Minggu, 17 Januari 2010

SIFAT NABI MUHAMMAD SAW (baca : Shalallahu 'alaihi wassallam) Bagian Ke-1

Dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi Al Hafizh dari Al-Hasan bin Ali ra., dia berkata, “Aku Pernah bertanya kepada pamanku Hindun bin Abu Halah, yang pandai menggambarkan sifat-sifat perilaku Rasulullah SAW, sementara aku menginginkan dia menggambarkan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW kepadaku agar dapat kujadikan pedoman, maka dia berkata, ”Rasulullah SAW itu seorang yang mulia yang senantiasa dimuliakan, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama yang bercahaya, perawakan beliau sedang, tidak terialu pendek, dan tidak terlalu tinggi. Rambut beliau berombak, menyentuh daun telinga dan lebat. Warna kulitnya terang, keningnya lebar, alisnya tipis dan memanjang. Jika sedang marah, diantara alisnya tampak urat. Hidungnya mancung, ada cahaya di bagian atasnya, yang tampak mancung di mata orang yang tidak memperhatikannya. Janggutnya lebat, bagian bola hitam matanya tampak hitam, kedua pipinya lembut, giginya putih dan bagus, ada bulu-bulu halus di dadanya, badannya kekar dan kokoh, permukaan perut dan dadanya datar. Dadanya bidang, jarak antara kedua bahunya lebar, sendi-sendi tulangnya besar, kulitnya bersih. Antara dada sampai ke pusar ditumbuhi bulu bulu yang membentuk garis. Di antara puting susu dan perut tidak ditumbuhi rambut. Lengan, bahu dan dadanya bagian atas ditumbuhi bulu bulu yang halus. Jarinya kuat, lengannya panjang, telapak kaki dan tangannya lebar, ujung jarinya panjang. Bagian tengah telapak kakinya berongga dan tidak menyentuh tanah saat berjalan, kedua telapak kakinya menjadi ringan ibarat air yang turun kebawah. Beliau mengayunkan kaki sambil menunduk jalannya agak cepat. Jika berjalan seolah olah sedang berjalan di jalan yang menurun. Jika menoleh, beliau menoleh dengan seluruh anggota badannya. Pandangan matanya menunduk ke bawah, lebih lama memandang ke tanah daripada langit, pandangannya bersungguh sungguh jika memperhatikan sesuatu. Beliau selalu mendahului mengucapkan salam ketika berpapasan dengan para sahabat, sebelum para sahabat mengucapkan salam.”

Aku(Al-Hasan) berkata, “Beritahukanlah kepadaku sifat beliau saat berbicara.“ Maka dia (Hindun bin Abu Halah) menjawab, “ Rasulullah SAW senantiasa risau, selalu berpikir, sehingga tidak ada waktu untuk beristitrahat, tidak berkata apapun jika dibutuhkan. Beliau lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri setiap perkataan dengan mulut beliau bagian tepi, berbicara dengan kata kata yang luas maknanya, perkataan tersusun, tidak dilebihkan lebihkan atau dikurangi, lembut budi pekertinya, tidak tinggi hati dan juga tidak rendah, senantiasa bersyukur walaupun mendapat nikmat yang sedikit dan tidak mencela nikmat itu, juga tidak memujinya, tidak melayani amarahnya. Jika tampak kebenaran walau hanya sedikit, beliau pasti akan menolongnya (dalam riwayat lain, tidak bisa dibuat marah hanya karena dunia dan untuk kepentinga Islam). Jika tampak kebenaran dan seorang pun tidak ada yang mengetahui serta tidak memancing amaah beliau, maka beliau pasti akan menolongnya. Beliau tidak mengutamakan kepentingan dirinya dan tidak pula mendukungnya. Jia memberi isyarat, beliau memberikankannya denga sejelas jelasnya. Jika sedang kagum, beliau membalik telapak tangannya. Jika sedang bersungguh sungguh dalam berbicara, beliau biasa memukulkan telapak tangannya yang kanan ke ibu jari tangan kirinya. Jika marah, beliau berpaling dengan sungguh sungguh (menghindarinya). Jika gembira, beliau tersenyum dengan ujung bibirnya. Tertawa beliau adalah senyuman. Senyuman beliau seperti embun yang dingin.“

Al-Hasan berkata, “Aku tidak memberitahukan semua ini kepada Al-Husein bin Ali (saudaranya) sehingga beberapa lama. Baru kemudian aku memberitahukan kepadanya, tetapi rupa rupanya ia telah mengetahuinya lebih dulu dari aku. Dia lebih dulu menanyakan kepada paman tentang apa yang aku tanyakan. Bahkan dia juga bertanya kepada ayah tentang keluar masuknya Rasulullah SAW. di majelis dan keadaan beliau secara keseluruhan, hingga tida ada sedikitpun yang tertinggal.“

Al-Hasan berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang cara masuknya Rasulullah SAW kedalam rumah. Maka Ayah menjawab,“beliau masuk rumah setelah mendapat izin untuk memasukinya. Jika menuju kerumah, beliau membagi waktu masuknya itu menjadi tiga bagian, yaitu satu bagian untuk Allah swt, satu bagian untuk keluarga beliau dan satu bagian untuk beliau sendiri. Kemudian beliau juga membagi waktu untuk dirinya, yakni keperluan dirinya dan keperluan manusia (ummat). Beliau lebih mementingkan bagian ini untuk kepentingan manusia secara umum dan khusus dan semua kepentingan mereka tidak ada sedikitpun yang terabaikan. Diantara kebiasaan beliau adalah lebih mementingkan waktunya untuk ummat. Beliau mengutamakan orang orang yang mulia karena budi pekertinya dan disesuaikan dengan bagiannya tergantung pada kadar kemuliaannya dalam agama. Diantara mereka ada yang memiliki satu keperluan, yang lain lagi dua keperluan dan yang lain lagi banyak keperluan. Karena beliau menyibukan diri dengan urusan mereka, dan beliau membuat sibuk dalam urusan yang bermaslahat bagi diri mereka dan bagi ummat manusia. Beliau biasa menanyakan keadaaan mereka dan mengabarkan tentang mereka dan mengabarkan tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dengan bersabda, “Hendaklah yang hadir memberitahu yang tidak hadir dan sampaikanlah keperluan orang yang tidak menyampaikan kepada ku. Sesungguhnya orang yang menyampaikannya kepada pemimpinnya keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya, Allah swt. Akan meneguhkan kedua kaki oran tersebut pada hari kiamat yang tidak akan ada kesengsaraan di sisi-Nya dan tidak diterima sesuatupun dari selain-Nya. Mereka bisa menemuinya sebagai orang yang sedang berkunjung dan tidak terpecah belah kecuali kaena bisikan hati. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa mereka tidak terpencar pencar kecuali karena adanya bisikan hati, kemudian mereka keluar sebagai orang yang mengerti.“

Tidak ada komentar:

Posting Komentar