka, sehingga mereka tertidur. Semoga Allah menghukum Amirul Mukminin Umar yang tak mau tahu kesusahan ini.” Umar bin Khathab r.a menangis dan berkata,“Semoga Allah merahmatimu, tetapi bagaimana mungkin Umar mengetahui keadaanmu?” Jawabnya,”Dia pemimpin kami, tetapi tidakmemperhatikan keadaan kami.”
Aslam r.a melanjutkan ceritanya,” Lalu Umar r.a mengajakku kembali ke Madinah. Ia pun mengeluarkan gandum, kurma, minyak lemak, dan beberapa helai pakaian, juga beberpa dirham dari Baitul-Mal. Setelah karung penuh, ia berkata keadaku,“Wahai Aslam letakan karung ini dipundakku.“ Aku menjawab,“Biarkan aku yang membawanya, ya Amirul Mukminin.“ Sahut Umar bin Khathab r.a,“Tidak, letakan saja di pundakku/“ Dua tiga kali aku menawarkan diri dengan sedikit memaksa. Ia berkata ,“Apakah kamu akan memikul dosa-dosa ku pada hari kiamat? Tidak, aku sendiri yang akan memikulnya dan yang bertanggung jawab terhadap hal ini.“ Aku pun terpaksa meletakkan karung itu kebahunya. Lalu ia bawa karung tadi ke kemah tadi dan aku ikut bersamanya. Setibanya disana, ia langsung memasukkan tepung dan sedikit lemak, ditambah kurma lalu diaduk, dan ia sendiri yang menyalakan tungkunya.“
Aslam r.a bercerita,“Kulihat asap mengenai janggutnya yang lebat, ia memasak sampai matang. Lalu, ia sendiri yang menghidangkan makanan itu dengan tangannya yang penuh berkah kepada keluarga itu. Selesai makan, anak-anak itu bermain dengan riangnya. Wanita itu pun sangat senang, ia berkata,“Semoga Allah memberimu balasan yang baik, seharusnya engkau lebih berhak menjadi khalifah daripada Umar.“ Untuk menyenangkan hati ibu tadi, Umar bin Khathab r.a berkata,“Jika engkau menjumpai khalifah, engkau akan menjumpaiku disana.“ Kemudian Umar bin Khathab r.a. meletakkan kedua tangannya dibawah dan duduk diatas tanah. Beberapa saat kemudian ia meninggalkan mereka. Umar bin Khathab r.a berkata kepada Aslam r.a.“Aku tadi duduk disitu karena aku telah melihat mereka menangis dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa.“(Asyaru Masyahir).
Dalam shalat shalat shubuhnya, Umar bin Khathab r.a selalu membaca surat-surat Al-Quran yang panjang. Kadangkala ia membaca surat Al-Kahfi, Thaha, dan surat lainnya sambil menangis terisak isak, sehingga suara tangisnya terdengar hingga beberapa shaf ke belakang. Suatu ketika, Umar r.a membaca surat Yusuf dalam shalat shubuhnya. Ketika itu sampai di ayat, yang artinya :
“Ya’qub menjawab, sesungguhnya hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Yusuf : 86).
Ia menangis terisak isak sampai tidak terdengar suaranya. Terkadang ia terus membaca Al-Quran sambil menangis didalam shalat tahajjudnya hingga terjatuh sakit.
Faedah :
Inilah keteladanan rasa takut seseorang kepada Allah, yang namanya sangat ditakuti raja raja. Setelah 1300 tahun berlalu, adakah hari ini seorang raja, pejabat, atau pemimpin biasa yang memiliki tanggung jawab dan kasih saying terhadap rakyatnya sedemikian rupa seperti Umar bin Khathab r.a.?
Pelayan Umar bin Khathab r.a, Aslam r.a, berkata,“Suatu ketika Umar pergi ke Harrah (salah satu kota dekat Madinah). Lalu terlihat nyala api di atas gunung. Umar bin Khathab r.a berkata,“Itu mungkin kafilah yang kemalaman yang tidak sampai ke kota, mereka terpaksa menunggu diluar kota. Marilah kita lihat keadaan mereka, bagaimana penjagaan malamnya!“ Setibanya disana, tampak seorang wanita dengan beberapa anak kecil menangis di sekelilingnya. Wanita itu sedang merebus air dalam kuali diatas tungku yang menyala. Umar bin Khathab r.a memberi salam kepada wanita tersebut dan meminta izin untuk mendekat. Ia bertanya,”mengapa anak-anak itu menangis?” Jawab wanita itu, “Mereka kelaparan” Umar bin Khathab r.a bertanya,“ Apa yang sedang engkau masak dalam panci itu? Jawabnya,”Panci ini berisi air, hanya untuk menghibur anak-anak agar mereka senang dengan menyangka aku sedang memasak makanan untuk mereka, sehingga mereka tertidur. Semoga Allah menghukum Amirul Mukminin Umar yang tak mau tahu kesusahan ini.” Umar bin Khathab r.a menangis dan berkata,“Semoga Allah merahmatimu, tetapi bagaimana mungkin Umar mengetahui keadaanmu?” Jawabnya,”Dia pemimpin kami, tetapi tidakmemperhatikan keadaan kami.”
Aslam r.a melanjutkan ceritanya,” Lalu Umar r.a mengajakku kembali ke Madinah. Ia pun mengeluarkan gandum, kurma, minyak lemak, dan beberapa helai pakaian, juga beberpa dirham dari Baitul-Mal. Setelah karung penuh, ia berkata keadaku,“Wahai Aslam letakan karung ini dipundakku.“ Aku menjawab,“Biarkan aku yang membawanya, ya Amirul Mukminin.“ Sahut Umar bin Khathab r.a,“Tidak, letakan saja di pundakku/“ Dua tiga kali aku menawarkan diri dengan sedikit memaksa. Ia berkata ,“Apakah kamu akan memikul dosa-dosa ku pada hari kiamat? Tidak, aku sendiri yang akan memikulnya dan yang bertanggung jawab terhadap hal ini.“ Aku pun terpaksa meletakkan karung itu kebahunya. Lalu ia bawa karung tadi ke kemah tadi dan aku ikut bersamanya. Setibanya disana, ia langsung memasukkan tepung dan sedikit lemak, ditambah kurma lalu diaduk, dan ia sendiri yang menyalakan tungkunya.“
Aslam r.a bercerita,“Kulihat asap mengenai janggutnya yang lebat, ia memasak sampai matang. Lalu, ia sendiri yang menghidangkan makanan itu dengan tangannya yang penuh berkah kepada keluarga itu. Selesai makan, anak-anak itu bermain dengan riangnya. Wanita itu pun sangat senang, ia berkata,“Semoga Allah memberimu balasan yang baik, seharusnya engkau lebih berhak menjadi khalifah daripada Umar.“ Untuk menyenangkan hati ibu tadi, Umar bin Khathab r.a berkata,“Jika engkau menjumpai khalifah, engkau akan menjumpaiku disana.“ Kemudian Umar bin Khathab r.a. meletakkan kedua tangannya dibawah dan duduk diatas tanah. Beberapa saat kemudian ia meninggalkan mereka. Umar bin Khathab r.a berkata kepada Aslam r.a.“Aku tadi duduk disitu karena aku telah melihat mereka menangis dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa.“(Asyaru Masyahir).
Dalam shalat shalat shubuhnya, Umar bin Khathab r.a selalu membaca surat-surat Al-Quran yang panjang. Kadangkala ia membaca surat Al-Kahfi, Thaha, dan surat lainnya sambil menangis terisak isak, sehingga suara tangisnya terdengar hingga beberapa shaf ke belakang. Suatu ketika, Umar r.a membaca surat Yusuf dalam shalat shubuhnya. Ketika itu sampai di ayat, yang artinya :
“Ya’qub menjawab, sesungguhnya hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Yusuf : 86).
Ia menangis terisak isak sampai tidak terdengar suaranya. Terkadang ia terus membaca Al-Quran sambil menangis didalam shalat tahajjudnya hingga terjatuh sakit.
Faedah :
Inilah keteladanan rasa takut seseorang kepada Allah, yang namanya sangat ditakuti raja raja. Setelah 1300 tahun berlalu, adakah hari ini seorang raja, pejabat, atau pemimpin biasa yang memiliki tanggung jawab dan kasih saying terhadap rakyatnya sedemikian rupa seperti Umar bin Khathab r.a.?
Kisah Uang Tunjangan Umar bin Khathab rodhiallahu ‘anhu dari Baitul Mal
Umar r.a juga biasa berdagang. Ketika menjadi khalifah, keperluannya dipenuhi dari Baitul-Mal. Ia mengumpulkan rakyatnya di Madinah Munawarah, lalu berkata,“Aku biasa berdagang dan sekarang kalian telah memberiku kesibukan sehingga aku tidak dapat berdagang lagi. Sekarang bagaimanakah dengan mata pencaharianku?“ Orang orang berselisih pendapat jumlah tunjangan Umar r.a, sedangkan Ali r.a hanya berdiam diri. Umar r.a bertanya kepadanya,“Bagaimanakah pendapatmu, wahai Ali?“ Jawab Ali r.a,“Ambillah uang sekedar dapat mencukupi keperluan keluargamu.“ Umar r.a sangat menyetujui usul Ali r.a. Maka ditentukanlah uang tunjangan untuk Umar r.a.
Beberapa lama kemudian, beberapa orang sahabat termasuk Ali, Ustman, Zubeir, dan Thalhah r.hum mengusulkan agar uang tunjangan Umar r.a ditambah karena terlalu sedikit. Tetapi tidak seorangpun yang berani mengemukakannya secara langsung kepada Umar r.a. Akhirnya, mereka menemui Hafshah r.ha, putri Umar r.a, juga Ummul-Mukminin istri Rasulullah saw. Mereka meminta agar ia mengajukan usul tersebut kepada Umar r.a tanpa menyebutkan nama nama mereka. Ketika Hafshah r.ha mengajukan usul tersebut, wajah Umar r.a langsung memerah karena marah. Umar r.a bertanya,“ Siapakah yang mengusulkan ini?“ Sahut Hafshah r.ha,“Jawablah dulu bagaimana pendapatmu.“ Umar r.a berkata,“Andaikan aku tahu siapa mereka, niscaya akan aku ubah muka mereka(akan memberikan hukuman yang membekas di wajah). Hafshah r.ha, ceritakanlah kepadaku tentang pakaian Nabi saw yang terbaik, yang pernah beliau miliki di rumahnya?“ Jawab Hafshah r,ha,“Beliau memiliki dua pakaian berwarna kemerahan yang biasa beliau kenakan pada hari Jum’at atau ketika menemui tamu.“ Kata Umar r.a,“Sebutkanlah makanan terlezat, yang dimakan oleh Nabi saw di rumahmu.“ Jawab Hafshah r.ha,“Roti yang terbuat dari tepung kasar lalu dicelupkan didalam kaleng berisi minyak. Kami memakannya ketika masih panas, kemudian dimakan dalam beberapa lipatan. Pernah pada suatu hari saya menyapu sepotong roti dengan bekas bekas minyak samin yang terdapat dalam kaleng minyak yang hampir kosong. Beliau SAW memakannya dengan penuh kenikmatan dan beliau juga ingin membagi bagikannya kepada orang lain.“ Umar r.a berkata,“Sebutkan, apa alas tidur terbaik yang pernah digunakan oleh Rasulullah SAW di rumahmu?“ Hafshah r.ha menjawab,“Sehelai kain tebal. Pada musim panas, kain itu dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua, separuh digunakan untuk alas tidurnya dan separuhnya lagi untuk selimutnya.“ Umar r.a berkata,“Nah Hafshah, sekarang pergilah dan katakan kepada mereka bahwa Nabi SAW telah menunjukan contoh kehidupan yang terbaik dan mencukupkan diri dengan mengharapkan akherat dan aku harus mengikutinya. Perumpamaanku dengan dua orang sahabatku, yaitu Rasulullah saw dan Abu Bakar r.a adalah seperti tiga orang musafir yang sedang melalui sebuah jalan yang sama. Musafir yang pertama telah melalui jalan tadi dan telah sampai ketujuan. Demikian juda musafir yang kedua, ia telah mengikuti jalan orang yang pertama, sehingga ia pun telah sampai ketempat tujuan dan yang ketiga, sekarang ia baru memulai perjalanannya. Jika ia menempuh jalan yang telah ditempuh orang orang sebelumnya, maka ia akan menjumpai keduanya ditujuan yang sama. Jika ia tidak menempuh jalan orang orang yang mendahuluinya, tentu ia tidak akan sampai ke tempat mereka.“
Faedah
Inilah contoh kehidupan seseorang yang sangat ditakuti para raja itu, namun ia menjalani kehidupannya dengan zuhud. Pada suatu hari, ia berkhutbah didepan para sahabatnya dengan mengenakan kain sarung dengan dua belas tambalan, salah satunya ditambal dengan kulit. Suatu ketika, ia terlambat datang ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Ia berkata kepada jemaah,“Maafkan, aku terlambat karena harus mencuci pakaianku terlebih dahulu, aku tidak memiliki baju lain untuk dipakai.“(Asyar).
Juga pernah terjadi, pada suatu ketika Umar r.a sedang menikmati makanannya. Lalu datanglah pelayannya memberitahu bahwa Utbah bin Abi farqah ingin menemuinya. Setelah Umar r.a mengizinkan Utbah masuk, ia mengajak Utbah makan bersama.Utbah pun menerima tawaran itu. Tetapi roti yang dihidangkan adalah roti yang keras dan kasar sehingga ia kesulitan untuk menelannya. Ia bertanya,“Mengapa engkau tidak menggunakan tepung halus untuk roti?“ Jawab Umar r.a,“Apakah semua orang islam mampu memakan roti dari tepung halus?“ Sahut Utbah,“Tidak semua.“ Sahut Umar r.a,“Tampaknya kamu ingin agar aku menikmati semua jenis kenikmatan hidup di dunia ini.“(Usudul-Ghabah).
Kisah kisah seperti ini bukan hanya berjumlah ratusan atau ribuan, tetapi ratusan ribu kisah yang menunjukan pengorbanan dan perjalanan hidup para sahabat r.a. Sekarang kita tidak dapat meniru kehidupan mereka karena kelemahan kita, kita tidak mampu menanggung kesusahan dalam menjalani kehidupan seperti mereka. Karena itu pulalah para ahli sufi tidak mengizinkan bermujahadah seperti itu karena hal itu dapat melemahkan kita. Dari awalnya kita memang tidak berdaya, sedangkan mereka telah memiliki kekuatan untuk menjalani kehidupan seperti itu sejak awal. Yang sangat penting bagi diri kita adalah agar selalu memiliki semangat dan cita cita serta usaha untuk dapat mengikuti langkah mereka sehingga dapat meredam keinginan dunia kita dan pandangan kita pun semakin menunduk kebawah.
Pada zaman ini sangatlah penting menjaga keseimbangan ketika orang orang tengah disibukan dengan kenikmatan duniawi, sehingga timbil persaingan untuk mendapatkan harta. Pandangan mereka hanya tertuju pada kebendaan, mereka merasa rugi jika ada orang lain yang lebih kaya dari mereka.
untuk lebih banyaknya saudara saudari seiman kita yg menerima pesan yang berisikan Kisah Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam dan Para Sahabat rodhiallahu 'anhum sudilah kiranya mungundang teman temannya yang lain untuk ikut bergabung di Halaman "Kisah Para Sahabat rodhiallahu 'anhum "
Jazakallah....
Beberapa lama kemudian, beberapa orang sahabat termasuk Ali, Ustman, Zubeir, dan Thalhah r.hum mengusulkan agar uang tunjangan Umar r.a ditambah karena terlalu sedikit. Tetapi tidak seorangpun yang berani mengemukakannya secara langsung kepada Umar r.a. Akhirnya, mereka menemui Hafshah r.ha, putri Umar r.a, juga Ummul-Mukminin istri Rasulullah saw. Mereka meminta agar ia mengajukan usul tersebut kepada Umar r.a tanpa menyebutkan nama nama mereka. Ketika Hafshah r.ha mengajukan usul tersebut, wajah Umar r.a langsung memerah karena marah. Umar r.a bertanya,“ Siapakah yang mengusulkan ini?“ Sahut Hafshah r.ha,“Jawablah dulu bagaimana pendapatmu.“ Umar r.a berkata,“Andaikan aku tahu siapa mereka, niscaya akan aku ubah muka mereka(akan memberikan hukuman yang membekas di wajah). Hafshah r.ha, ceritakanlah kepadaku tentang pakaian Nabi saw yang terbaik, yang pernah beliau miliki di rumahnya?“ Jawab Hafshah r,ha,“Beliau memiliki dua pakaian berwarna kemerahan yang biasa beliau kenakan pada hari Jum’at atau ketika menemui tamu.“ Kata Umar r.a,“Sebutkanlah makanan terlezat, yang dimakan oleh Nabi saw di rumahmu.“ Jawab Hafshah r.ha,“Roti yang terbuat dari tepung kasar lalu dicelupkan didalam kaleng berisi minyak. Kami memakannya ketika masih panas, kemudian dimakan dalam beberapa lipatan. Pernah pada suatu hari saya menyapu sepotong roti dengan bekas bekas minyak samin yang terdapat dalam kaleng minyak yang hampir kosong. Beliau SAW memakannya dengan penuh kenikmatan dan beliau juga ingin membagi bagikannya kepada orang lain.“ Umar r.a berkata,“Sebutkan, apa alas tidur terbaik yang pernah digunakan oleh Rasulullah SAW di rumahmu?“ Hafshah r.ha menjawab,“Sehelai kain tebal. Pada musim panas, kain itu dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua, separuh digunakan untuk alas tidurnya dan separuhnya lagi untuk selimutnya.“ Umar r.a berkata,“Nah Hafshah, sekarang pergilah dan katakan kepada mereka bahwa Nabi SAW telah menunjukan contoh kehidupan yang terbaik dan mencukupkan diri dengan mengharapkan akherat dan aku harus mengikutinya. Perumpamaanku dengan dua orang sahabatku, yaitu Rasulullah saw dan Abu Bakar r.a adalah seperti tiga orang musafir yang sedang melalui sebuah jalan yang sama. Musafir yang pertama telah melalui jalan tadi dan telah sampai ketujuan. Demikian juda musafir yang kedua, ia telah mengikuti jalan orang yang pertama, sehingga ia pun telah sampai ketempat tujuan dan yang ketiga, sekarang ia baru memulai perjalanannya. Jika ia menempuh jalan yang telah ditempuh orang orang sebelumnya, maka ia akan menjumpai keduanya ditujuan yang sama. Jika ia tidak menempuh jalan orang orang yang mendahuluinya, tentu ia tidak akan sampai ke tempat mereka.“
Faedah
Inilah contoh kehidupan seseorang yang sangat ditakuti para raja itu, namun ia menjalani kehidupannya dengan zuhud. Pada suatu hari, ia berkhutbah didepan para sahabatnya dengan mengenakan kain sarung dengan dua belas tambalan, salah satunya ditambal dengan kulit. Suatu ketika, ia terlambat datang ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Ia berkata kepada jemaah,“Maafkan, aku terlambat karena harus mencuci pakaianku terlebih dahulu, aku tidak memiliki baju lain untuk dipakai.“(Asyar).
Juga pernah terjadi, pada suatu ketika Umar r.a sedang menikmati makanannya. Lalu datanglah pelayannya memberitahu bahwa Utbah bin Abi farqah ingin menemuinya. Setelah Umar r.a mengizinkan Utbah masuk, ia mengajak Utbah makan bersama.Utbah pun menerima tawaran itu. Tetapi roti yang dihidangkan adalah roti yang keras dan kasar sehingga ia kesulitan untuk menelannya. Ia bertanya,“Mengapa engkau tidak menggunakan tepung halus untuk roti?“ Jawab Umar r.a,“Apakah semua orang islam mampu memakan roti dari tepung halus?“ Sahut Utbah,“Tidak semua.“ Sahut Umar r.a,“Tampaknya kamu ingin agar aku menikmati semua jenis kenikmatan hidup di dunia ini.“(Usudul-Ghabah).
Kisah kisah seperti ini bukan hanya berjumlah ratusan atau ribuan, tetapi ratusan ribu kisah yang menunjukan pengorbanan dan perjalanan hidup para sahabat r.a. Sekarang kita tidak dapat meniru kehidupan mereka karena kelemahan kita, kita tidak mampu menanggung kesusahan dalam menjalani kehidupan seperti mereka. Karena itu pulalah para ahli sufi tidak mengizinkan bermujahadah seperti itu karena hal itu dapat melemahkan kita. Dari awalnya kita memang tidak berdaya, sedangkan mereka telah memiliki kekuatan untuk menjalani kehidupan seperti itu sejak awal. Yang sangat penting bagi diri kita adalah agar selalu memiliki semangat dan cita cita serta usaha untuk dapat mengikuti langkah mereka sehingga dapat meredam keinginan dunia kita dan pandangan kita pun semakin menunduk kebawah.
Pada zaman ini sangatlah penting menjaga keseimbangan ketika orang orang tengah disibukan dengan kenikmatan duniawi, sehingga timbil persaingan untuk mendapatkan harta. Pandangan mereka hanya tertuju pada kebendaan, mereka merasa rugi jika ada orang lain yang lebih kaya dari mereka.
untuk lebih banyaknya saudara saudari seiman kita yg menerima pesan yang berisikan Kisah Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam dan Para Sahabat rodhiallahu 'anhum sudilah kiranya mungundang teman temannya yang lain untuk ikut bergabung di Halaman "Kisah Para Sahabat rodhiallahu 'anhum "
Jazakallah....
Dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kepada Abu Bakar rodhiallahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Abu Hasan Al-Athrabulusi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Bidayah : 3/29, dari ‘Aisyah r.ha, ia berkata,”Sejak zaman jahiliyah, Abu Bakar adalah kawan Rasulullah saw. Ketika bertemu dengan Rasulullah saw, dia berkata,”Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi saw), ada apa denganmu, sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain-lainnya lagi?” Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya aku adalah utusan Allah Subhana wa Ta’ala dan aku mengajak kamu kepada Allah swt.” Setelah selesai Rasululullah saw berbicara, Abu Bakar r.a pun langsung masuk Islam. Melihat keislamannya itu beliau gembira, tidak ada seorangpun yang ada diantara dua gunung di Makkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan beliau. Kemudian Abu Bakar r.a menemui Ustman bin Affan, Thalhah bin Ubaidilah, Zubeir bin Awwam, dan Saad bin Abi Waqash r.hum untuk mengajak mereka masuk islam. Lalu, mereka pun masuk Islam. Hari berikutnya Abu Bakar r.a menemui Ustman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Salamah bin Abdul Asad, dan Arqam bin Abil Arqam r.hum juga, untuk mengajak mereka masuk Islam dan mereka semua juga masuk Islam.”
Ibnu Ishaq juga meriwayatkan kisah yang sama, bahwa Abu Bakar r.a menemui Rasulullah saw, lalu berkata,” Wahai Muhammad, apakah benar apa yang telah dikatakan orang Quraisy bahwa engkau telah meninggalkan Tuhan-Tuhan kami dan mengolok-olok kami dan menuduh bahwa nenek moyang kami telah kufur?” Rasulullah saw menjawab,”Ya benar, sesungguhnya Allah swt telah mengangkat aku sebagai Rasul dan Nabi-Nya. Allah swt telah mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya. Dan sekarang aku mengajakmu kepada agama Allah swt, yaitu agama Islam, dengan keyakinan yang benar. Demi Allah, sesungguhnya Islam adalah kebenaran. Wahai Abu Bakar, aku mengajakmu untuk menyembah Allah swt Yang Maha Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan janganlah kamu menyembah kepada selain-Nya dan taatlah kepada-Nya untuk selamanya.” Setelah itu Rasulullah saw memperdengarkan sebagian ayat Al-Quran. Ketika itu Abu Bakar r.a tidak membenarkannya dan tidak pula mengingkarinya. Namun, tidak lama kemudian ia masuk Islam dan meninggalkan patung-patung serta serta Tuhan-tuhan lain yang dulu disembahnya. Akhirnya, ia pun mengakui dan meyakini kebenaran Islam. Setelah itu, Abu Bakar r.a pulang dengan penuh keimanan dan keyakinan.
Dalam riwayat yang lain disebutkan, dari Muhammad bin Abdullah At-Tamimi, bahwa Rasulullah saw bersabda,”Setiap aku mengajak seseorang untuk masuk Islam pasti mereka ragu, menolak atau berpikir terlebih dahulu. Tetapi, ketika mengajak Abu Bakar, maka dia langsung menerimanya, dia tidak merasa ragu dan tidak menolak sedikitpun atas perkataanku.”
Kalimat “Dia tidak merasa ragu” inilah yang sebenarnya diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq. Sedangkan pada riwayat sebelumnya, yang menyebutkan kalimat “dia tidak membenarkan dan tidak mengingkarinya” adalah tidak benar. Karena Ibnu Ishaq dan para perawi lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah saw setiap waktu selalu bersama Abu Bakar dan mengetahui pasti bahwa beliau saw adalah seseorang yang jujur, berbudi pekerti luhur, selalu memegang amanah, selamanya tidak pernah bohong kepada siapapun. Dengan demikian, adalah sesuatu yang tidak mungkin apabila beliau saw berkata bohong mengenai Allah swt. Karena itu, ketika Nabi saw menyampaikan kepadanya bahwa beliau adalah utusan Allah swt, maka Abu Bakar r.a langsung membenarkannya, tidak berpikir pikir dahulu, dan tidak merasa ragu.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, sebagaimana disebutkan pula dalam Al-Bidayah:3/26-27, dari Abu Darda’ r.a berkata, “Pernah suatu ketika terjadi pertengkaran antara Abu Bakar r.a dan Umar r.a, maka Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya ketika Allah swt mengutus aku kepadamu (Umar), maka kamu berkata kepadaku,”Engkau berdusta!” Tetapi, ketika itu Abu Bakar berkata kepadaku,”Engkau berkata benar!” Dia juga telah menolong aku dengan jiwa dan hartanya. Dan sekarang, apakah engkau akan menyakiti sahabatku ini?” Setelah kejadian itu tidak ada seorang pun yang berani menyakiti Abu Bakar r.a. Pernyataan Rasulullah saw ini merupakan dalil yang pasti bahwa Abu Bakar r.a adalah seorang yang pertama kali memeluk Islam.”
Ibnu Ishaq juga meriwayatkan kisah yang sama, bahwa Abu Bakar r.a menemui Rasulullah saw, lalu berkata,” Wahai Muhammad, apakah benar apa yang telah dikatakan orang Quraisy bahwa engkau telah meninggalkan Tuhan-Tuhan kami dan mengolok-olok kami dan menuduh bahwa nenek moyang kami telah kufur?” Rasulullah saw menjawab,”Ya benar, sesungguhnya Allah swt telah mengangkat aku sebagai Rasul dan Nabi-Nya. Allah swt telah mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya. Dan sekarang aku mengajakmu kepada agama Allah swt, yaitu agama Islam, dengan keyakinan yang benar. Demi Allah, sesungguhnya Islam adalah kebenaran. Wahai Abu Bakar, aku mengajakmu untuk menyembah Allah swt Yang Maha Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan janganlah kamu menyembah kepada selain-Nya dan taatlah kepada-Nya untuk selamanya.” Setelah itu Rasulullah saw memperdengarkan sebagian ayat Al-Quran. Ketika itu Abu Bakar r.a tidak membenarkannya dan tidak pula mengingkarinya. Namun, tidak lama kemudian ia masuk Islam dan meninggalkan patung-patung serta serta Tuhan-tuhan lain yang dulu disembahnya. Akhirnya, ia pun mengakui dan meyakini kebenaran Islam. Setelah itu, Abu Bakar r.a pulang dengan penuh keimanan dan keyakinan.
Dalam riwayat yang lain disebutkan, dari Muhammad bin Abdullah At-Tamimi, bahwa Rasulullah saw bersabda,”Setiap aku mengajak seseorang untuk masuk Islam pasti mereka ragu, menolak atau berpikir terlebih dahulu. Tetapi, ketika mengajak Abu Bakar, maka dia langsung menerimanya, dia tidak merasa ragu dan tidak menolak sedikitpun atas perkataanku.”
Kalimat “Dia tidak merasa ragu” inilah yang sebenarnya diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq. Sedangkan pada riwayat sebelumnya, yang menyebutkan kalimat “dia tidak membenarkan dan tidak mengingkarinya” adalah tidak benar. Karena Ibnu Ishaq dan para perawi lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah saw setiap waktu selalu bersama Abu Bakar dan mengetahui pasti bahwa beliau saw adalah seseorang yang jujur, berbudi pekerti luhur, selalu memegang amanah, selamanya tidak pernah bohong kepada siapapun. Dengan demikian, adalah sesuatu yang tidak mungkin apabila beliau saw berkata bohong mengenai Allah swt. Karena itu, ketika Nabi saw menyampaikan kepadanya bahwa beliau adalah utusan Allah swt, maka Abu Bakar r.a langsung membenarkannya, tidak berpikir pikir dahulu, dan tidak merasa ragu.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, sebagaimana disebutkan pula dalam Al-Bidayah:3/26-27, dari Abu Darda’ r.a berkata, “Pernah suatu ketika terjadi pertengkaran antara Abu Bakar r.a dan Umar r.a, maka Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya ketika Allah swt mengutus aku kepadamu (Umar), maka kamu berkata kepadaku,”Engkau berdusta!” Tetapi, ketika itu Abu Bakar berkata kepadaku,”Engkau berkata benar!” Dia juga telah menolong aku dengan jiwa dan hartanya. Dan sekarang, apakah engkau akan menyakiti sahabatku ini?” Setelah kejadian itu tidak ada seorang pun yang berani menyakiti Abu Bakar r.a. Pernyataan Rasulullah saw ini merupakan dalil yang pasti bahwa Abu Bakar r.a adalah seorang yang pertama kali memeluk Islam.”
Dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, dari Abdullah bin Mas’ud r.a, dia berkata Rasulullah saw berdoa,’Ya Allah, kuatkanlah Islam memalui Umar bin Khathab atau Abu Jahal bin Hisyam.” Maka Allah swt mengabulkan doa Rasulullah saw dengan dipilihnya Umar bin Khathab ra. Dengan masuknya Umar bin Khathab ra ke dalam Islam.Maka menjadi tegaklah bangunan Islam dan hancurlah (penyembahan terhadap) berhala berhala.” Al Haitsami dalam kitabnya jilid IX halaman 61 mengomentari hadist ini, bahwa perawi yang meriwayatkan hadist ini shahih, kecuali Mujahid bin Sa’id.
Ath-Thabarani telah meriwayatan juga dari Tsauban r.a. dalam menerangkan kisah Sa’id bin Zaid r.a dan istrinya, Fatimah r.ha yang juga saudara perempuan Umar r.a. Sebagian hadist ini diceritakan sebagai berikut: “Rasulullah saw memegang ujung baju Umar bin Khathab dan menariknya sambil berkata,”Apakah maksud kedatanganmu, wahai Umar?” Umar bin Khathab ra menjawab,”Sampaikanlah kepadaku sesuatu yang sering engkau dakwahkan?” Maka Rasulullah saw menjawab,”Hendaklah kamu bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah Yang Maha Esa dan tidakk ada sekutu bagi-Nya dan hendaklah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Mendengar perkataan ini, Umar bin Khathab ra langsung masuk Islam ditempat itu juga. Ia lalu berkata.“Mari kita pergi ke Masjidil haram, disana kita akan beribadah dihadapan orang orang kafir!“
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 1/41, dari Aslam r.a,, ia berkata,“Suatu ketika Umar berkata pada kami,“ Maukah aku ceritakan kepada kalian mengenai kisah pertama kali aku masuk Islam?“ jawab kami,“Ya“. Lalu Umar bin Khathab r.a bercerita,”Dahulu (sebelum masuk Islam) aku adalah seorang yang paling memusuhi Rasulullah saw. Ketika beliau berada disuatu tempat dekat bukit Shafa, aku menghampiri dan duduk dihadapan beliau, lalu menarik ujung bajuku sambil berkata,“Wahai Ibnu Khatthab, masuklah kamu ke dalam Islam!“ (bersamaan dengan itu beliau berdoa),“Ya Allah, berikanlah hidayah kepada Umar!“ Maka saat itu juga aku langsung mengucapkan dua kalimah syahadat (aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan Selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah). Mendengar aku masuk Islam, seluruh kaum Muslimin yang berada di tempat itu langsung mengucapkan takbir yang suaranya terdengar hingga ke jalan-jalan di kota Mekkah.“
Sementara AlBazzar juga mengeluarkan sebuah hadist dengan substansi yang sama, namun dengan ungkapan yang berbeda
Ath-Thabarani telah meriwayatan juga dari Tsauban r.a. dalam menerangkan kisah Sa’id bin Zaid r.a dan istrinya, Fatimah r.ha yang juga saudara perempuan Umar r.a. Sebagian hadist ini diceritakan sebagai berikut: “Rasulullah saw memegang ujung baju Umar bin Khathab dan menariknya sambil berkata,”Apakah maksud kedatanganmu, wahai Umar?” Umar bin Khathab ra menjawab,”Sampaikanlah kepadaku sesuatu yang sering engkau dakwahkan?” Maka Rasulullah saw menjawab,”Hendaklah kamu bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah Yang Maha Esa dan tidakk ada sekutu bagi-Nya dan hendaklah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Mendengar perkataan ini, Umar bin Khathab ra langsung masuk Islam ditempat itu juga. Ia lalu berkata.“Mari kita pergi ke Masjidil haram, disana kita akan beribadah dihadapan orang orang kafir!“
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 1/41, dari Aslam r.a,, ia berkata,“Suatu ketika Umar berkata pada kami,“ Maukah aku ceritakan kepada kalian mengenai kisah pertama kali aku masuk Islam?“ jawab kami,“Ya“. Lalu Umar bin Khathab r.a bercerita,”Dahulu (sebelum masuk Islam) aku adalah seorang yang paling memusuhi Rasulullah saw. Ketika beliau berada disuatu tempat dekat bukit Shafa, aku menghampiri dan duduk dihadapan beliau, lalu menarik ujung bajuku sambil berkata,“Wahai Ibnu Khatthab, masuklah kamu ke dalam Islam!“ (bersamaan dengan itu beliau berdoa),“Ya Allah, berikanlah hidayah kepada Umar!“ Maka saat itu juga aku langsung mengucapkan dua kalimah syahadat (aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan Selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah). Mendengar aku masuk Islam, seluruh kaum Muslimin yang berada di tempat itu langsung mengucapkan takbir yang suaranya terdengar hingga ke jalan-jalan di kota Mekkah.“
Sementara AlBazzar juga mengeluarkan sebuah hadist dengan substansi yang sama, namun dengan ungkapan yang berbeda
Dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Ustman bin Affan radhiallahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Al-Madain, sebagaimana disebutkan dalam Al-Isti'ab:4/225 dari Ammar bin ustman, ia bercerita bahwa Ustman bin Affan r.a pernah berkata,”Aku datang kepada bibiku yang bernama Urwah binti Abdul Muthalib untuk melayatnya kerena ia sakit. Tidak lama kemudian Rasulullah saw datang ke tempat itu dan aku perhatikan beliau,waktu itu tampak jelas olehku kebesarannya, Beliau pun menghampiriku dan berkata,”Wahai Ustman, mengapa engkau memperhaitkanku sedemikian rupa?” Aku menjawab,”Aku merasa kagum terhadap engkau dan terhadap kedudukan engkau diantara kami, juga terhadap apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang mengenai diri engkau.” Ustman melanjutkan ceritanya,” Kemudian Nabi saw mengucapkan Kalimah Laa Ilaaha Illalaah. Demi Allah, aku mendengar kalimat itu langsung bergetar. Kemudian Nabi saw membacakan ayat yang artinya:
“Dan dilangit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan (Penguasa) langit dan bumi sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benarbenar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (Q.s Adz-Dzariyat:22-23)
Kemudian Rasulullah saw berdiri dan pergi keluar. Aku pun mengikuti beliau dari belakang, laluu menghadap beliau dan menyatakan masuk Islam.”
“Dan dilangit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan (Penguasa) langit dan bumi sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benarbenar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (Q.s Adz-Dzariyat:22-23)
Kemudian Rasulullah saw berdiri dan pergi keluar. Aku pun mengikuti beliau dari belakang, laluu menghadap beliau dan menyatakan masuk Islam.”
Dakwah Rasulullah saw. Kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu
Disebutkan dalam kitab Al-Bidayah: 3/24, Ibnu Ishaq bercerita bahwasanya Ali bin Abi Thalib r.a datang ke rumah Rasulullah saw, ketika itu keduanya (Rasulullah saw dan Khadijah r.ha) sedang mengerjakan shalat. Ali ra bertanya,”Wahai Muhammad, apakah yang sedang engkau lakukan?” Nabi saw, menjawab,”Inilah agama Allah swt yang telah dipilih-Nya dan dia juga mengirim utusan-utusan-Nya, karena itu aku mengajakmu kepada (agama) Allah Yang Maha Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, mengajakmu untuk menyembah Allah swt dan hendaklah engkau mengingkari patung Latta dan Uzza.” Ali r.a berkata,”Perkara ini belum pernah aku dengar sebelumnya dan aku belum bisa mengambil keputusan sebelum merundingkan dulu dengan ayahku, Abu Thalib.“
Nabi saw tidak menyetujui kata-kata Ali r.a (untuk berunding dengan ayahnya) karena khawatir rahasia mengenai dirinya akan tersebar keluar sebelum ada perintah untuk menyiarkan secara terbuka. Maka beliau saw berkata,”Wahai Ali, apabila kamu belum mau masuk Islam, rahasiakanlah berita ini!” Malam itu Ali pun tinggal dirumahnya (tanpa memberitahukan perihalnya pada siapapun). Maka, malam itu juga Allah swt membukakan hatinya untuk menerima Islam. Ketika dia bangun pada pagi harinya, dia langsung pergi menemui Rasulullah saw dan berkata,”Apa yang engkau sampaikan kepadaku kemarin?” Nabi saw menjawab,”Hendaklah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, hendaklah kamu mengingkari Latta dan Uzza dan hendaklah kamu meninggalkan menyembah sembahan-sembahan selain Allah!” Ali r.a pun mengikuti semua perkataan Nabi saw dan masuk Islam. Kemudian Ali r.a kembali kerumah dan tinggal dengan perasaan takut terhadap ayahnya, Abu Thalib. Ali r.a pun menyembunyikan keislamannya dan sama sekali tidak menampakannya.”
Nabi saw tidak menyetujui kata-kata Ali r.a (untuk berunding dengan ayahnya) karena khawatir rahasia mengenai dirinya akan tersebar keluar sebelum ada perintah untuk menyiarkan secara terbuka. Maka beliau saw berkata,”Wahai Ali, apabila kamu belum mau masuk Islam, rahasiakanlah berita ini!” Malam itu Ali pun tinggal dirumahnya (tanpa memberitahukan perihalnya pada siapapun). Maka, malam itu juga Allah swt membukakan hatinya untuk menerima Islam. Ketika dia bangun pada pagi harinya, dia langsung pergi menemui Rasulullah saw dan berkata,”Apa yang engkau sampaikan kepadaku kemarin?” Nabi saw menjawab,”Hendaklah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, hendaklah kamu mengingkari Latta dan Uzza dan hendaklah kamu meninggalkan menyembah sembahan-sembahan selain Allah!” Ali r.a pun mengikuti semua perkataan Nabi saw dan masuk Islam. Kemudian Ali r.a kembali kerumah dan tinggal dengan perasaan takut terhadap ayahnya, Abu Thalib. Ali r.a pun menyembunyikan keislamannya dan sama sekali tidak menampakannya.”
Dakwah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu kepada Ibunya
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata,“Aku mengajak ibuku yang ketika itu masih musyrik agar masuk Islam. Suatu hari, ketika aku berdakwah kepadanya, ia justru mengomeli Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam sehingga membuat aku kurang suka. Maka Aku menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam sambil menangis dan kukatakan kepada beliau,”Wahai Rasulullah, aku sudah berusaha mengajak kepada ibuku supaya dia masuk Islam, tetapi dia malah mengomeli engkau. Tentu saja aku tidak suka dengan sikapnya itu. Maka berdoalah kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia memberikan petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.” Maka beliau Shalallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda,mahfumnya”Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.” Aku pun keluar dari tempat beliau dengan wajah berseri karena doa Rasulullah saw tersebut. Setiba dirumah, aku langsung menuju pintu yang ternyata dalam keadaan terkunci. Ibuku yang mendengar suara langkah kakiku berkata dari dalam rumah,“Tetaplah diam ditempatmu itu wahai Abu Hurairah.“ Aku mendengar suara gemericik air. Ketika itu dia sudah membukakan pintu, ibu berkata,“Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.“ Aku kembali menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam dan mengabarkan keislaman ibuku. Maka beliau memuji Allah swt. Seraya bersabda,mahfhum,“Itu adalah kebaikan dari-Nya.“ Ahmad juga meriwayatkan yang serupa dengan hadist diatas. Demikian dalam kitab Ishabah:4/241.
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat 4/328 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata,“Demi Allah, setiap orang Mukmin baik laki-laki maupun perempuan yang mendengar namaku, pastilah dia menyayangi aku. Ibnu Sa’ad bertanya,“Apakah sebabnya?“ Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menjawab,“Dulu aku selalu menyampaikan dakwah kepada ibuku.“ Kisah selanjutnya seperti yang telah lalu dan pada akhir riwayatnya disebutkan, bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,“Kemudian aku berlari menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam sambil menangis karena gembira seperti aku menangis karena sedih, lalu aku berkata kepada beliau,“Berita gembira, wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah swt telah mengabulkan do’a engkau. Sungguh, Allah Subhana wa Ta’ala telah mengarunia ibu Abu Hurairah hidayah kepada Islam.“ Kemudian aku berkata,“Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah swt agar Dia mencintai aku dan ibuku kepada orang Mukmin laki-laki dan perempuan dan mencintai setiap orang Mukmin laki-laki dan perempuan.“ Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam berdoa,mahfhum,"Ya Allah, cintakanlah hamba-Mu ini (Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) dan ibunya kepada setiap orang Mukmin laki-laki dan perempuan!“ Sejak Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam berdoa demikian, maka tidak ada satu pun Mukmin laki-laki maupun perempuan yang mendengar namaku kecuali pastilah dia mencintai aku.“
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat 4/328 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata,“Demi Allah, setiap orang Mukmin baik laki-laki maupun perempuan yang mendengar namaku, pastilah dia menyayangi aku. Ibnu Sa’ad bertanya,“Apakah sebabnya?“ Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menjawab,“Dulu aku selalu menyampaikan dakwah kepada ibuku.“ Kisah selanjutnya seperti yang telah lalu dan pada akhir riwayatnya disebutkan, bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,“Kemudian aku berlari menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam sambil menangis karena gembira seperti aku menangis karena sedih, lalu aku berkata kepada beliau,“Berita gembira, wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah swt telah mengabulkan do’a engkau. Sungguh, Allah Subhana wa Ta’ala telah mengarunia ibu Abu Hurairah hidayah kepada Islam.“ Kemudian aku berkata,“Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah swt agar Dia mencintai aku dan ibuku kepada orang Mukmin laki-laki dan perempuan dan mencintai setiap orang Mukmin laki-laki dan perempuan.“ Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam berdoa,mahfhum,"Ya Allah, cintakanlah hamba-Mu ini (Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) dan ibunya kepada setiap orang Mukmin laki-laki dan perempuan!“ Sejak Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam berdoa demikian, maka tidak ada satu pun Mukmin laki-laki maupun perempuan yang mendengar namaku kecuali pastilah dia mencintai aku.“
Kesabaran Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhu Dalam Menanggung Penderitaan.
Al-Bukhari meriwayatkan dalam At-Tarikh, dari Mas’ud bin Kharrasi radhiallahu ‘anhu, dia berkata,“Ketika kami sedang berada diantara Shafa dan Marwah, tiba-tiba muncul sekelompok orang yang sedang menggiring seorang pemuda yang tangannya diikatkan pada lehernya. Aku bertanya,“Ada apa dengan pemuda itu?“ Orang-orang menjawab,“Ini adalah Thalhah bin Ubaidilah yang telah murtad.“ Pada saat itu, ada juga seorang wanita dibelakang Thalhah yang terus menerus menggerutu dan mencacinya. Aku bertanya,“Siapa wanita itu?“ Mereka menjawab,“Dia adalah Ash-Sha’bah binti Al-Hadhrami, ibunya sendiri.“ Demikian disebutkan dalam kitab Al-Ishabah:3/410
Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak:3/369 dan Al-Hilyah:3/29, dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, dari Thalhah bin Ubaidilah, dia berkata,“Ketika saya sedang berada di pasar Busra, tiba-tiba seorang rahib (pendeta) yang tinggal di menara gereja berkata,“Tanyakan kepada orang-rang yang berada di pasar, adakah diantara mereka seseorang yang berasal dari Haram.“ Saya menjawab,“Saya berasal dari sana!“ Dia bertanya,“Apakah Ahmad telah muncul?“ Saya balik bertanya,”Siapakah Ahmad itu?” Dia menjawab,”Dia adalah putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Pada bulan ini dia akan muncul di Makkah dan dia akan berhijrah ke suatu tempat terdapat banyak kebun-kebun kurma dan tanahnya berbatu-batu. Janganlah kamu sampai tertinggal untuk mengikuti dia.” Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhu berkata,“Saya menjadi tertarik mendengar ucapan orang itu. Maka saya segera pulang ke Makkah untuk menanyakan kabar mengenai Muhammad.“ Setelah sampai di Makkah saya bertanya,“Apakah ada suatu kejadian yang baru?“ Penduduk kota Makkah menjawab“Ya, ada suatu kejadian besar. Muhammad bin Abdullah yang terkenal dengan sebuan Al-Amin, dia telah mengaku menjadi Nabi dan Abu Bakar menjadi pengkutnya.“ Dengan tergesa-gesa saya menemui Abu Bakar dan bertanya kepadanya,“Apakah engkau telah mengikuti Muhammad?“ Dia menjawab,“Ya! Kamu juga harus menemuinya dan mengikutinya, karena dia telah mengajak kepada kebenaran.“ Kemudian Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhu menceritakan apa yang telah ia dengar dari pendeta itu. Setelah itu, Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhum pergi bersama-sama menemui Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam. Disana Thalhah masuk Islam. Dia juga menceritakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam mengenai apa yang telah diberitahukan oleh pendeta itu. Mendengar hal itu Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam merasa gembira. Ketika itu Naufal bin Khuwailid Al-Adawiyah mengetahui mereka berdua masuk Islam, maka dengan segera dia mengambil tali dan mengikat mereka berdua dalam satu ikatan. Tidak ada seorangpun dari suku Taim yang membela mereka berdua. Naufal bin Khuwailid terkenal dengan julukan Singa Quraisy. Karena keduanya pernah diikat bersama-sama, maka keduanya dijuluki Qarinain (yaitu dua orang yang bersahabat).“ Dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan pula Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam berdoa,“Ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan Naufal.“
Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak:3/369 dan Al-Hilyah:3/29, dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, dari Thalhah bin Ubaidilah, dia berkata,“Ketika saya sedang berada di pasar Busra, tiba-tiba seorang rahib (pendeta) yang tinggal di menara gereja berkata,“Tanyakan kepada orang-rang yang berada di pasar, adakah diantara mereka seseorang yang berasal dari Haram.“ Saya menjawab,“Saya berasal dari sana!“ Dia bertanya,“Apakah Ahmad telah muncul?“ Saya balik bertanya,”Siapakah Ahmad itu?” Dia menjawab,”Dia adalah putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Pada bulan ini dia akan muncul di Makkah dan dia akan berhijrah ke suatu tempat terdapat banyak kebun-kebun kurma dan tanahnya berbatu-batu. Janganlah kamu sampai tertinggal untuk mengikuti dia.” Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhu berkata,“Saya menjadi tertarik mendengar ucapan orang itu. Maka saya segera pulang ke Makkah untuk menanyakan kabar mengenai Muhammad.“ Setelah sampai di Makkah saya bertanya,“Apakah ada suatu kejadian yang baru?“ Penduduk kota Makkah menjawab“Ya, ada suatu kejadian besar. Muhammad bin Abdullah yang terkenal dengan sebuan Al-Amin, dia telah mengaku menjadi Nabi dan Abu Bakar menjadi pengkutnya.“ Dengan tergesa-gesa saya menemui Abu Bakar dan bertanya kepadanya,“Apakah engkau telah mengikuti Muhammad?“ Dia menjawab,“Ya! Kamu juga harus menemuinya dan mengikutinya, karena dia telah mengajak kepada kebenaran.“ Kemudian Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhu menceritakan apa yang telah ia dengar dari pendeta itu. Setelah itu, Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhum pergi bersama-sama menemui Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam. Disana Thalhah masuk Islam. Dia juga menceritakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam mengenai apa yang telah diberitahukan oleh pendeta itu. Mendengar hal itu Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam merasa gembira. Ketika itu Naufal bin Khuwailid Al-Adawiyah mengetahui mereka berdua masuk Islam, maka dengan segera dia mengambil tali dan mengikat mereka berdua dalam satu ikatan. Tidak ada seorangpun dari suku Taim yang membela mereka berdua. Naufal bin Khuwailid terkenal dengan julukan Singa Quraisy. Karena keduanya pernah diikat bersama-sama, maka keduanya dijuluki Qarinain (yaitu dua orang yang bersahabat).“ Dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan pula Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam berdoa,“Ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan Naufal.“
Dakwah Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam kepada Abu Jahal
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah radhiallahu 'anhu, ia berkata,”Hari pertama kali aku mengetahui Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam yaitu ketika aku berjalan bersama Abu Jahal bin Hisyam disebuah lorong di kota Makkah. Kami berdua berpasangan dengan Rasulullah shalallhu ‘alahi wa sallam kemudian Rasulullah shalallhu ‘alahi wa sallam berkata kepada kepada Abu Jahal,”Wahai Abu Hakam, mari masuk agama Allah dan Rasul-Nya. Aku mengajakmu untuk menyembah Allah Subhana wa Ta’ala.” Abu Jahal menjawab,”Hai Muhammad, maukah engkau berhenti mencela Tuhan-tuhanku, maukah engkau menyaksikan bahwa aku telah menyampaikan? Baiklah, aku telah menyaksikan bahwa engkau telah menyampaikan. Demi Allah, jika aku mengetahui bahwa apa yang engkau bawa ini benar, maka sudah pasti aku mengikutimu.” Kemudian Rasulullah shalallhu ‘alahi wa sallam meninggalkan Abu Jahal. Setelah itu dia berkata kepadaku,”Demi Allah, aku tahu yang diucapkan Muhammad itu benar, tetapi aku tidak bersedia mengikutinya karena beberapa hal. Bani Qushay telah mengetahui bahwa kami adalah petugas penjaga Ka’bah. Aku menjawab,”Benar.” Abu Jahal menambahkan,”Kita adalah petugas air untuk orang-orang yang sedang menunaikan ibadah Haji, pemegang gedung persidangan dan pemegang bendera.” Aku menjawab,”Benar.” Abu Jahal melanjutkan,”Mereka memberikan makanan, kita pun memberikan makanan. Dan setelah sama-sama rata begini, mereka malah mengatakan,“Dari kalangan kita ada seorang Nabi.“ Demi Allah, aku (Abu Jahal) tidak akan masuk Islam.“ Demikian disebutkan dalam Al-Bidayah:3/64. Abu Syaibah juga meriwayatkan dengan makna yang sama dengan hadist diatas, seperti yang dituturkan dalam Al-Kanzu:7/129
Jumat, 15 Januari 2010
Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam Mengutus Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu Berdakwah ke penduduk yaman
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Barra radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam telah mengutus Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu untuk berdakwah kepada penduduk Yaman, untuk mengajak mereka kepada Islam. Al-Barra radhiallahu ‘anhu berkata,”Aku termasuk mengajak orang yang bergabung dalam rombongan dakwah Khalid bin Walid. Kami berada di Yaman selama enam bulan dan berdakwah kepada mereka supaya masuk Islam. Tetapi mereka tidak menerima dakwah kami. Hingga kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam mengutus Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu untuk menyusul Khalid bin Walid dan meminta agar rombongan Khalid bin Walid kembali ke markaz, kecuali satu orang saja. Akhirnya Khalid radhiallahu ‘anhu beserta rombongan kembali, kecuali satu orang saja sebagaimana yang diperintahkan Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam. Beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan agar satu orang tersebut bergabung dengan rombongan Ali bin Abi Thalib. Al-Barra’ berkata,”Akulah yang termasuk satu orang tersebut.“ Ketika kami sudah dekat dengan penduduk Yaman, merekapun menghampiri kami. Ali maju untuk menjadi imam dalam shalat kami. Kami shalat dibelakangnya dan membentuk satu shaf. Setelah shalat, Ali berdiri dihadapan kami, kemudian membaca surat Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam, yang ditujukan kepada penduduk Yaman. Maka seluruh penduduk Hamdan seketika itu juga masuk Islam. Kemudian Ali radhiallahu ‘anhu menulis surat untuk memberitakan tentang keislaman suku Hamdan. Ketika beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam membaca surat tersebut, beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam langsung bersujud, kemudian mengangkat kepala sambil bersabda,”Keselamatan atas kaum Hamdan, kesalamatan atas kaum Hamdan.”
Al-Bukhari telah meriwayatkan dengan ringkas, sebagaiamana yang dituturkan dalam Al-Bidayah : 5/105
Al-Bukhari telah meriwayatkan dengan ringkas, sebagaiamana yang dituturkan dalam Al-Bidayah : 5/105
Langganan:
Komentar (Atom)
