Minggu, 17 Januari 2010

SIFAT NABI MUHAMMAD SAW (baca : Shalallahu 'alaihi wassallam) Bagian Ke-2

Al-Hasan berkata,“Aku bertanya kepada paman tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika keluar rumah maka dia menjawab,“ Rasulullah SAW biasa menahan lidahnya kecuali terhadap perkataan yang dapat memberi manfaat kepada mereka, menyatukan mereka dan tidak membuat mereka pergi menghindar. Beliau menghormati orang yang dihormati di setiap kaum dan mengangkatnya sebagai pemimpin mereka, memperingatkan manusia, menjaga keadaan mereka, menunjukan wajah yang ramah terhadap siapapun, selalu menanyakan keadaan para sahabatnya, bertanya kepada para sahabatnya tentang keadaaan yang terjadi ditengah tengah mereka, mengatakan bagus terhadap yang bagus, mengatakan buruk terhadap sesuatu yang buruk dan berusaha memperbaikinya, mencari penyelesaian dalam setiap urusan, dan tidak malas dan tida lalai, karena takut para sahahat ikut ikutan lalai dan menyimpang. Setiap keadaaan harus di letakan di tempatnya, tidak pernah meremehkan dan berlebih-lebihan. Orang orang yang mengkuti beliau adalah orang orang yang baik diantara manusia. Menurut beliau, yang paling mulia adalah yang paling luas nasehatnya. Yang paling tinggi kedudukannya disisi beliau adalah orang yang paling baik pertolongan (nushroh) dan bantuan (ikhrom).“

Lalu aku berkata,“ Lalu aku bertanya kepada paman tentang gambaran majelis Rasulullah SAW“ maka dia menjawab, “ Rasulullah SAW tidak duduk dan berdiri, melainkan dalam keadaan berdzikir, tidak memilih tempat tempat tertentu dan melarang orang lain menempatinya. Jika berkumpul dengan para sahabatnya, beliau duduk di bagian akhir dari majelis itu, dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berbuat seperti itu. Beliau memberikan kepada teman duduknya apa yang menjadi bagiannya. Sehingga orang orang tidak ada yang menganggap bahwa tidak ada yang terhormat bagi beliau. Beliau tidak pernah menolak orang yang meminta keperluan atau kalau beliau tidak dapat menunaikannya, beliau akan mengatakan tidak dapat menunaikannya. Orang orang merasakan betapa mulianya akhlak beliau dan beliau sangat ramah terhadap mereka, sehingga beliau menjadi bapak bagi mereka, dan mereka memperoleh hak yang sama di sisi beliau. Majelis beliau adalah majelis yang penuh kasih sayang, rasa malu, sabar dan amanah. Didalamnya tidak ada suara yang keras, yang haram tidak dicela, tida ada aib yang disebar luaskan, selalu ada pertimbangan antara dua permasalahan. Mereka saling berlomba untuk bertakwa dan bertawadhu’. Yang tua dihormati dan yang muda disayangi. Orang yang memiliki keperluan dilayani dan orang asing dijaga.“

Al-Hasan berkata,“Kemudian aku bertanya kepada paman tentang kebiasaan Rasulullah SAW ketika berada ditengah tengah para sahabat. Maka dia menjawab,“ Wajah Rasulullah SAW senantiasa tampak berseri, luwes, lemah lembut, tidak kasar, tidak keras, tidak bersuara lantang, tidak kejam, tidak suka mencaci maki, tidak banyak bercanda, melupakan apa yang menjadi minatnya, tidak membuat orang yang mempunyai keperluan terhadap beliau putus asa untuk mendapatkan bagiannya dan tidak membuatnya kecewa karena takut ditelantarkan. Jika berada di majelis beliau, maka orang orang melihat tiga perkara, yaitu beliau tidak menghina siapapun, tidak mencari cari kesalahan siapapun dan tidak mengucapkan perkataan kecuali yang mendatangkan keberkahan (pahala). Jika beliau berbicara para sahabat pun menunduk (tawajjuh), seakan akan diatas mereka ada seekor burung yang hinggap. Jika beliau diam, para sahabat pun diam, kecuali jika diminta beliau untuk berbicara, sehingga para sahabat tidak pernah saling berdebat dihadapan beliau. Beliau tersenyum ketika melihat sesuatu membuat para sahabat tersenyum, dan mengagumi sesuatu yang membuat mereka kagum. Beliau bersabar menghadapi orang asing yang berkata kasar terhadap beliau dan banyak meminta, walaupun para sahabat tidak sabar mendengar kata kata oran asing itu. Karena itu beliau bersabda,“ Jika kalian melihat seseorang yang memunyai keperluan, maka tolonglah ia.“ Beliau tidak suka menerima pujian dari siapapun, kecuali yang sewajarnya. Beliau tidak penah memotong perkataan orang lain hingga orang tiu memotong sendiri perkataannya dan beranjak pergi.“

Al-Hasan berkata, “Aku bertanya lagi kepada paman tentang diamnya Rasulullah SAW.“ maka paman menjawab,“ Diamnya Rasulullah SAW disebabkan oleh empat perkara, yaitu diam karena bersikap sopan santun, waspada, mempertimbangkan sesuatu, dan berfikir. Diam beliau intuk mempertimbangkan sesuatu adalah mempertemukan jalan keluar dari permasalahan dan mendengarkan apa yang terjadi ditengah tengah manusia. Diam beliau untuk berfikir adalah untuk memikirkan hal hal yang kekal dan sementara. Dalam diri beliau tertanam keramahan dan kesabaran, sehingga beliau tidak akan mudah marah karena suatu hal dan tidak ada yang beliau takuti (kecuali Allah SWT.) Yang dimaksud beliau memiliki kewaspadaan adalah bahwa beliau berwaspada denga cara yang baik dan melaksanakannya untuk kepentingan manusia dunia dan akherat.“

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan didalam Al-Ishabah:10/161-162, bahwa pernyataan pernyataan tersebut dikeluarkan oleh At Tirmidzi, Al Baghawi, dan Ath Thabrani, Ibnu Mandah mengeluarkannya dari jalan Ya’kub At Taimi dari Ibnu Abbas r.a., kemudian dia menyebutkan hadist diatas.

At-Tirmidzi telah meriwayatkan dengan panjang lebar di dalam kita As-Syamail. Didalamnya dia menyebutkan hadist dari saudaranya, Al-Husein, dari Ayahnya, Ali bin Abi Thalib r.a. Al Baihaqi meriwayakan dalam Ad-Dalalail dai Al Hakim dengan isnadnya dari Al Hasan, kemudian dia menyebutkan sebagaimana yang disebutkan dalam Ibnu Katsir didalam kitab Al Bidayah : 1/137. Ar-Rauyani, Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir juga meriwatkan didalam kitab Kanzul Umal: 4/32, sedangkan Al Baghawi didalam Al-Ishabah:3/611.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar