Asma binti Yazid Anshari r.ha adalah seorang sahabiyah. Pada suatu ketika, ia mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, aku datang sebagai utusan kaum wanita. Sungguh, engkau adalah utusan Allah untuk kaum laki laki dan juga wanita. Untuk itu kami sebagai kaum wanita telah beriman kepada Allah dan kepadamu. Kami kaum wanita selalu tinggal di dalam rumah saja, tertutup dalam hijab hijab dan sibuk menunaikan keperluan serta keinginan suami. Kami selalu mengasuh anak anak, sedangkan kaum laki laki selalu mendapat pekerjaan yang memborong pahala. Mereka dapat menghadiri shalat jum’at, dapat berjamaah shalat lima waktu, dapat menjenguk orang sakit, menyertai jenazah, pergi haji, dan yang paling utama mereka dapat berjihad di jalan Allah. Jika mereka sedang mengerjakan haji, umrah, atau jihad, kamilah yang menjaga harta mereka, menjahitkan baju mereka dan memelihara anak anak mereka. Maka, apakah kami tidak mendapatkan pahala yang sama dengan mereka?“
Rasulullah saw. Mendengarnya dengan penuh perhatian. Kemudian berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda. “ Pernahkan kalian mendengar sebuah pertanyaan agama yang lebih baik daripada pertanyaan wanita ini?” Para sahabat r.a berkata, “ Ya Rasulullah, bahkan kami tidak menduga bahwa kaum wanita akan dapat bertanya seperti itu.” Lalu beliau saw. Berpaling kembali kepada Asma r.ha dan bersabda, “Dengarlah dengan baik dan perhatian, lalu sampaikan kepada para wanita muslimah yang telah mengirimmu kesini. Apabila para istri selalu berbuat baik kepada suaminya, selalu mentaatinya, melayaninya dengan baik dan berusaha membuat suaminyaselalu bergembira, maka itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Jika semua itu dapat kalian kerjakan, kalian akan mendapatkan pahala yang sama dengan kaum laki laki.“ Mendengar jawaban Nabi saw. itu, hait Asma r.ha sangat bergembira. Kemudian ia segera kembali menjumpai kaumnya.
Minggu, 17 Januari 2010
SIFAT NABI MUHAMMAD SAW (baca : Shalallahu 'alaihi wassallam) Bagian Ke-1
Dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi Al Hafizh dari Al-Hasan bin Ali ra., dia berkata, “Aku Pernah bertanya kepada pamanku Hindun bin Abu Halah, yang pandai menggambarkan sifat-sifat perilaku Rasulullah SAW, sementara aku menginginkan dia menggambarkan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW kepadaku agar dapat kujadikan pedoman, maka dia berkata, ”Rasulullah SAW itu seorang yang mulia yang senantiasa dimuliakan, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama yang bercahaya, perawakan beliau sedang, tidak terialu pendek, dan tidak terlalu tinggi. Rambut beliau berombak, menyentuh daun telinga dan lebat. Warna kulitnya terang, keningnya lebar, alisnya tipis dan memanjang. Jika sedang marah, diantara alisnya tampak urat. Hidungnya mancung, ada cahaya di bagian atasnya, yang tampak mancung di mata orang yang tidak memperhatikannya. Janggutnya lebat, bagian bola hitam matanya tampak hitam, kedua pipinya lembut, giginya putih dan bagus, ada bulu-bulu halus di dadanya, badannya kekar dan kokoh, permukaan perut dan dadanya datar. Dadanya bidang, jarak antara kedua bahunya lebar, sendi-sendi tulangnya besar, kulitnya bersih. Antara dada sampai ke pusar ditumbuhi bulu bulu yang membentuk garis. Di antara puting susu dan perut tidak ditumbuhi rambut. Lengan, bahu dan dadanya bagian atas ditumbuhi bulu bulu yang halus. Jarinya kuat, lengannya panjang, telapak kaki dan tangannya lebar, ujung jarinya panjang. Bagian tengah telapak kakinya berongga dan tidak menyentuh tanah saat berjalan, kedua telapak kakinya menjadi ringan ibarat air yang turun kebawah. Beliau mengayunkan kaki sambil menunduk jalannya agak cepat. Jika berjalan seolah olah sedang berjalan di jalan yang menurun. Jika menoleh, beliau menoleh dengan seluruh anggota badannya. Pandangan matanya menunduk ke bawah, lebih lama memandang ke tanah daripada langit, pandangannya bersungguh sungguh jika memperhatikan sesuatu. Beliau selalu mendahului mengucapkan salam ketika berpapasan dengan para sahabat, sebelum para sahabat mengucapkan salam.”
Aku(Al-Hasan) berkata, “Beritahukanlah kepadaku sifat beliau saat berbicara.“ Maka dia (Hindun bin Abu Halah) menjawab, “ Rasulullah SAW senantiasa risau, selalu berpikir, sehingga tidak ada waktu untuk beristitrahat, tidak berkata apapun jika dibutuhkan. Beliau lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri setiap perkataan dengan mulut beliau bagian tepi, berbicara dengan kata kata yang luas maknanya, perkataan tersusun, tidak dilebihkan lebihkan atau dikurangi, lembut budi pekertinya, tidak tinggi hati dan juga tidak rendah, senantiasa bersyukur walaupun mendapat nikmat yang sedikit dan tidak mencela nikmat itu, juga tidak memujinya, tidak melayani amarahnya. Jika tampak kebenaran walau hanya sedikit, beliau pasti akan menolongnya (dalam riwayat lain, tidak bisa dibuat marah hanya karena dunia dan untuk kepentinga Islam). Jika tampak kebenaran dan seorang pun tidak ada yang mengetahui serta tidak memancing amaah beliau, maka beliau pasti akan menolongnya. Beliau tidak mengutamakan kepentingan dirinya dan tidak pula mendukungnya. Jia memberi isyarat, beliau memberikankannya denga sejelas jelasnya. Jika sedang kagum, beliau membalik telapak tangannya. Jika sedang bersungguh sungguh dalam berbicara, beliau biasa memukulkan telapak tangannya yang kanan ke ibu jari tangan kirinya. Jika marah, beliau berpaling dengan sungguh sungguh (menghindarinya). Jika gembira, beliau tersenyum dengan ujung bibirnya. Tertawa beliau adalah senyuman. Senyuman beliau seperti embun yang dingin.“
Al-Hasan berkata, “Aku tidak memberitahukan semua ini kepada Al-Husein bin Ali (saudaranya) sehingga beberapa lama. Baru kemudian aku memberitahukan kepadanya, tetapi rupa rupanya ia telah mengetahuinya lebih dulu dari aku. Dia lebih dulu menanyakan kepada paman tentang apa yang aku tanyakan. Bahkan dia juga bertanya kepada ayah tentang keluar masuknya Rasulullah SAW. di majelis dan keadaan beliau secara keseluruhan, hingga tida ada sedikitpun yang tertinggal.“
Al-Hasan berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang cara masuknya Rasulullah SAW kedalam rumah. Maka Ayah menjawab,“beliau masuk rumah setelah mendapat izin untuk memasukinya. Jika menuju kerumah, beliau membagi waktu masuknya itu menjadi tiga bagian, yaitu satu bagian untuk Allah swt, satu bagian untuk keluarga beliau dan satu bagian untuk beliau sendiri. Kemudian beliau juga membagi waktu untuk dirinya, yakni keperluan dirinya dan keperluan manusia (ummat). Beliau lebih mementingkan bagian ini untuk kepentingan manusia secara umum dan khusus dan semua kepentingan mereka tidak ada sedikitpun yang terabaikan. Diantara kebiasaan beliau adalah lebih mementingkan waktunya untuk ummat. Beliau mengutamakan orang orang yang mulia karena budi pekertinya dan disesuaikan dengan bagiannya tergantung pada kadar kemuliaannya dalam agama. Diantara mereka ada yang memiliki satu keperluan, yang lain lagi dua keperluan dan yang lain lagi banyak keperluan. Karena beliau menyibukan diri dengan urusan mereka, dan beliau membuat sibuk dalam urusan yang bermaslahat bagi diri mereka dan bagi ummat manusia. Beliau biasa menanyakan keadaaan mereka dan mengabarkan tentang mereka dan mengabarkan tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dengan bersabda, “Hendaklah yang hadir memberitahu yang tidak hadir dan sampaikanlah keperluan orang yang tidak menyampaikan kepada ku. Sesungguhnya orang yang menyampaikannya kepada pemimpinnya keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya, Allah swt. Akan meneguhkan kedua kaki oran tersebut pada hari kiamat yang tidak akan ada kesengsaraan di sisi-Nya dan tidak diterima sesuatupun dari selain-Nya. Mereka bisa menemuinya sebagai orang yang sedang berkunjung dan tidak terpecah belah kecuali kaena bisikan hati. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa mereka tidak terpencar pencar kecuali karena adanya bisikan hati, kemudian mereka keluar sebagai orang yang mengerti.“
Aku(Al-Hasan) berkata, “Beritahukanlah kepadaku sifat beliau saat berbicara.“ Maka dia (Hindun bin Abu Halah) menjawab, “ Rasulullah SAW senantiasa risau, selalu berpikir, sehingga tidak ada waktu untuk beristitrahat, tidak berkata apapun jika dibutuhkan. Beliau lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri setiap perkataan dengan mulut beliau bagian tepi, berbicara dengan kata kata yang luas maknanya, perkataan tersusun, tidak dilebihkan lebihkan atau dikurangi, lembut budi pekertinya, tidak tinggi hati dan juga tidak rendah, senantiasa bersyukur walaupun mendapat nikmat yang sedikit dan tidak mencela nikmat itu, juga tidak memujinya, tidak melayani amarahnya. Jika tampak kebenaran walau hanya sedikit, beliau pasti akan menolongnya (dalam riwayat lain, tidak bisa dibuat marah hanya karena dunia dan untuk kepentinga Islam). Jika tampak kebenaran dan seorang pun tidak ada yang mengetahui serta tidak memancing amaah beliau, maka beliau pasti akan menolongnya. Beliau tidak mengutamakan kepentingan dirinya dan tidak pula mendukungnya. Jia memberi isyarat, beliau memberikankannya denga sejelas jelasnya. Jika sedang kagum, beliau membalik telapak tangannya. Jika sedang bersungguh sungguh dalam berbicara, beliau biasa memukulkan telapak tangannya yang kanan ke ibu jari tangan kirinya. Jika marah, beliau berpaling dengan sungguh sungguh (menghindarinya). Jika gembira, beliau tersenyum dengan ujung bibirnya. Tertawa beliau adalah senyuman. Senyuman beliau seperti embun yang dingin.“
Al-Hasan berkata, “Aku tidak memberitahukan semua ini kepada Al-Husein bin Ali (saudaranya) sehingga beberapa lama. Baru kemudian aku memberitahukan kepadanya, tetapi rupa rupanya ia telah mengetahuinya lebih dulu dari aku. Dia lebih dulu menanyakan kepada paman tentang apa yang aku tanyakan. Bahkan dia juga bertanya kepada ayah tentang keluar masuknya Rasulullah SAW. di majelis dan keadaan beliau secara keseluruhan, hingga tida ada sedikitpun yang tertinggal.“
Al-Hasan berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang cara masuknya Rasulullah SAW kedalam rumah. Maka Ayah menjawab,“beliau masuk rumah setelah mendapat izin untuk memasukinya. Jika menuju kerumah, beliau membagi waktu masuknya itu menjadi tiga bagian, yaitu satu bagian untuk Allah swt, satu bagian untuk keluarga beliau dan satu bagian untuk beliau sendiri. Kemudian beliau juga membagi waktu untuk dirinya, yakni keperluan dirinya dan keperluan manusia (ummat). Beliau lebih mementingkan bagian ini untuk kepentingan manusia secara umum dan khusus dan semua kepentingan mereka tidak ada sedikitpun yang terabaikan. Diantara kebiasaan beliau adalah lebih mementingkan waktunya untuk ummat. Beliau mengutamakan orang orang yang mulia karena budi pekertinya dan disesuaikan dengan bagiannya tergantung pada kadar kemuliaannya dalam agama. Diantara mereka ada yang memiliki satu keperluan, yang lain lagi dua keperluan dan yang lain lagi banyak keperluan. Karena beliau menyibukan diri dengan urusan mereka, dan beliau membuat sibuk dalam urusan yang bermaslahat bagi diri mereka dan bagi ummat manusia. Beliau biasa menanyakan keadaaan mereka dan mengabarkan tentang mereka dan mengabarkan tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dengan bersabda, “Hendaklah yang hadir memberitahu yang tidak hadir dan sampaikanlah keperluan orang yang tidak menyampaikan kepada ku. Sesungguhnya orang yang menyampaikannya kepada pemimpinnya keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya, Allah swt. Akan meneguhkan kedua kaki oran tersebut pada hari kiamat yang tidak akan ada kesengsaraan di sisi-Nya dan tidak diterima sesuatupun dari selain-Nya. Mereka bisa menemuinya sebagai orang yang sedang berkunjung dan tidak terpecah belah kecuali kaena bisikan hati. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa mereka tidak terpencar pencar kecuali karena adanya bisikan hati, kemudian mereka keluar sebagai orang yang mengerti.“
SIFAT NABI MUHAMMAD SAW (baca : Shalallahu 'alaihi wassallam) Bagian Ke-2
Al-Hasan berkata,“Aku bertanya kepada paman tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika keluar rumah maka dia menjawab,“ Rasulullah SAW biasa menahan lidahnya kecuali terhadap perkataan yang dapat memberi manfaat kepada mereka, menyatukan mereka dan tidak membuat mereka pergi menghindar. Beliau menghormati orang yang dihormati di setiap kaum dan mengangkatnya sebagai pemimpin mereka, memperingatkan manusia, menjaga keadaan mereka, menunjukan wajah yang ramah terhadap siapapun, selalu menanyakan keadaan para sahabatnya, bertanya kepada para sahabatnya tentang keadaaan yang terjadi ditengah tengah mereka, mengatakan bagus terhadap yang bagus, mengatakan buruk terhadap sesuatu yang buruk dan berusaha memperbaikinya, mencari penyelesaian dalam setiap urusan, dan tidak malas dan tida lalai, karena takut para sahahat ikut ikutan lalai dan menyimpang. Setiap keadaaan harus di letakan di tempatnya, tidak pernah meremehkan dan berlebih-lebihan. Orang orang yang mengkuti beliau adalah orang orang yang baik diantara manusia. Menurut beliau, yang paling mulia adalah yang paling luas nasehatnya. Yang paling tinggi kedudukannya disisi beliau adalah orang yang paling baik pertolongan (nushroh) dan bantuan (ikhrom).“
Lalu aku berkata,“ Lalu aku bertanya kepada paman tentang gambaran majelis Rasulullah SAW“ maka dia menjawab, “ Rasulullah SAW tidak duduk dan berdiri, melainkan dalam keadaan berdzikir, tidak memilih tempat tempat tertentu dan melarang orang lain menempatinya. Jika berkumpul dengan para sahabatnya, beliau duduk di bagian akhir dari majelis itu, dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berbuat seperti itu. Beliau memberikan kepada teman duduknya apa yang menjadi bagiannya. Sehingga orang orang tidak ada yang menganggap bahwa tidak ada yang terhormat bagi beliau. Beliau tidak pernah menolak orang yang meminta keperluan atau kalau beliau tidak dapat menunaikannya, beliau akan mengatakan tidak dapat menunaikannya. Orang orang merasakan betapa mulianya akhlak beliau dan beliau sangat ramah terhadap mereka, sehingga beliau menjadi bapak bagi mereka, dan mereka memperoleh hak yang sama di sisi beliau. Majelis beliau adalah majelis yang penuh kasih sayang, rasa malu, sabar dan amanah. Didalamnya tidak ada suara yang keras, yang haram tidak dicela, tida ada aib yang disebar luaskan, selalu ada pertimbangan antara dua permasalahan. Mereka saling berlomba untuk bertakwa dan bertawadhu’. Yang tua dihormati dan yang muda disayangi. Orang yang memiliki keperluan dilayani dan orang asing dijaga.“
Al-Hasan berkata,“Kemudian aku bertanya kepada paman tentang kebiasaan Rasulullah SAW ketika berada ditengah tengah para sahabat. Maka dia menjawab,“ Wajah Rasulullah SAW senantiasa tampak berseri, luwes, lemah lembut, tidak kasar, tidak keras, tidak bersuara lantang, tidak kejam, tidak suka mencaci maki, tidak banyak bercanda, melupakan apa yang menjadi minatnya, tidak membuat orang yang mempunyai keperluan terhadap beliau putus asa untuk mendapatkan bagiannya dan tidak membuatnya kecewa karena takut ditelantarkan. Jika berada di majelis beliau, maka orang orang melihat tiga perkara, yaitu beliau tidak menghina siapapun, tidak mencari cari kesalahan siapapun dan tidak mengucapkan perkataan kecuali yang mendatangkan keberkahan (pahala). Jika beliau berbicara para sahabat pun menunduk (tawajjuh), seakan akan diatas mereka ada seekor burung yang hinggap. Jika beliau diam, para sahabat pun diam, kecuali jika diminta beliau untuk berbicara, sehingga para sahabat tidak pernah saling berdebat dihadapan beliau. Beliau tersenyum ketika melihat sesuatu membuat para sahabat tersenyum, dan mengagumi sesuatu yang membuat mereka kagum. Beliau bersabar menghadapi orang asing yang berkata kasar terhadap beliau dan banyak meminta, walaupun para sahabat tidak sabar mendengar kata kata oran asing itu. Karena itu beliau bersabda,“ Jika kalian melihat seseorang yang memunyai keperluan, maka tolonglah ia.“ Beliau tidak suka menerima pujian dari siapapun, kecuali yang sewajarnya. Beliau tidak penah memotong perkataan orang lain hingga orang tiu memotong sendiri perkataannya dan beranjak pergi.“
Al-Hasan berkata, “Aku bertanya lagi kepada paman tentang diamnya Rasulullah SAW.“ maka paman menjawab,“ Diamnya Rasulullah SAW disebabkan oleh empat perkara, yaitu diam karena bersikap sopan santun, waspada, mempertimbangkan sesuatu, dan berfikir. Diam beliau intuk mempertimbangkan sesuatu adalah mempertemukan jalan keluar dari permasalahan dan mendengarkan apa yang terjadi ditengah tengah manusia. Diam beliau untuk berfikir adalah untuk memikirkan hal hal yang kekal dan sementara. Dalam diri beliau tertanam keramahan dan kesabaran, sehingga beliau tidak akan mudah marah karena suatu hal dan tidak ada yang beliau takuti (kecuali Allah SWT.) Yang dimaksud beliau memiliki kewaspadaan adalah bahwa beliau berwaspada denga cara yang baik dan melaksanakannya untuk kepentingan manusia dunia dan akherat.“
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan didalam Al-Ishabah:10/161-162, bahwa pernyataan pernyataan tersebut dikeluarkan oleh At Tirmidzi, Al Baghawi, dan Ath Thabrani, Ibnu Mandah mengeluarkannya dari jalan Ya’kub At Taimi dari Ibnu Abbas r.a., kemudian dia menyebutkan hadist diatas.
At-Tirmidzi telah meriwayatkan dengan panjang lebar di dalam kita As-Syamail. Didalamnya dia menyebutkan hadist dari saudaranya, Al-Husein, dari Ayahnya, Ali bin Abi Thalib r.a. Al Baihaqi meriwayakan dalam Ad-Dalalail dai Al Hakim dengan isnadnya dari Al Hasan, kemudian dia menyebutkan sebagaimana yang disebutkan dalam Ibnu Katsir didalam kitab Al Bidayah : 1/137. Ar-Rauyani, Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir juga meriwatkan didalam kitab Kanzul Umal: 4/32, sedangkan Al Baghawi didalam Al-Ishabah:3/611.
Lalu aku berkata,“ Lalu aku bertanya kepada paman tentang gambaran majelis Rasulullah SAW“ maka dia menjawab, “ Rasulullah SAW tidak duduk dan berdiri, melainkan dalam keadaan berdzikir, tidak memilih tempat tempat tertentu dan melarang orang lain menempatinya. Jika berkumpul dengan para sahabatnya, beliau duduk di bagian akhir dari majelis itu, dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berbuat seperti itu. Beliau memberikan kepada teman duduknya apa yang menjadi bagiannya. Sehingga orang orang tidak ada yang menganggap bahwa tidak ada yang terhormat bagi beliau. Beliau tidak pernah menolak orang yang meminta keperluan atau kalau beliau tidak dapat menunaikannya, beliau akan mengatakan tidak dapat menunaikannya. Orang orang merasakan betapa mulianya akhlak beliau dan beliau sangat ramah terhadap mereka, sehingga beliau menjadi bapak bagi mereka, dan mereka memperoleh hak yang sama di sisi beliau. Majelis beliau adalah majelis yang penuh kasih sayang, rasa malu, sabar dan amanah. Didalamnya tidak ada suara yang keras, yang haram tidak dicela, tida ada aib yang disebar luaskan, selalu ada pertimbangan antara dua permasalahan. Mereka saling berlomba untuk bertakwa dan bertawadhu’. Yang tua dihormati dan yang muda disayangi. Orang yang memiliki keperluan dilayani dan orang asing dijaga.“
Al-Hasan berkata,“Kemudian aku bertanya kepada paman tentang kebiasaan Rasulullah SAW ketika berada ditengah tengah para sahabat. Maka dia menjawab,“ Wajah Rasulullah SAW senantiasa tampak berseri, luwes, lemah lembut, tidak kasar, tidak keras, tidak bersuara lantang, tidak kejam, tidak suka mencaci maki, tidak banyak bercanda, melupakan apa yang menjadi minatnya, tidak membuat orang yang mempunyai keperluan terhadap beliau putus asa untuk mendapatkan bagiannya dan tidak membuatnya kecewa karena takut ditelantarkan. Jika berada di majelis beliau, maka orang orang melihat tiga perkara, yaitu beliau tidak menghina siapapun, tidak mencari cari kesalahan siapapun dan tidak mengucapkan perkataan kecuali yang mendatangkan keberkahan (pahala). Jika beliau berbicara para sahabat pun menunduk (tawajjuh), seakan akan diatas mereka ada seekor burung yang hinggap. Jika beliau diam, para sahabat pun diam, kecuali jika diminta beliau untuk berbicara, sehingga para sahabat tidak pernah saling berdebat dihadapan beliau. Beliau tersenyum ketika melihat sesuatu membuat para sahabat tersenyum, dan mengagumi sesuatu yang membuat mereka kagum. Beliau bersabar menghadapi orang asing yang berkata kasar terhadap beliau dan banyak meminta, walaupun para sahabat tidak sabar mendengar kata kata oran asing itu. Karena itu beliau bersabda,“ Jika kalian melihat seseorang yang memunyai keperluan, maka tolonglah ia.“ Beliau tidak suka menerima pujian dari siapapun, kecuali yang sewajarnya. Beliau tidak penah memotong perkataan orang lain hingga orang tiu memotong sendiri perkataannya dan beranjak pergi.“
Al-Hasan berkata, “Aku bertanya lagi kepada paman tentang diamnya Rasulullah SAW.“ maka paman menjawab,“ Diamnya Rasulullah SAW disebabkan oleh empat perkara, yaitu diam karena bersikap sopan santun, waspada, mempertimbangkan sesuatu, dan berfikir. Diam beliau intuk mempertimbangkan sesuatu adalah mempertemukan jalan keluar dari permasalahan dan mendengarkan apa yang terjadi ditengah tengah manusia. Diam beliau untuk berfikir adalah untuk memikirkan hal hal yang kekal dan sementara. Dalam diri beliau tertanam keramahan dan kesabaran, sehingga beliau tidak akan mudah marah karena suatu hal dan tidak ada yang beliau takuti (kecuali Allah SWT.) Yang dimaksud beliau memiliki kewaspadaan adalah bahwa beliau berwaspada denga cara yang baik dan melaksanakannya untuk kepentingan manusia dunia dan akherat.“
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan didalam Al-Ishabah:10/161-162, bahwa pernyataan pernyataan tersebut dikeluarkan oleh At Tirmidzi, Al Baghawi, dan Ath Thabrani, Ibnu Mandah mengeluarkannya dari jalan Ya’kub At Taimi dari Ibnu Abbas r.a., kemudian dia menyebutkan hadist diatas.
At-Tirmidzi telah meriwayatkan dengan panjang lebar di dalam kita As-Syamail. Didalamnya dia menyebutkan hadist dari saudaranya, Al-Husein, dari Ayahnya, Ali bin Abi Thalib r.a. Al Baihaqi meriwayakan dalam Ad-Dalalail dai Al Hakim dengan isnadnya dari Al Hasan, kemudian dia menyebutkan sebagaimana yang disebutkan dalam Ibnu Katsir didalam kitab Al Bidayah : 1/137. Ar-Rauyani, Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir juga meriwatkan didalam kitab Kanzul Umal: 4/32, sedangkan Al Baghawi didalam Al-Ishabah:3/611.
Kisah Rasa Takutnya Abu Bakar r.a Kepada Allah SWT (baca : Allah Subhana wa Ta’ala)
Sesuai kesepakatan ahli sunnah, Abu Bakar r.a adalah seorang yang paling utama diantara seluruh manusia di dunia ini selain Anbiya a.s. Keyakinannya demikian tinggi, sehingga Rasulullah SAW sendiri telah memberi kabar gembira bahwa ia akan menjadi pemimpin satu jemaah di surga kelak. Semua pintu surga akan memanggil namanya dan menyampaikan kabar gembira kepadanya. Nabi SAW bersabda,”Orang yang paling dahulu masuk surga dikalangan ummatku adalah Abu Bakar r.a.” Walaupun demikian, Abu Bakar r.a justru berkata,”Seandainya aku menjadi sebatang pohon yang akhirnya ditebang.” Ia juga berkata,”Seandainya aku menjadi rumput yang dimakan hewan.” Kadangkala ia berkata,” Seandainya aku hanya menjadi rambut seorang mukmin.” Suatu ketika, ia pernah berada di dalam sebuah taman, sedangkan didekatnya ada seekor hewan yang sedang duduk. Sambil menarik nafas dingin, Abu Bakar r.a berkata,”Wahai, alangkah nikmatnya hidupmu, kamu makan, minum dan berkeliaran dibawah pepohonan, tetapi di akherat tidak ada hisab bagimu. Andaikan Abu Bakar menjadi sepertimu.” (Tharikhul-Khulafa).
Rabi’ah Aslami r.a bercerita,”Suatu ketika, pernah terjadi kesalahpahaman antara aku dengan Abu Bakar. Ia telah berbicara kata kata kasar kepadaku, tetapi aku diamkan saja. Ketika ia menyadari kesalahannya, ia berkata kepadaku,“Ucapkanlah kata kata kasar kepadaku, sehingga menjadi balasan bagiku.“ Namun aku menolaknya. Ia berkata,“Kamu harus mengucapkannya. Jika tidak, akan kuadukan kepada Rasulullah SAW.“ Aku tetap tidak menjawab apapun. Lalu ia bangun dan pergi meninggalkanku. Ketika itu, beberapa orang Banu Aslam yang menyaksikan kejadian tersebut berkata.“Orang ini aneh sekali, ia sendiri yang memulai dan ia sendiri yang mengadukannya kepada Rasulullah SAW.“ Kataku.“Tahukah kamu siapa dia? Dialah Abu Bakar r.a. Jika ia marah, Rasulullah SAW kekasih Allah, tentu ia akan marah kepada ku dan murka beliau adalah murka Allah. Jika demikian, siapakah yang dapat menyelamatkan kehancuran Rabi’ah?“ Lalu aku pergi menemui Nabi SAW dan menceritakan kejadian tersebut. Sabda beliau,“Baik, benar kamu tidak membalas dan tidak menjawabnya, tatapi sebaiknya kamu berkata, : Semoga Allah memaafkanmu wahai Abu Bakar.“
Faedah :
Inilah keteladanan rasa takut kepada Allah. Hanya karena sepotong kalimat yang sepele, Abu Bakar r.a demikian takut akan balasannya di akherat. Ia sangat cemas dan khawatir sehingga ia sendiri yang minta dibalas, lalu mengadukannya kepada Nabi SAW agar Rabi’ah r.a membalas perbuatannya.
Pada hari ini, kita mudah untuk saling mencaci tanpa rasa khawatir sedikitpun akan balasan perbuatan kita kelak di akherat atau hari Hisab.
Kisah Penderitaan Khabab bin Al-Arat rodhiallahu 'anhu
Khabab bin Al-Arat r.a adalah seorang sahabat yang tubuhnya dipenuhi keberkahan, karena berbagai ujian dan penderitaan di jalan Allah yang telah ia alami. Pada masa awal Islam, ia masuk Islam ketika baru ada lima hingga enam orang yang menerima Islam, sehingga cukup lama ia bergelut dengan penderitaan. Ia pernah dipakaikan baju besi lalu di baringkan di bawah terik matahari yang sangat panas. Keringat bercucuran dari tubuhnya. Begitu lama ia disiksa di bawah terik matahari, sehingga daging punggungnya mengelupas karena panas. Ia adalah hamba sahaya milik seorang wanita. Ketika tuannya mengetahui bahwa ia sering menjumpai Rasulullah saw. maka tuannya menghukumnya dengan menusukan batang besi panas ke kepala Khabab bin Al-Arat r.a
Pada masa khalifah Umar bin Khaththab r.a , Umar r.a meminta Khabab bin Al-Arat r.a menceritakan kembali penderitaannya dahulu pada awal Islam. Khabab bin Al-Arat r.a berkata, “Lihatlah punggungku ini.“ Begitu Umar r.a melihat punggungnya, ia berseru, “Belum pernah kulihat punggung seperti ini.“ Khabab bin Al-Arat r.a berkata, “Aku diseret diatas timbunan bara api yang menyala sehingga lemak dan darah yang mengalir dari punggung ku memadamkan apinya.“
Setelah Islam jaya dan pintu pintu kemenangan telah banyak diraih, Khabab bin Al-Arat r.a menangis, “ Jangan jangan Allah telah membalas penderitaan kita. Aku khawatir balasan ini hanya di dunia.“ Khabab bin Al-Arat r.a meriwayatkan “Suatu ketika, Nabi saw. shalat lama sekali, tidak seperti biasanya. Lalu ada seorang sahaba yang bertanya tentang shalatnya itu. Jawab Nabi saw. “Ini adalah shalat yang penuh harap dan takut. Aku mengajukan tiga permintaan kepada Allah. Dua telah dikabulkan dan satunya ditolak. Aku memohon agar umatku tidak di musnahkan karena kelaparan, doa ini dikabulkan. Kedua aku meminta agar umatku tidak di kuasai oleh musuh yang akan menghancurkan sama sekali, dan doa inipun dikabulkan_Nya. Yang ketiga, aku meminta agar tidak ada pertikaian di antara umatku, tetapi doa ini tidak dikabulkan-Nya.“
Khabab bin Al-Arat r.a wafat pada usia 37 tahun. Ia adalah sahabat yang pertama kali dikuburkan di Kuffah. Setelah wafatnya, Ali .r.a . pernah melewati kuburnya dan berkata, “Semoga Allah merahmati Khabab. Dengan semangatnya, ia telah memeluk Islam dan ia rela menghabiskan waktunya untuk hijrah, jihad, dan menerima segala penderitaan serta musibah. Penuh berkahlah orang yang selalu mengingat hari kiamat dan selalu bersiap siap menerima kitab amalnya pada hari hisab, dan ia menjalani kehidupan ini dengan menerima apa adanya, dan ia membuat ridha Allah.”
Pada masa khalifah Umar bin Khaththab r.a , Umar r.a meminta Khabab bin Al-Arat r.a menceritakan kembali penderitaannya dahulu pada awal Islam. Khabab bin Al-Arat r.a berkata, “Lihatlah punggungku ini.“ Begitu Umar r.a melihat punggungnya, ia berseru, “Belum pernah kulihat punggung seperti ini.“ Khabab bin Al-Arat r.a berkata, “Aku diseret diatas timbunan bara api yang menyala sehingga lemak dan darah yang mengalir dari punggung ku memadamkan apinya.“
Setelah Islam jaya dan pintu pintu kemenangan telah banyak diraih, Khabab bin Al-Arat r.a menangis, “ Jangan jangan Allah telah membalas penderitaan kita. Aku khawatir balasan ini hanya di dunia.“ Khabab bin Al-Arat r.a meriwayatkan “Suatu ketika, Nabi saw. shalat lama sekali, tidak seperti biasanya. Lalu ada seorang sahaba yang bertanya tentang shalatnya itu. Jawab Nabi saw. “Ini adalah shalat yang penuh harap dan takut. Aku mengajukan tiga permintaan kepada Allah. Dua telah dikabulkan dan satunya ditolak. Aku memohon agar umatku tidak di musnahkan karena kelaparan, doa ini dikabulkan. Kedua aku meminta agar umatku tidak di kuasai oleh musuh yang akan menghancurkan sama sekali, dan doa inipun dikabulkan_Nya. Yang ketiga, aku meminta agar tidak ada pertikaian di antara umatku, tetapi doa ini tidak dikabulkan-Nya.“
Khabab bin Al-Arat r.a wafat pada usia 37 tahun. Ia adalah sahabat yang pertama kali dikuburkan di Kuffah. Setelah wafatnya, Ali .r.a . pernah melewati kuburnya dan berkata, “Semoga Allah merahmati Khabab. Dengan semangatnya, ia telah memeluk Islam dan ia rela menghabiskan waktunya untuk hijrah, jihad, dan menerima segala penderitaan serta musibah. Penuh berkahlah orang yang selalu mengingat hari kiamat dan selalu bersiap siap menerima kitab amalnya pada hari hisab, dan ia menjalani kehidupan ini dengan menerima apa adanya, dan ia membuat ridha Allah.”
Kisah Rasa Takut Umar bin Khathab rohiallahu ‘anhu kepada Allah Subhana wa Ta'ala
Kadangkala Umar bin Khathab r.a memegang sebatang kayu dan berkata,“Seandainya aku menjadi batang kayu ini.“ Terkadang ia berkata,“Seandainya ibuku tidak melahirkanku.“ Suatu ketika, saat ia sibuk dengan pekerjaannya, seseorang mendatanginya dan berkata,“Si fulan telah. Menzhalimiku. Engkau hendaknya menuntut balas untukku.“ Umar bin Khathab r.a segera mengambil sebatang cambuk dan memukul orang itu sambil berkata,“Ketika kusediakan waktu untukmu, kamu tidak datang, sekarang aku sedang sibuk dengan urusan lain, kamu datang dan memintaku untuk menuntut balas.“ Orang itu pun pergi. Lalu Umar bin Khathab r.a menyuruh kembali orang tersebut. Setelah datang, Umar bin Khathab r.a memberikan cambuk kepadanya dan berkata,“Balaslah aku.“ Jawab orang itu,“Aku telah memaafkanmu karena Allah.“ Umar bin Khathab r.a segera pulang kerumahnya dan mengerjakan shalat dua rakaat. Lalu ia berbicara kepada dirinya sendiri,“Hai Umar, dahulu kamu rendah, sekarang Allah meninggikan derajatmu. Dahulu kamu sesat, lalu Allah memberimu hidayah. Dahulu kamu hina, lalu Allah memuliakanmu, dan Dia telah menjadikanmu sebagai raja bagi manusia. Sekarang telah datang seorang laki laki yang mengadukan nasibnya dan berkata,“Aku telah dizhalimi, balaskanlah untukku, tetapi kamu telah memukulnya. Kelak pada hari kiamat, apa jawabanmu dihadapaan Rabbmu?“ Lama sekali Umar bin Khathab r.a menghukumi dirinya senditi. (Usudul-Ghabah).
Pelayan Umar bin Khathab r.a, Aslam r.a, berkata,“Suatu ketika Umar pergi ke Harrah (salah satu kota dekat Madinah). Lalu terlihat nyala api di atas gunung. Umar bin Khathab r.a berkata,“Itu mungkin kafilah yang kemalaman yang tidak sampai ke kota, mereka terpaksa menunggu diluar kota. Marilah kita lihat keadaan mereka, bagaimana penjagaan malamnya!“ Setibanya disana, tampak seorang wanita dengan beberapa anak kecil menangis di sekelilingnya. Wanita itu sedang merebus air dalam kuali diatas tungku yang menyala. Umar bin Khathab r.a memberi salam kepada wanita tersebut dan meminta izin untuk mendekat. Ia bertanya,”mengapa anak-anak itu menangis?” Jawab wanita itu, “Mereka kelaparan” Umar bin Khathab r.a bertanya,“ Apa yang sedang engkau masak dalam panci itu? Jawabnya,”Panci ini berisi air, hanya untuk menghibur anak-anak agar mereka senang dengan menyangka aku sedang memasak makanan untuk mereka, sehingga mereka tertidur. Semoga Allah menghukum Amirul Mukminin Umar yang tak mau tahu kesusahan ini.” Umar bin Khathab r.a menangis dan berkata,“Semoga Allah merahmatimu, tetapi bagaimana mungkin Umar mengetahui keadaanmu?” Jawabnya,”Dia pemimpin kami, tetapi tidakmemperhatikan keadaan kami.”
Aslam r.a melanjutkan ceritanya,” Lalu Umar r.a mengajakku kembali ke Madinah. Ia pun mengeluarkan gandum, kurma, minyak lemak, dan beberapa helai pakaian, juga beberpa dirham dari Baitul-Mal. Setelah karung penuh, ia berkata keadaku,“Wahai Aslam letakan karung ini dipundakku.“ Aku menjawab,“Biarkan aku yang membawanya, ya Amirul Mukminin.“ Sahut Umar bin Khathab r.a,“Tidak, letakan saja di pundakku/“ Dua tiga kali aku menawarkan diri dengan sedikit memaksa. Ia berkata ,“Apakah kamu akan memikul dosa-dosa ku pada hari kiamat? Tidak, aku sendiri yang akan memikulnya dan yang bertanggung jawab terhadap hal ini.“ Aku pun terpaksa meletakkan karung itu kebahunya. Lalu ia bawa karung tadi ke kemah tadi dan aku ikut bersamanya. Setibanya disana, ia langsung memasukkan tepung dan sedikit lemak, ditambah kurma lalu diaduk, dan ia sendiri yang menyalakan tungkunya.“
Aslam r.a bercerita,“Kulihat asap mengenai janggutnya yang lebat, ia memasak sampai matang. Lalu, ia sendiri yang menghidangkan makanan itu dengan tangannya yang penuh berkah kepada keluarga itu. Selesai makan, anak-anak itu bermain dengan riangnya. Wanita itu pun sangat senang, ia berkata,“Semoga Allah memberimu balasan yang baik, seharusnya engkau lebih berhak menjadi khalifah daripada Umar.“ Untuk menyenangkan hati ibu tadi, Umar bin Khathab r.a berkata,“Jika engkau menjumpai khalifah, engkau akan menjumpaiku disana.“ Kemudian Umar bin Khathab r.a. meletakkan kedua tangannya dibawah dan duduk diatas tanah. Beberapa saat kemudian ia meninggalkan mereka. Umar bin Khathab r.a berkata kepada Aslam r.a.“Aku tadi duduk disitu karena aku telah melihat mereka menangis dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa.“(Asyaru Masyahir).
Dalam shalat shalat shubuhnya, Umar bin Khathab r.a selalu membaca surat-surat Al-Quran yang panjang. Kadangkala ia membaca surat Al-Kahfi, Thaha, dan surat lainnya sambil menangis terisak isak, sehingga suara tangisnya terdengar hingga beberapa shaf ke belakang. Suatu ketika, Umar r.a membaca surat Yusuf dalam shalat shubuhnya. Ketika itu sampai di ayat, yang artinya :
“Ya’qub menjawab, sesungguhnya hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Yusuf : 86).
Ia menangis terisak isak sampai tidak terdengar suaranya. Terkadang ia terus membaca Al-Quran sambil menangis didalam shalat tahajjudnya hingga terjatuh sakit.
Faedah :
Inilah keteladanan rasa takut seseorang kepada Allah, yang namanya sangat ditakuti raja raja. Setelah 1300 tahun berlalu, adakah hari ini seorang raja, pejabat, atau pemimpin biasa yang memiliki tanggung jawab dan kasih saying terhadap rakyatnya sedemikian rupa seperti Umar bin Khathab r.a.?
Pelayan Umar bin Khathab r.a, Aslam r.a, berkata,“Suatu ketika Umar pergi ke Harrah (salah satu kota dekat Madinah). Lalu terlihat nyala api di atas gunung. Umar bin Khathab r.a berkata,“Itu mungkin kafilah yang kemalaman yang tidak sampai ke kota, mereka terpaksa menunggu diluar kota. Marilah kita lihat keadaan mereka, bagaimana penjagaan malamnya!“ Setibanya disana, tampak seorang wanita dengan beberapa anak kecil menangis di sekelilingnya. Wanita itu sedang merebus air dalam kuali diatas tungku yang menyala. Umar bin Khathab r.a memberi salam kepada wanita tersebut dan meminta izin untuk mendekat. Ia bertanya,”mengapa anak-anak itu menangis?” Jawab wanita itu, “Mereka kelaparan” Umar bin Khathab r.a bertanya,“ Apa yang sedang engkau masak dalam panci itu? Jawabnya,”Panci ini berisi air, hanya untuk menghibur anak-anak agar mereka senang dengan menyangka aku sedang memasak makanan untuk mereka, sehingga mereka tertidur. Semoga Allah menghukum Amirul Mukminin Umar yang tak mau tahu kesusahan ini.” Umar bin Khathab r.a menangis dan berkata,“Semoga Allah merahmatimu, tetapi bagaimana mungkin Umar mengetahui keadaanmu?” Jawabnya,”Dia pemimpin kami, tetapi tidakmemperhatikan keadaan kami.”
Aslam r.a melanjutkan ceritanya,” Lalu Umar r.a mengajakku kembali ke Madinah. Ia pun mengeluarkan gandum, kurma, minyak lemak, dan beberapa helai pakaian, juga beberpa dirham dari Baitul-Mal. Setelah karung penuh, ia berkata keadaku,“Wahai Aslam letakan karung ini dipundakku.“ Aku menjawab,“Biarkan aku yang membawanya, ya Amirul Mukminin.“ Sahut Umar bin Khathab r.a,“Tidak, letakan saja di pundakku/“ Dua tiga kali aku menawarkan diri dengan sedikit memaksa. Ia berkata ,“Apakah kamu akan memikul dosa-dosa ku pada hari kiamat? Tidak, aku sendiri yang akan memikulnya dan yang bertanggung jawab terhadap hal ini.“ Aku pun terpaksa meletakkan karung itu kebahunya. Lalu ia bawa karung tadi ke kemah tadi dan aku ikut bersamanya. Setibanya disana, ia langsung memasukkan tepung dan sedikit lemak, ditambah kurma lalu diaduk, dan ia sendiri yang menyalakan tungkunya.“
Aslam r.a bercerita,“Kulihat asap mengenai janggutnya yang lebat, ia memasak sampai matang. Lalu, ia sendiri yang menghidangkan makanan itu dengan tangannya yang penuh berkah kepada keluarga itu. Selesai makan, anak-anak itu bermain dengan riangnya. Wanita itu pun sangat senang, ia berkata,“Semoga Allah memberimu balasan yang baik, seharusnya engkau lebih berhak menjadi khalifah daripada Umar.“ Untuk menyenangkan hati ibu tadi, Umar bin Khathab r.a berkata,“Jika engkau menjumpai khalifah, engkau akan menjumpaiku disana.“ Kemudian Umar bin Khathab r.a. meletakkan kedua tangannya dibawah dan duduk diatas tanah. Beberapa saat kemudian ia meninggalkan mereka. Umar bin Khathab r.a berkata kepada Aslam r.a.“Aku tadi duduk disitu karena aku telah melihat mereka menangis dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa.“(Asyaru Masyahir).
Dalam shalat shalat shubuhnya, Umar bin Khathab r.a selalu membaca surat-surat Al-Quran yang panjang. Kadangkala ia membaca surat Al-Kahfi, Thaha, dan surat lainnya sambil menangis terisak isak, sehingga suara tangisnya terdengar hingga beberapa shaf ke belakang. Suatu ketika, Umar r.a membaca surat Yusuf dalam shalat shubuhnya. Ketika itu sampai di ayat, yang artinya :
“Ya’qub menjawab, sesungguhnya hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Yusuf : 86).
Ia menangis terisak isak sampai tidak terdengar suaranya. Terkadang ia terus membaca Al-Quran sambil menangis didalam shalat tahajjudnya hingga terjatuh sakit.
Faedah :
Inilah keteladanan rasa takut seseorang kepada Allah, yang namanya sangat ditakuti raja raja. Setelah 1300 tahun berlalu, adakah hari ini seorang raja, pejabat, atau pemimpin biasa yang memiliki tanggung jawab dan kasih saying terhadap rakyatnya sedemikian rupa seperti Umar bin Khathab r.a.?
Kisah Uang Tunjangan Umar bin Khathab rodhiallahu ‘anhu dari Baitul Mal
Umar r.a juga biasa berdagang. Ketika menjadi khalifah, keperluannya dipenuhi dari Baitul-Mal. Ia mengumpulkan rakyatnya di Madinah Munawarah, lalu berkata,“Aku biasa berdagang dan sekarang kalian telah memberiku kesibukan sehingga aku tidak dapat berdagang lagi. Sekarang bagaimanakah dengan mata pencaharianku?“ Orang orang berselisih pendapat jumlah tunjangan Umar r.a, sedangkan Ali r.a hanya berdiam diri. Umar r.a bertanya kepadanya,“Bagaimanakah pendapatmu, wahai Ali?“ Jawab Ali r.a,“Ambillah uang sekedar dapat mencukupi keperluan keluargamu.“ Umar r.a sangat menyetujui usul Ali r.a. Maka ditentukanlah uang tunjangan untuk Umar r.a.
Beberapa lama kemudian, beberapa orang sahabat termasuk Ali, Ustman, Zubeir, dan Thalhah r.hum mengusulkan agar uang tunjangan Umar r.a ditambah karena terlalu sedikit. Tetapi tidak seorangpun yang berani mengemukakannya secara langsung kepada Umar r.a. Akhirnya, mereka menemui Hafshah r.ha, putri Umar r.a, juga Ummul-Mukminin istri Rasulullah saw. Mereka meminta agar ia mengajukan usul tersebut kepada Umar r.a tanpa menyebutkan nama nama mereka. Ketika Hafshah r.ha mengajukan usul tersebut, wajah Umar r.a langsung memerah karena marah. Umar r.a bertanya,“ Siapakah yang mengusulkan ini?“ Sahut Hafshah r.ha,“Jawablah dulu bagaimana pendapatmu.“ Umar r.a berkata,“Andaikan aku tahu siapa mereka, niscaya akan aku ubah muka mereka(akan memberikan hukuman yang membekas di wajah). Hafshah r.ha, ceritakanlah kepadaku tentang pakaian Nabi saw yang terbaik, yang pernah beliau miliki di rumahnya?“ Jawab Hafshah r,ha,“Beliau memiliki dua pakaian berwarna kemerahan yang biasa beliau kenakan pada hari Jum’at atau ketika menemui tamu.“ Kata Umar r.a,“Sebutkanlah makanan terlezat, yang dimakan oleh Nabi saw di rumahmu.“ Jawab Hafshah r.ha,“Roti yang terbuat dari tepung kasar lalu dicelupkan didalam kaleng berisi minyak. Kami memakannya ketika masih panas, kemudian dimakan dalam beberapa lipatan. Pernah pada suatu hari saya menyapu sepotong roti dengan bekas bekas minyak samin yang terdapat dalam kaleng minyak yang hampir kosong. Beliau SAW memakannya dengan penuh kenikmatan dan beliau juga ingin membagi bagikannya kepada orang lain.“ Umar r.a berkata,“Sebutkan, apa alas tidur terbaik yang pernah digunakan oleh Rasulullah SAW di rumahmu?“ Hafshah r.ha menjawab,“Sehelai kain tebal. Pada musim panas, kain itu dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua, separuh digunakan untuk alas tidurnya dan separuhnya lagi untuk selimutnya.“ Umar r.a berkata,“Nah Hafshah, sekarang pergilah dan katakan kepada mereka bahwa Nabi SAW telah menunjukan contoh kehidupan yang terbaik dan mencukupkan diri dengan mengharapkan akherat dan aku harus mengikutinya. Perumpamaanku dengan dua orang sahabatku, yaitu Rasulullah saw dan Abu Bakar r.a adalah seperti tiga orang musafir yang sedang melalui sebuah jalan yang sama. Musafir yang pertama telah melalui jalan tadi dan telah sampai ketujuan. Demikian juda musafir yang kedua, ia telah mengikuti jalan orang yang pertama, sehingga ia pun telah sampai ketempat tujuan dan yang ketiga, sekarang ia baru memulai perjalanannya. Jika ia menempuh jalan yang telah ditempuh orang orang sebelumnya, maka ia akan menjumpai keduanya ditujuan yang sama. Jika ia tidak menempuh jalan orang orang yang mendahuluinya, tentu ia tidak akan sampai ke tempat mereka.“
Faedah
Inilah contoh kehidupan seseorang yang sangat ditakuti para raja itu, namun ia menjalani kehidupannya dengan zuhud. Pada suatu hari, ia berkhutbah didepan para sahabatnya dengan mengenakan kain sarung dengan dua belas tambalan, salah satunya ditambal dengan kulit. Suatu ketika, ia terlambat datang ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Ia berkata kepada jemaah,“Maafkan, aku terlambat karena harus mencuci pakaianku terlebih dahulu, aku tidak memiliki baju lain untuk dipakai.“(Asyar).
Juga pernah terjadi, pada suatu ketika Umar r.a sedang menikmati makanannya. Lalu datanglah pelayannya memberitahu bahwa Utbah bin Abi farqah ingin menemuinya. Setelah Umar r.a mengizinkan Utbah masuk, ia mengajak Utbah makan bersama.Utbah pun menerima tawaran itu. Tetapi roti yang dihidangkan adalah roti yang keras dan kasar sehingga ia kesulitan untuk menelannya. Ia bertanya,“Mengapa engkau tidak menggunakan tepung halus untuk roti?“ Jawab Umar r.a,“Apakah semua orang islam mampu memakan roti dari tepung halus?“ Sahut Utbah,“Tidak semua.“ Sahut Umar r.a,“Tampaknya kamu ingin agar aku menikmati semua jenis kenikmatan hidup di dunia ini.“(Usudul-Ghabah).
Kisah kisah seperti ini bukan hanya berjumlah ratusan atau ribuan, tetapi ratusan ribu kisah yang menunjukan pengorbanan dan perjalanan hidup para sahabat r.a. Sekarang kita tidak dapat meniru kehidupan mereka karena kelemahan kita, kita tidak mampu menanggung kesusahan dalam menjalani kehidupan seperti mereka. Karena itu pulalah para ahli sufi tidak mengizinkan bermujahadah seperti itu karena hal itu dapat melemahkan kita. Dari awalnya kita memang tidak berdaya, sedangkan mereka telah memiliki kekuatan untuk menjalani kehidupan seperti itu sejak awal. Yang sangat penting bagi diri kita adalah agar selalu memiliki semangat dan cita cita serta usaha untuk dapat mengikuti langkah mereka sehingga dapat meredam keinginan dunia kita dan pandangan kita pun semakin menunduk kebawah.
Pada zaman ini sangatlah penting menjaga keseimbangan ketika orang orang tengah disibukan dengan kenikmatan duniawi, sehingga timbil persaingan untuk mendapatkan harta. Pandangan mereka hanya tertuju pada kebendaan, mereka merasa rugi jika ada orang lain yang lebih kaya dari mereka.
untuk lebih banyaknya saudara saudari seiman kita yg menerima pesan yang berisikan Kisah Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam dan Para Sahabat rodhiallahu 'anhum sudilah kiranya mungundang teman temannya yang lain untuk ikut bergabung di Halaman "Kisah Para Sahabat rodhiallahu 'anhum "
Jazakallah....
Beberapa lama kemudian, beberapa orang sahabat termasuk Ali, Ustman, Zubeir, dan Thalhah r.hum mengusulkan agar uang tunjangan Umar r.a ditambah karena terlalu sedikit. Tetapi tidak seorangpun yang berani mengemukakannya secara langsung kepada Umar r.a. Akhirnya, mereka menemui Hafshah r.ha, putri Umar r.a, juga Ummul-Mukminin istri Rasulullah saw. Mereka meminta agar ia mengajukan usul tersebut kepada Umar r.a tanpa menyebutkan nama nama mereka. Ketika Hafshah r.ha mengajukan usul tersebut, wajah Umar r.a langsung memerah karena marah. Umar r.a bertanya,“ Siapakah yang mengusulkan ini?“ Sahut Hafshah r.ha,“Jawablah dulu bagaimana pendapatmu.“ Umar r.a berkata,“Andaikan aku tahu siapa mereka, niscaya akan aku ubah muka mereka(akan memberikan hukuman yang membekas di wajah). Hafshah r.ha, ceritakanlah kepadaku tentang pakaian Nabi saw yang terbaik, yang pernah beliau miliki di rumahnya?“ Jawab Hafshah r,ha,“Beliau memiliki dua pakaian berwarna kemerahan yang biasa beliau kenakan pada hari Jum’at atau ketika menemui tamu.“ Kata Umar r.a,“Sebutkanlah makanan terlezat, yang dimakan oleh Nabi saw di rumahmu.“ Jawab Hafshah r.ha,“Roti yang terbuat dari tepung kasar lalu dicelupkan didalam kaleng berisi minyak. Kami memakannya ketika masih panas, kemudian dimakan dalam beberapa lipatan. Pernah pada suatu hari saya menyapu sepotong roti dengan bekas bekas minyak samin yang terdapat dalam kaleng minyak yang hampir kosong. Beliau SAW memakannya dengan penuh kenikmatan dan beliau juga ingin membagi bagikannya kepada orang lain.“ Umar r.a berkata,“Sebutkan, apa alas tidur terbaik yang pernah digunakan oleh Rasulullah SAW di rumahmu?“ Hafshah r.ha menjawab,“Sehelai kain tebal. Pada musim panas, kain itu dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua, separuh digunakan untuk alas tidurnya dan separuhnya lagi untuk selimutnya.“ Umar r.a berkata,“Nah Hafshah, sekarang pergilah dan katakan kepada mereka bahwa Nabi SAW telah menunjukan contoh kehidupan yang terbaik dan mencukupkan diri dengan mengharapkan akherat dan aku harus mengikutinya. Perumpamaanku dengan dua orang sahabatku, yaitu Rasulullah saw dan Abu Bakar r.a adalah seperti tiga orang musafir yang sedang melalui sebuah jalan yang sama. Musafir yang pertama telah melalui jalan tadi dan telah sampai ketujuan. Demikian juda musafir yang kedua, ia telah mengikuti jalan orang yang pertama, sehingga ia pun telah sampai ketempat tujuan dan yang ketiga, sekarang ia baru memulai perjalanannya. Jika ia menempuh jalan yang telah ditempuh orang orang sebelumnya, maka ia akan menjumpai keduanya ditujuan yang sama. Jika ia tidak menempuh jalan orang orang yang mendahuluinya, tentu ia tidak akan sampai ke tempat mereka.“
Faedah
Inilah contoh kehidupan seseorang yang sangat ditakuti para raja itu, namun ia menjalani kehidupannya dengan zuhud. Pada suatu hari, ia berkhutbah didepan para sahabatnya dengan mengenakan kain sarung dengan dua belas tambalan, salah satunya ditambal dengan kulit. Suatu ketika, ia terlambat datang ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Ia berkata kepada jemaah,“Maafkan, aku terlambat karena harus mencuci pakaianku terlebih dahulu, aku tidak memiliki baju lain untuk dipakai.“(Asyar).
Juga pernah terjadi, pada suatu ketika Umar r.a sedang menikmati makanannya. Lalu datanglah pelayannya memberitahu bahwa Utbah bin Abi farqah ingin menemuinya. Setelah Umar r.a mengizinkan Utbah masuk, ia mengajak Utbah makan bersama.Utbah pun menerima tawaran itu. Tetapi roti yang dihidangkan adalah roti yang keras dan kasar sehingga ia kesulitan untuk menelannya. Ia bertanya,“Mengapa engkau tidak menggunakan tepung halus untuk roti?“ Jawab Umar r.a,“Apakah semua orang islam mampu memakan roti dari tepung halus?“ Sahut Utbah,“Tidak semua.“ Sahut Umar r.a,“Tampaknya kamu ingin agar aku menikmati semua jenis kenikmatan hidup di dunia ini.“(Usudul-Ghabah).
Kisah kisah seperti ini bukan hanya berjumlah ratusan atau ribuan, tetapi ratusan ribu kisah yang menunjukan pengorbanan dan perjalanan hidup para sahabat r.a. Sekarang kita tidak dapat meniru kehidupan mereka karena kelemahan kita, kita tidak mampu menanggung kesusahan dalam menjalani kehidupan seperti mereka. Karena itu pulalah para ahli sufi tidak mengizinkan bermujahadah seperti itu karena hal itu dapat melemahkan kita. Dari awalnya kita memang tidak berdaya, sedangkan mereka telah memiliki kekuatan untuk menjalani kehidupan seperti itu sejak awal. Yang sangat penting bagi diri kita adalah agar selalu memiliki semangat dan cita cita serta usaha untuk dapat mengikuti langkah mereka sehingga dapat meredam keinginan dunia kita dan pandangan kita pun semakin menunduk kebawah.
Pada zaman ini sangatlah penting menjaga keseimbangan ketika orang orang tengah disibukan dengan kenikmatan duniawi, sehingga timbil persaingan untuk mendapatkan harta. Pandangan mereka hanya tertuju pada kebendaan, mereka merasa rugi jika ada orang lain yang lebih kaya dari mereka.
untuk lebih banyaknya saudara saudari seiman kita yg menerima pesan yang berisikan Kisah Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam dan Para Sahabat rodhiallahu 'anhum sudilah kiranya mungundang teman temannya yang lain untuk ikut bergabung di Halaman "Kisah Para Sahabat rodhiallahu 'anhum "
Jazakallah....
Dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kepada Abu Bakar rodhiallahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Abu Hasan Al-Athrabulusi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Bidayah : 3/29, dari ‘Aisyah r.ha, ia berkata,”Sejak zaman jahiliyah, Abu Bakar adalah kawan Rasulullah saw. Ketika bertemu dengan Rasulullah saw, dia berkata,”Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi saw), ada apa denganmu, sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain-lainnya lagi?” Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya aku adalah utusan Allah Subhana wa Ta’ala dan aku mengajak kamu kepada Allah swt.” Setelah selesai Rasululullah saw berbicara, Abu Bakar r.a pun langsung masuk Islam. Melihat keislamannya itu beliau gembira, tidak ada seorangpun yang ada diantara dua gunung di Makkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan beliau. Kemudian Abu Bakar r.a menemui Ustman bin Affan, Thalhah bin Ubaidilah, Zubeir bin Awwam, dan Saad bin Abi Waqash r.hum untuk mengajak mereka masuk islam. Lalu, mereka pun masuk Islam. Hari berikutnya Abu Bakar r.a menemui Ustman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Salamah bin Abdul Asad, dan Arqam bin Abil Arqam r.hum juga, untuk mengajak mereka masuk Islam dan mereka semua juga masuk Islam.”
Ibnu Ishaq juga meriwayatkan kisah yang sama, bahwa Abu Bakar r.a menemui Rasulullah saw, lalu berkata,” Wahai Muhammad, apakah benar apa yang telah dikatakan orang Quraisy bahwa engkau telah meninggalkan Tuhan-Tuhan kami dan mengolok-olok kami dan menuduh bahwa nenek moyang kami telah kufur?” Rasulullah saw menjawab,”Ya benar, sesungguhnya Allah swt telah mengangkat aku sebagai Rasul dan Nabi-Nya. Allah swt telah mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya. Dan sekarang aku mengajakmu kepada agama Allah swt, yaitu agama Islam, dengan keyakinan yang benar. Demi Allah, sesungguhnya Islam adalah kebenaran. Wahai Abu Bakar, aku mengajakmu untuk menyembah Allah swt Yang Maha Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan janganlah kamu menyembah kepada selain-Nya dan taatlah kepada-Nya untuk selamanya.” Setelah itu Rasulullah saw memperdengarkan sebagian ayat Al-Quran. Ketika itu Abu Bakar r.a tidak membenarkannya dan tidak pula mengingkarinya. Namun, tidak lama kemudian ia masuk Islam dan meninggalkan patung-patung serta serta Tuhan-tuhan lain yang dulu disembahnya. Akhirnya, ia pun mengakui dan meyakini kebenaran Islam. Setelah itu, Abu Bakar r.a pulang dengan penuh keimanan dan keyakinan.
Dalam riwayat yang lain disebutkan, dari Muhammad bin Abdullah At-Tamimi, bahwa Rasulullah saw bersabda,”Setiap aku mengajak seseorang untuk masuk Islam pasti mereka ragu, menolak atau berpikir terlebih dahulu. Tetapi, ketika mengajak Abu Bakar, maka dia langsung menerimanya, dia tidak merasa ragu dan tidak menolak sedikitpun atas perkataanku.”
Kalimat “Dia tidak merasa ragu” inilah yang sebenarnya diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq. Sedangkan pada riwayat sebelumnya, yang menyebutkan kalimat “dia tidak membenarkan dan tidak mengingkarinya” adalah tidak benar. Karena Ibnu Ishaq dan para perawi lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah saw setiap waktu selalu bersama Abu Bakar dan mengetahui pasti bahwa beliau saw adalah seseorang yang jujur, berbudi pekerti luhur, selalu memegang amanah, selamanya tidak pernah bohong kepada siapapun. Dengan demikian, adalah sesuatu yang tidak mungkin apabila beliau saw berkata bohong mengenai Allah swt. Karena itu, ketika Nabi saw menyampaikan kepadanya bahwa beliau adalah utusan Allah swt, maka Abu Bakar r.a langsung membenarkannya, tidak berpikir pikir dahulu, dan tidak merasa ragu.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, sebagaimana disebutkan pula dalam Al-Bidayah:3/26-27, dari Abu Darda’ r.a berkata, “Pernah suatu ketika terjadi pertengkaran antara Abu Bakar r.a dan Umar r.a, maka Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya ketika Allah swt mengutus aku kepadamu (Umar), maka kamu berkata kepadaku,”Engkau berdusta!” Tetapi, ketika itu Abu Bakar berkata kepadaku,”Engkau berkata benar!” Dia juga telah menolong aku dengan jiwa dan hartanya. Dan sekarang, apakah engkau akan menyakiti sahabatku ini?” Setelah kejadian itu tidak ada seorang pun yang berani menyakiti Abu Bakar r.a. Pernyataan Rasulullah saw ini merupakan dalil yang pasti bahwa Abu Bakar r.a adalah seorang yang pertama kali memeluk Islam.”
Ibnu Ishaq juga meriwayatkan kisah yang sama, bahwa Abu Bakar r.a menemui Rasulullah saw, lalu berkata,” Wahai Muhammad, apakah benar apa yang telah dikatakan orang Quraisy bahwa engkau telah meninggalkan Tuhan-Tuhan kami dan mengolok-olok kami dan menuduh bahwa nenek moyang kami telah kufur?” Rasulullah saw menjawab,”Ya benar, sesungguhnya Allah swt telah mengangkat aku sebagai Rasul dan Nabi-Nya. Allah swt telah mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya. Dan sekarang aku mengajakmu kepada agama Allah swt, yaitu agama Islam, dengan keyakinan yang benar. Demi Allah, sesungguhnya Islam adalah kebenaran. Wahai Abu Bakar, aku mengajakmu untuk menyembah Allah swt Yang Maha Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan janganlah kamu menyembah kepada selain-Nya dan taatlah kepada-Nya untuk selamanya.” Setelah itu Rasulullah saw memperdengarkan sebagian ayat Al-Quran. Ketika itu Abu Bakar r.a tidak membenarkannya dan tidak pula mengingkarinya. Namun, tidak lama kemudian ia masuk Islam dan meninggalkan patung-patung serta serta Tuhan-tuhan lain yang dulu disembahnya. Akhirnya, ia pun mengakui dan meyakini kebenaran Islam. Setelah itu, Abu Bakar r.a pulang dengan penuh keimanan dan keyakinan.
Dalam riwayat yang lain disebutkan, dari Muhammad bin Abdullah At-Tamimi, bahwa Rasulullah saw bersabda,”Setiap aku mengajak seseorang untuk masuk Islam pasti mereka ragu, menolak atau berpikir terlebih dahulu. Tetapi, ketika mengajak Abu Bakar, maka dia langsung menerimanya, dia tidak merasa ragu dan tidak menolak sedikitpun atas perkataanku.”
Kalimat “Dia tidak merasa ragu” inilah yang sebenarnya diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq. Sedangkan pada riwayat sebelumnya, yang menyebutkan kalimat “dia tidak membenarkan dan tidak mengingkarinya” adalah tidak benar. Karena Ibnu Ishaq dan para perawi lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah saw setiap waktu selalu bersama Abu Bakar dan mengetahui pasti bahwa beliau saw adalah seseorang yang jujur, berbudi pekerti luhur, selalu memegang amanah, selamanya tidak pernah bohong kepada siapapun. Dengan demikian, adalah sesuatu yang tidak mungkin apabila beliau saw berkata bohong mengenai Allah swt. Karena itu, ketika Nabi saw menyampaikan kepadanya bahwa beliau adalah utusan Allah swt, maka Abu Bakar r.a langsung membenarkannya, tidak berpikir pikir dahulu, dan tidak merasa ragu.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, sebagaimana disebutkan pula dalam Al-Bidayah:3/26-27, dari Abu Darda’ r.a berkata, “Pernah suatu ketika terjadi pertengkaran antara Abu Bakar r.a dan Umar r.a, maka Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya ketika Allah swt mengutus aku kepadamu (Umar), maka kamu berkata kepadaku,”Engkau berdusta!” Tetapi, ketika itu Abu Bakar berkata kepadaku,”Engkau berkata benar!” Dia juga telah menolong aku dengan jiwa dan hartanya. Dan sekarang, apakah engkau akan menyakiti sahabatku ini?” Setelah kejadian itu tidak ada seorang pun yang berani menyakiti Abu Bakar r.a. Pernyataan Rasulullah saw ini merupakan dalil yang pasti bahwa Abu Bakar r.a adalah seorang yang pertama kali memeluk Islam.”
Dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, dari Abdullah bin Mas’ud r.a, dia berkata Rasulullah saw berdoa,’Ya Allah, kuatkanlah Islam memalui Umar bin Khathab atau Abu Jahal bin Hisyam.” Maka Allah swt mengabulkan doa Rasulullah saw dengan dipilihnya Umar bin Khathab ra. Dengan masuknya Umar bin Khathab ra ke dalam Islam.Maka menjadi tegaklah bangunan Islam dan hancurlah (penyembahan terhadap) berhala berhala.” Al Haitsami dalam kitabnya jilid IX halaman 61 mengomentari hadist ini, bahwa perawi yang meriwayatkan hadist ini shahih, kecuali Mujahid bin Sa’id.
Ath-Thabarani telah meriwayatan juga dari Tsauban r.a. dalam menerangkan kisah Sa’id bin Zaid r.a dan istrinya, Fatimah r.ha yang juga saudara perempuan Umar r.a. Sebagian hadist ini diceritakan sebagai berikut: “Rasulullah saw memegang ujung baju Umar bin Khathab dan menariknya sambil berkata,”Apakah maksud kedatanganmu, wahai Umar?” Umar bin Khathab ra menjawab,”Sampaikanlah kepadaku sesuatu yang sering engkau dakwahkan?” Maka Rasulullah saw menjawab,”Hendaklah kamu bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah Yang Maha Esa dan tidakk ada sekutu bagi-Nya dan hendaklah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Mendengar perkataan ini, Umar bin Khathab ra langsung masuk Islam ditempat itu juga. Ia lalu berkata.“Mari kita pergi ke Masjidil haram, disana kita akan beribadah dihadapan orang orang kafir!“
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 1/41, dari Aslam r.a,, ia berkata,“Suatu ketika Umar berkata pada kami,“ Maukah aku ceritakan kepada kalian mengenai kisah pertama kali aku masuk Islam?“ jawab kami,“Ya“. Lalu Umar bin Khathab r.a bercerita,”Dahulu (sebelum masuk Islam) aku adalah seorang yang paling memusuhi Rasulullah saw. Ketika beliau berada disuatu tempat dekat bukit Shafa, aku menghampiri dan duduk dihadapan beliau, lalu menarik ujung bajuku sambil berkata,“Wahai Ibnu Khatthab, masuklah kamu ke dalam Islam!“ (bersamaan dengan itu beliau berdoa),“Ya Allah, berikanlah hidayah kepada Umar!“ Maka saat itu juga aku langsung mengucapkan dua kalimah syahadat (aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan Selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah). Mendengar aku masuk Islam, seluruh kaum Muslimin yang berada di tempat itu langsung mengucapkan takbir yang suaranya terdengar hingga ke jalan-jalan di kota Mekkah.“
Sementara AlBazzar juga mengeluarkan sebuah hadist dengan substansi yang sama, namun dengan ungkapan yang berbeda
Ath-Thabarani telah meriwayatan juga dari Tsauban r.a. dalam menerangkan kisah Sa’id bin Zaid r.a dan istrinya, Fatimah r.ha yang juga saudara perempuan Umar r.a. Sebagian hadist ini diceritakan sebagai berikut: “Rasulullah saw memegang ujung baju Umar bin Khathab dan menariknya sambil berkata,”Apakah maksud kedatanganmu, wahai Umar?” Umar bin Khathab ra menjawab,”Sampaikanlah kepadaku sesuatu yang sering engkau dakwahkan?” Maka Rasulullah saw menjawab,”Hendaklah kamu bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah Yang Maha Esa dan tidakk ada sekutu bagi-Nya dan hendaklah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Mendengar perkataan ini, Umar bin Khathab ra langsung masuk Islam ditempat itu juga. Ia lalu berkata.“Mari kita pergi ke Masjidil haram, disana kita akan beribadah dihadapan orang orang kafir!“
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 1/41, dari Aslam r.a,, ia berkata,“Suatu ketika Umar berkata pada kami,“ Maukah aku ceritakan kepada kalian mengenai kisah pertama kali aku masuk Islam?“ jawab kami,“Ya“. Lalu Umar bin Khathab r.a bercerita,”Dahulu (sebelum masuk Islam) aku adalah seorang yang paling memusuhi Rasulullah saw. Ketika beliau berada disuatu tempat dekat bukit Shafa, aku menghampiri dan duduk dihadapan beliau, lalu menarik ujung bajuku sambil berkata,“Wahai Ibnu Khatthab, masuklah kamu ke dalam Islam!“ (bersamaan dengan itu beliau berdoa),“Ya Allah, berikanlah hidayah kepada Umar!“ Maka saat itu juga aku langsung mengucapkan dua kalimah syahadat (aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan Selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah). Mendengar aku masuk Islam, seluruh kaum Muslimin yang berada di tempat itu langsung mengucapkan takbir yang suaranya terdengar hingga ke jalan-jalan di kota Mekkah.“
Sementara AlBazzar juga mengeluarkan sebuah hadist dengan substansi yang sama, namun dengan ungkapan yang berbeda
Dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Ustman bin Affan radhiallahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Al-Madain, sebagaimana disebutkan dalam Al-Isti'ab:4/225 dari Ammar bin ustman, ia bercerita bahwa Ustman bin Affan r.a pernah berkata,”Aku datang kepada bibiku yang bernama Urwah binti Abdul Muthalib untuk melayatnya kerena ia sakit. Tidak lama kemudian Rasulullah saw datang ke tempat itu dan aku perhatikan beliau,waktu itu tampak jelas olehku kebesarannya, Beliau pun menghampiriku dan berkata,”Wahai Ustman, mengapa engkau memperhaitkanku sedemikian rupa?” Aku menjawab,”Aku merasa kagum terhadap engkau dan terhadap kedudukan engkau diantara kami, juga terhadap apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang mengenai diri engkau.” Ustman melanjutkan ceritanya,” Kemudian Nabi saw mengucapkan Kalimah Laa Ilaaha Illalaah. Demi Allah, aku mendengar kalimat itu langsung bergetar. Kemudian Nabi saw membacakan ayat yang artinya:
“Dan dilangit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan (Penguasa) langit dan bumi sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benarbenar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (Q.s Adz-Dzariyat:22-23)
Kemudian Rasulullah saw berdiri dan pergi keluar. Aku pun mengikuti beliau dari belakang, laluu menghadap beliau dan menyatakan masuk Islam.”
“Dan dilangit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan (Penguasa) langit dan bumi sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benarbenar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (Q.s Adz-Dzariyat:22-23)
Kemudian Rasulullah saw berdiri dan pergi keluar. Aku pun mengikuti beliau dari belakang, laluu menghadap beliau dan menyatakan masuk Islam.”
Dakwah Rasulullah saw. Kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu
Disebutkan dalam kitab Al-Bidayah: 3/24, Ibnu Ishaq bercerita bahwasanya Ali bin Abi Thalib r.a datang ke rumah Rasulullah saw, ketika itu keduanya (Rasulullah saw dan Khadijah r.ha) sedang mengerjakan shalat. Ali ra bertanya,”Wahai Muhammad, apakah yang sedang engkau lakukan?” Nabi saw, menjawab,”Inilah agama Allah swt yang telah dipilih-Nya dan dia juga mengirim utusan-utusan-Nya, karena itu aku mengajakmu kepada (agama) Allah Yang Maha Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, mengajakmu untuk menyembah Allah swt dan hendaklah engkau mengingkari patung Latta dan Uzza.” Ali r.a berkata,”Perkara ini belum pernah aku dengar sebelumnya dan aku belum bisa mengambil keputusan sebelum merundingkan dulu dengan ayahku, Abu Thalib.“
Nabi saw tidak menyetujui kata-kata Ali r.a (untuk berunding dengan ayahnya) karena khawatir rahasia mengenai dirinya akan tersebar keluar sebelum ada perintah untuk menyiarkan secara terbuka. Maka beliau saw berkata,”Wahai Ali, apabila kamu belum mau masuk Islam, rahasiakanlah berita ini!” Malam itu Ali pun tinggal dirumahnya (tanpa memberitahukan perihalnya pada siapapun). Maka, malam itu juga Allah swt membukakan hatinya untuk menerima Islam. Ketika dia bangun pada pagi harinya, dia langsung pergi menemui Rasulullah saw dan berkata,”Apa yang engkau sampaikan kepadaku kemarin?” Nabi saw menjawab,”Hendaklah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, hendaklah kamu mengingkari Latta dan Uzza dan hendaklah kamu meninggalkan menyembah sembahan-sembahan selain Allah!” Ali r.a pun mengikuti semua perkataan Nabi saw dan masuk Islam. Kemudian Ali r.a kembali kerumah dan tinggal dengan perasaan takut terhadap ayahnya, Abu Thalib. Ali r.a pun menyembunyikan keislamannya dan sama sekali tidak menampakannya.”
Nabi saw tidak menyetujui kata-kata Ali r.a (untuk berunding dengan ayahnya) karena khawatir rahasia mengenai dirinya akan tersebar keluar sebelum ada perintah untuk menyiarkan secara terbuka. Maka beliau saw berkata,”Wahai Ali, apabila kamu belum mau masuk Islam, rahasiakanlah berita ini!” Malam itu Ali pun tinggal dirumahnya (tanpa memberitahukan perihalnya pada siapapun). Maka, malam itu juga Allah swt membukakan hatinya untuk menerima Islam. Ketika dia bangun pada pagi harinya, dia langsung pergi menemui Rasulullah saw dan berkata,”Apa yang engkau sampaikan kepadaku kemarin?” Nabi saw menjawab,”Hendaklah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, hendaklah kamu mengingkari Latta dan Uzza dan hendaklah kamu meninggalkan menyembah sembahan-sembahan selain Allah!” Ali r.a pun mengikuti semua perkataan Nabi saw dan masuk Islam. Kemudian Ali r.a kembali kerumah dan tinggal dengan perasaan takut terhadap ayahnya, Abu Thalib. Ali r.a pun menyembunyikan keislamannya dan sama sekali tidak menampakannya.”
Dakwah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu kepada Ibunya
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata,“Aku mengajak ibuku yang ketika itu masih musyrik agar masuk Islam. Suatu hari, ketika aku berdakwah kepadanya, ia justru mengomeli Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam sehingga membuat aku kurang suka. Maka Aku menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam sambil menangis dan kukatakan kepada beliau,”Wahai Rasulullah, aku sudah berusaha mengajak kepada ibuku supaya dia masuk Islam, tetapi dia malah mengomeli engkau. Tentu saja aku tidak suka dengan sikapnya itu. Maka berdoalah kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia memberikan petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.” Maka beliau Shalallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda,mahfumnya”Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.” Aku pun keluar dari tempat beliau dengan wajah berseri karena doa Rasulullah saw tersebut. Setiba dirumah, aku langsung menuju pintu yang ternyata dalam keadaan terkunci. Ibuku yang mendengar suara langkah kakiku berkata dari dalam rumah,“Tetaplah diam ditempatmu itu wahai Abu Hurairah.“ Aku mendengar suara gemericik air. Ketika itu dia sudah membukakan pintu, ibu berkata,“Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.“ Aku kembali menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam dan mengabarkan keislaman ibuku. Maka beliau memuji Allah swt. Seraya bersabda,mahfhum,“Itu adalah kebaikan dari-Nya.“ Ahmad juga meriwayatkan yang serupa dengan hadist diatas. Demikian dalam kitab Ishabah:4/241.
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat 4/328 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata,“Demi Allah, setiap orang Mukmin baik laki-laki maupun perempuan yang mendengar namaku, pastilah dia menyayangi aku. Ibnu Sa’ad bertanya,“Apakah sebabnya?“ Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menjawab,“Dulu aku selalu menyampaikan dakwah kepada ibuku.“ Kisah selanjutnya seperti yang telah lalu dan pada akhir riwayatnya disebutkan, bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,“Kemudian aku berlari menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam sambil menangis karena gembira seperti aku menangis karena sedih, lalu aku berkata kepada beliau,“Berita gembira, wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah swt telah mengabulkan do’a engkau. Sungguh, Allah Subhana wa Ta’ala telah mengarunia ibu Abu Hurairah hidayah kepada Islam.“ Kemudian aku berkata,“Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah swt agar Dia mencintai aku dan ibuku kepada orang Mukmin laki-laki dan perempuan dan mencintai setiap orang Mukmin laki-laki dan perempuan.“ Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam berdoa,mahfhum,"Ya Allah, cintakanlah hamba-Mu ini (Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) dan ibunya kepada setiap orang Mukmin laki-laki dan perempuan!“ Sejak Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam berdoa demikian, maka tidak ada satu pun Mukmin laki-laki maupun perempuan yang mendengar namaku kecuali pastilah dia mencintai aku.“
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat 4/328 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata,“Demi Allah, setiap orang Mukmin baik laki-laki maupun perempuan yang mendengar namaku, pastilah dia menyayangi aku. Ibnu Sa’ad bertanya,“Apakah sebabnya?“ Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menjawab,“Dulu aku selalu menyampaikan dakwah kepada ibuku.“ Kisah selanjutnya seperti yang telah lalu dan pada akhir riwayatnya disebutkan, bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,“Kemudian aku berlari menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam sambil menangis karena gembira seperti aku menangis karena sedih, lalu aku berkata kepada beliau,“Berita gembira, wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah swt telah mengabulkan do’a engkau. Sungguh, Allah Subhana wa Ta’ala telah mengarunia ibu Abu Hurairah hidayah kepada Islam.“ Kemudian aku berkata,“Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah swt agar Dia mencintai aku dan ibuku kepada orang Mukmin laki-laki dan perempuan dan mencintai setiap orang Mukmin laki-laki dan perempuan.“ Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam berdoa,mahfhum,"Ya Allah, cintakanlah hamba-Mu ini (Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) dan ibunya kepada setiap orang Mukmin laki-laki dan perempuan!“ Sejak Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam berdoa demikian, maka tidak ada satu pun Mukmin laki-laki maupun perempuan yang mendengar namaku kecuali pastilah dia mencintai aku.“
Kesabaran Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhu Dalam Menanggung Penderitaan.
Al-Bukhari meriwayatkan dalam At-Tarikh, dari Mas’ud bin Kharrasi radhiallahu ‘anhu, dia berkata,“Ketika kami sedang berada diantara Shafa dan Marwah, tiba-tiba muncul sekelompok orang yang sedang menggiring seorang pemuda yang tangannya diikatkan pada lehernya. Aku bertanya,“Ada apa dengan pemuda itu?“ Orang-orang menjawab,“Ini adalah Thalhah bin Ubaidilah yang telah murtad.“ Pada saat itu, ada juga seorang wanita dibelakang Thalhah yang terus menerus menggerutu dan mencacinya. Aku bertanya,“Siapa wanita itu?“ Mereka menjawab,“Dia adalah Ash-Sha’bah binti Al-Hadhrami, ibunya sendiri.“ Demikian disebutkan dalam kitab Al-Ishabah:3/410
Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak:3/369 dan Al-Hilyah:3/29, dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, dari Thalhah bin Ubaidilah, dia berkata,“Ketika saya sedang berada di pasar Busra, tiba-tiba seorang rahib (pendeta) yang tinggal di menara gereja berkata,“Tanyakan kepada orang-rang yang berada di pasar, adakah diantara mereka seseorang yang berasal dari Haram.“ Saya menjawab,“Saya berasal dari sana!“ Dia bertanya,“Apakah Ahmad telah muncul?“ Saya balik bertanya,”Siapakah Ahmad itu?” Dia menjawab,”Dia adalah putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Pada bulan ini dia akan muncul di Makkah dan dia akan berhijrah ke suatu tempat terdapat banyak kebun-kebun kurma dan tanahnya berbatu-batu. Janganlah kamu sampai tertinggal untuk mengikuti dia.” Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhu berkata,“Saya menjadi tertarik mendengar ucapan orang itu. Maka saya segera pulang ke Makkah untuk menanyakan kabar mengenai Muhammad.“ Setelah sampai di Makkah saya bertanya,“Apakah ada suatu kejadian yang baru?“ Penduduk kota Makkah menjawab“Ya, ada suatu kejadian besar. Muhammad bin Abdullah yang terkenal dengan sebuan Al-Amin, dia telah mengaku menjadi Nabi dan Abu Bakar menjadi pengkutnya.“ Dengan tergesa-gesa saya menemui Abu Bakar dan bertanya kepadanya,“Apakah engkau telah mengikuti Muhammad?“ Dia menjawab,“Ya! Kamu juga harus menemuinya dan mengikutinya, karena dia telah mengajak kepada kebenaran.“ Kemudian Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhu menceritakan apa yang telah ia dengar dari pendeta itu. Setelah itu, Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhum pergi bersama-sama menemui Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam. Disana Thalhah masuk Islam. Dia juga menceritakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam mengenai apa yang telah diberitahukan oleh pendeta itu. Mendengar hal itu Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam merasa gembira. Ketika itu Naufal bin Khuwailid Al-Adawiyah mengetahui mereka berdua masuk Islam, maka dengan segera dia mengambil tali dan mengikat mereka berdua dalam satu ikatan. Tidak ada seorangpun dari suku Taim yang membela mereka berdua. Naufal bin Khuwailid terkenal dengan julukan Singa Quraisy. Karena keduanya pernah diikat bersama-sama, maka keduanya dijuluki Qarinain (yaitu dua orang yang bersahabat).“ Dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan pula Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam berdoa,“Ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan Naufal.“
Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak:3/369 dan Al-Hilyah:3/29, dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, dari Thalhah bin Ubaidilah, dia berkata,“Ketika saya sedang berada di pasar Busra, tiba-tiba seorang rahib (pendeta) yang tinggal di menara gereja berkata,“Tanyakan kepada orang-rang yang berada di pasar, adakah diantara mereka seseorang yang berasal dari Haram.“ Saya menjawab,“Saya berasal dari sana!“ Dia bertanya,“Apakah Ahmad telah muncul?“ Saya balik bertanya,”Siapakah Ahmad itu?” Dia menjawab,”Dia adalah putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Pada bulan ini dia akan muncul di Makkah dan dia akan berhijrah ke suatu tempat terdapat banyak kebun-kebun kurma dan tanahnya berbatu-batu. Janganlah kamu sampai tertinggal untuk mengikuti dia.” Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhu berkata,“Saya menjadi tertarik mendengar ucapan orang itu. Maka saya segera pulang ke Makkah untuk menanyakan kabar mengenai Muhammad.“ Setelah sampai di Makkah saya bertanya,“Apakah ada suatu kejadian yang baru?“ Penduduk kota Makkah menjawab“Ya, ada suatu kejadian besar. Muhammad bin Abdullah yang terkenal dengan sebuan Al-Amin, dia telah mengaku menjadi Nabi dan Abu Bakar menjadi pengkutnya.“ Dengan tergesa-gesa saya menemui Abu Bakar dan bertanya kepadanya,“Apakah engkau telah mengikuti Muhammad?“ Dia menjawab,“Ya! Kamu juga harus menemuinya dan mengikutinya, karena dia telah mengajak kepada kebenaran.“ Kemudian Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhu menceritakan apa yang telah ia dengar dari pendeta itu. Setelah itu, Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidilah radhiallahu ‘anhum pergi bersama-sama menemui Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam. Disana Thalhah masuk Islam. Dia juga menceritakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam mengenai apa yang telah diberitahukan oleh pendeta itu. Mendengar hal itu Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam merasa gembira. Ketika itu Naufal bin Khuwailid Al-Adawiyah mengetahui mereka berdua masuk Islam, maka dengan segera dia mengambil tali dan mengikat mereka berdua dalam satu ikatan. Tidak ada seorangpun dari suku Taim yang membela mereka berdua. Naufal bin Khuwailid terkenal dengan julukan Singa Quraisy. Karena keduanya pernah diikat bersama-sama, maka keduanya dijuluki Qarinain (yaitu dua orang yang bersahabat).“ Dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan pula Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam berdoa,“Ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan Naufal.“
Dakwah Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam kepada Abu Jahal
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah radhiallahu 'anhu, ia berkata,”Hari pertama kali aku mengetahui Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam yaitu ketika aku berjalan bersama Abu Jahal bin Hisyam disebuah lorong di kota Makkah. Kami berdua berpasangan dengan Rasulullah shalallhu ‘alahi wa sallam kemudian Rasulullah shalallhu ‘alahi wa sallam berkata kepada kepada Abu Jahal,”Wahai Abu Hakam, mari masuk agama Allah dan Rasul-Nya. Aku mengajakmu untuk menyembah Allah Subhana wa Ta’ala.” Abu Jahal menjawab,”Hai Muhammad, maukah engkau berhenti mencela Tuhan-tuhanku, maukah engkau menyaksikan bahwa aku telah menyampaikan? Baiklah, aku telah menyaksikan bahwa engkau telah menyampaikan. Demi Allah, jika aku mengetahui bahwa apa yang engkau bawa ini benar, maka sudah pasti aku mengikutimu.” Kemudian Rasulullah shalallhu ‘alahi wa sallam meninggalkan Abu Jahal. Setelah itu dia berkata kepadaku,”Demi Allah, aku tahu yang diucapkan Muhammad itu benar, tetapi aku tidak bersedia mengikutinya karena beberapa hal. Bani Qushay telah mengetahui bahwa kami adalah petugas penjaga Ka’bah. Aku menjawab,”Benar.” Abu Jahal menambahkan,”Kita adalah petugas air untuk orang-orang yang sedang menunaikan ibadah Haji, pemegang gedung persidangan dan pemegang bendera.” Aku menjawab,”Benar.” Abu Jahal melanjutkan,”Mereka memberikan makanan, kita pun memberikan makanan. Dan setelah sama-sama rata begini, mereka malah mengatakan,“Dari kalangan kita ada seorang Nabi.“ Demi Allah, aku (Abu Jahal) tidak akan masuk Islam.“ Demikian disebutkan dalam Al-Bidayah:3/64. Abu Syaibah juga meriwayatkan dengan makna yang sama dengan hadist diatas, seperti yang dituturkan dalam Al-Kanzu:7/129
Jumat, 15 Januari 2010
Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam Mengutus Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu Berdakwah ke penduduk yaman
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Barra radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam telah mengutus Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu untuk berdakwah kepada penduduk Yaman, untuk mengajak mereka kepada Islam. Al-Barra radhiallahu ‘anhu berkata,”Aku termasuk mengajak orang yang bergabung dalam rombongan dakwah Khalid bin Walid. Kami berada di Yaman selama enam bulan dan berdakwah kepada mereka supaya masuk Islam. Tetapi mereka tidak menerima dakwah kami. Hingga kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam mengutus Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu untuk menyusul Khalid bin Walid dan meminta agar rombongan Khalid bin Walid kembali ke markaz, kecuali satu orang saja. Akhirnya Khalid radhiallahu ‘anhu beserta rombongan kembali, kecuali satu orang saja sebagaimana yang diperintahkan Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam. Beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan agar satu orang tersebut bergabung dengan rombongan Ali bin Abi Thalib. Al-Barra’ berkata,”Akulah yang termasuk satu orang tersebut.“ Ketika kami sudah dekat dengan penduduk Yaman, merekapun menghampiri kami. Ali maju untuk menjadi imam dalam shalat kami. Kami shalat dibelakangnya dan membentuk satu shaf. Setelah shalat, Ali berdiri dihadapan kami, kemudian membaca surat Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam, yang ditujukan kepada penduduk Yaman. Maka seluruh penduduk Hamdan seketika itu juga masuk Islam. Kemudian Ali radhiallahu ‘anhu menulis surat untuk memberitakan tentang keislaman suku Hamdan. Ketika beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam membaca surat tersebut, beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam langsung bersujud, kemudian mengangkat kepala sambil bersabda,”Keselamatan atas kaum Hamdan, kesalamatan atas kaum Hamdan.”
Al-Bukhari telah meriwayatkan dengan ringkas, sebagaiamana yang dituturkan dalam Al-Bidayah : 5/105
Al-Bukhari telah meriwayatkan dengan ringkas, sebagaiamana yang dituturkan dalam Al-Bidayah : 5/105
Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam Mengajari Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu Berdakwah
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dia berkata,”Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu ketika akan dikirim ke Yaman,”Sesungguhnya akan engkau dapati kaum ahli kitab yang datang kepadamu. Ketika mereka mendatangimu, berdakwahlah engkau kepada mereka supaya mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan yang disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Apabila mereka telah melakukannya, beritahukanlah kepada mereka kewajiban yang harus mereka laksanakan, yaitu diwajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Apabila mereka siap melakukannya, beritahukanlah kepada mereka sesungguhnya Allah telah mewajibkan juga keatas mereka untuk bershadaqah, yakni dari yang kaya kepada yang miskin. Apabila mereka melaksanakannya, beritahukanlah kepada mereka supaya takut akan doa orang yang dizhalami, karena tidak ada penghalang antara ia dengan Allah Subhana wa Ta’ala.” Demikian disebutkan dalam Al-Bidayah 5/100.
----------------------------------------------------------------------------------
kepada semua penggemar terima kasih atas saran, komentar dan "jempolnya" pada halaman ini..
Ketika qt membaca kisah2 sahabat radhiallahu 'anhum sbaiknya jgn trgesa-gesa dlm membaca dan membacanya berulang kali, tdk cukp hanya 1 kali agar bisa menghayati/meresap dalam hati...
dan mudah2an qt sbagai umat Nabi Muhammad shalallahu 'alai wa sallam bisa mengambil hikmah yg trkandung dr stiap kisah dan jangn lupa stelah membaca, kita niatkan dlm hati untuk mengamalkan dan menyampaikan kpd saudara muslim kita yang lainnya..
Agar teman2 qt yg lainnya bisa ikut membaca kisah kehidupan para sahabat radhiallahu 'anhum yang mana Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun telah ridha kepada Allah... maka kita sarankan/undang teman-teman kita untuk bergabung pada halaman ini...
Atas banyaknya kekurangan pd halaman ini kami mohon maaf kpd semua penggemar dan kpd Allah Subhana wa Ta'ala kami memohon ampun..
jazakallah khoir..
----------------------------------------------------------------------------------
kepada semua penggemar terima kasih atas saran, komentar dan "jempolnya" pada halaman ini..
Ketika qt membaca kisah2 sahabat radhiallahu 'anhum sbaiknya jgn trgesa-gesa dlm membaca dan membacanya berulang kali, tdk cukp hanya 1 kali agar bisa menghayati/meresap dalam hati...
dan mudah2an qt sbagai umat Nabi Muhammad shalallahu 'alai wa sallam bisa mengambil hikmah yg trkandung dr stiap kisah dan jangn lupa stelah membaca, kita niatkan dlm hati untuk mengamalkan dan menyampaikan kpd saudara muslim kita yang lainnya..
Agar teman2 qt yg lainnya bisa ikut membaca kisah kehidupan para sahabat radhiallahu 'anhum yang mana Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun telah ridha kepada Allah... maka kita sarankan/undang teman-teman kita untuk bergabung pada halaman ini...
Atas banyaknya kekurangan pd halaman ini kami mohon maaf kpd semua penggemar dan kpd Allah Subhana wa Ta'ala kami memohon ampun..
jazakallah khoir..
Kisah Perang Mautah
Seorang Yahudi, ketika mendengar perkataan ini berkata, "Ketiga orang sahabat yang telah ditunjuk sebagai amir tersebut pasti akan mati. Anbiya AS. pun, dahulu telah mengucapkan kata-kata yang demikian". Kemudian Rasulullah SAW memberikan bendera berwarna putih epada Zaid bin Haritsah ra. Beliau sendiri ikut mengantar rombongan untuk melepas mereka. Di luar kota, ketika orang-orang yang mengantarkan pasukan tersebut akan kembali, maka beliau berdoa untuk para mujahidin ini dengan doa keselamatan, kejayaan, dan agar mereka dijauhkan dari semua perkara yang buruk sampai mereka kembali.
Do'a Rasulullah SAW ini dijawab oleh Abdullah bin Rawahah ra. dengan membaca tiga bait syair yang maksudnya:
Engkau meminta ampunan dari Tuhanmu.
Sedangkan kami menginginkan pedang yang akan memutuskan pembuluh-pembuluh darah atau tombak yang akan menusuk lambung dan hatiku
Jika nanti, orang-orang melewati kuburan kami, mereka akan berkata:
Inilah orang-orang yang telah berjuang untuk Allah. Sungguh, kalian betul-betul telah mendapat petunjuk dan kejayaan
Setelah itu, berangkatlah pasukan tersebut. Syarahbil pun telah mendengar tentang keberangkatan pasukan ini. Dia telah menyiapkan pasukan sebanyak seratus ribu tentara untuk melawan kaum muslimin. Dalam pada itu, para sahabat r.ahum. juga telah mendengar kabar bahwa Heraclius, raja Romawi, juga telah mengirim seratus ribu tentaranya untuk ikut menyerang kaum muslimin. Maka dengan jumlah musuh yang demikian banyak tersebut membuat sebagian sahabat ra. menjadi ragu: meneruskan bertempur melawan musuh, ataukah memberitahukan kepada Rasulullah SAW. Abdullah bin Rawahah ra. berkata,
"Hai orang-orang. Apa yang kalian takuti?
Untuk apa kalian keluar meninggalkan Romawiah kalian?
Apakah kalian keluar ini bukan untuk mati syahid?
Kami adalah orang-orang yang tidak memperhitungkan kekuatan ataupun banyaknya orang dalam pertempuran.
Kami hanya berperang agar di suatu hari nanti, Allah s.wt. memuliakan kita.
Majulah. Setidaknya salah satu di antara dua kemenangan mesti kita dapatkan. Mati syahid, atau menang dalam pertempuran ini".
Mendengar kata-kata tersebut, semangat kaum muslimin pun bangkit kembali. Mereka terus maju sehingga sampailah pasukan tersebut di Mut'ah dan mulailah pertempuran berlangsung antara mereka dengan pasukan musuh. Dalam permulaan pertempuran, bendera dibawa oleh Zaid bin Haritsah ra. Dengan bendera di tangan, ia telah menyerang ke tengah Pertempuran. Mulailah berlangsung pertempuran. Ketika itu saudara Syarahbil telah terbunuh sedangkan kawan-kawannya melarikan diri. Syarahbil sendiri telah lari ke sebuah benteng dan bersembunyi di dalamnya. Kemudian Raja Heraclius mengirimkan bala bantuan lagi kurang lebih sebanyak dua ratus ribu orang tentara. Pertempuran berlangsung dengan begitu dahsyatnya. Akhirnya, Zaid ra. gugur syahid. Maka bendera kaum Muslimin segera diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib ra., setelah itu ia memotong kaki kudanya agar tidak berpikiran lagi untuk kembali. Sambil menyerang musuh, ia membaca beberapa bait syair yang terjemahannya sebagai berikut:
Hai orang-orang, apakah tidak baik surga itu
Dan surga itu sudah dekat
Betapa indahnya ia
Dan betapa sejuknya air surga
Telah dekat masa siksa bagi raja Romawi
Dan saya mempunyai kewajiban untuk membunuhnya
Setelah membaca syair tersebut, dipotonglah kaki kudanya dengan tangannya sendiri. Agar hatinya tidak berpikir untuk kembali. la menghunus pedangnya dan terjun ke tengah pertempuran melawan orang-orang kafir tersebut. Karena ia adalah pimpinan pasukan, maka bendera itu tetap berada di tangannya. Pada mulanya, bendera tersebut dipegang dengan tangan kanannya. Tetapi salah seorang pasukan kafir telah memenggal tangan kanannya sehingga bendera pun terjatuh. Maka bendera tersebut segera diambil dengan tangan kirinya. Tetapi, orang kafir itu telah memotong kembali tangan kirinya. Maka ia segera mendekap bendera itu di dada dengan kedua lengannya yang masih tersisa dan digigitnya bendera itu dengan sekuat tenaga. Kemudian, seorang musuh dari arah belakang menebasnya dengan pedang sehingga tubuhnya terpotong menjadi dua. Ia pun roboh ke tanah, dan gugur dalam keadaan syahid. Pada saat itu, Ja'far bin Abi Thalib ra. baru berumur tiga puluh tiga tahun.
Abdullah bin Umar ra. berkata bahwa setelah Jafar ra. menjadi mayat, ketika mayat tersebut diangkat, di bagian muka tubuhnya terdapat sembilan puluh buah luka. Ketika Ja'far bin Abi Thalib ra. telah mati syahid, maka orang-orang memanggil Abdullah bin Rawahah ra. Ketika itu, ia sedang berada di sebuah sudut dengan beberapa tentara muslimin, sedang memakan sepotong daging karena sudah tiga hari lamanya mereka tidak makan sesuatu pun. Mendengar suara yang memanggilnya, maka dilemparkanlah sisa daging itu. Ia berkata memarahi dirinya sendiri,
"Hai lihatlah, Ja'far telah syahid, sedangkan kamu masih sibuk dengan keduniaanmu".
Maka ia segera maju menyerang ke depan dan mengambil bendera kaum muslimin. Tetapi, jari tangannya telah terluka berlumuran darah dan terkulai hampir putus. Kemudian jari itu diinjak dengan kakinya sendiri lalu ditarik tangannya sehingga terpotonglah jarinya tersebut. Kemudian, jari yang sudah terputus itu ia lemparkan, kemudian ia maju kembali ke medan pertempuran. Dalam keadaan susah dan payah seperti ini, ia merasa sedikit ragu di dalam hatinya karena hampir tidak ada semangat dan kekuataan lagi untuk berperang. Tetapi, keraguan tersebut hanya terlintas sebentar saja dalam hatinya. Ia segera berkata pada dirinya sendiri,
"Wahai hati, apa yang masih kamu ragukan, apa yang menyebabkan kamu ragu-ragu? Istrikah? Ia sudah saya talak tiga. Atau hamba sahaya yang kamu miliki? Semuanya telah saya merdekakan. Ataukah kebun? Itu pun telah saya korbankan di jalan Allah".
Setelah itu, ia membaca syair berikut:
"Wahai hati, kamu harus turun Meskipun dengan senang hati, ataupun dengan berat hati Kamu telah hidup dengan ketenangan beberapa lama. Berpikirlah, pada hakikatnya, kamu berasal dari setetes air mani Lihatlah orang-orang kafir telah menyerang orang-orang Islam Apakah kamu tidak menyukai surga jika kamu tidak mati sekarang suatu saat nanti, akhirnya kamu akan mati juga".
Setelah itu, ia turun dari kudanya. Seorang sepupunya, yaitu anak pamannya, telah memberi sekerat daging kepadanya sambil berkata, "Makanlah ini untuk meluruskan tulang punggungmu." Karena sudah berhari-hari ia tidak makan, maka daging tersebut diterimanya. Baru saja ia mengambil daging tersebut, terdengarlah suara kekalahan. Akhirnya, dilemparkanlah daging tersebut. Ia segera mengambil pedangnya dan menyerbu ke kancah pertempuran melawan orang-orang kafir. Ia terus bertempur hingga mati syahid.
Keberanian Mu’adz bin Amr bin Jamuh dan Mu’adz bin Al-Afra’ radhiallahu ‘anhum Membunuh Abu
Al-Bukhari dan Muslim, juga Al-Hakim dalam kitabnya,3/425, meriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu, dia berkata,”Pada hari peperangan Badar, barisan orang-orang yang berperang telah berdiri. Saya melihat disebelah kiri dan kanan saya ada dua orang pemuda yang sedang berdiri. Aku berpikir seandainya aku berada ditengah orang-orang yang tangguh, maka hal ini akan lebih baik buatku (seandainya dalam keadaan terdesak apabila butuh bantuan, maka aku akan lebih mudah). Tiba-tiba kedua orang pemuda itu memegang tanganku dan berkata,”Paman, apakah kemu mengenal Abu Jahal?” Aku jawab,”Ya, aku mengenalnya. Apa yang akan kalian lakukan?” Pemuda itu menjawab,“Aku mendengar dia suka menghina Rasulullah shalallahu ’alahi wa sallam. Demi Dzat yang menguasai jiwaku. Apabila aku melihatnya, maka aku tidak akan melepaskannya, sampai dia yang mati atau aku yang mati.“ Aku merasa takjub dengan jawabannya itu. Pemuda kedua juga memegang tanganku dan menanyakan hal yang sama kepadaku. Maka akupun menjawab dengan jawaban yang sama pada pemuda yang pertama. Tiba-tiba ditengah medan pertempuran aku sedang melihat Abu Jahal sedang memacu kudanya, maka aku katakan kepada kedua pemuda itu,“Orang yang sedang kamu tanyakan itu sedang menuju kearahmu.“ Mendengar hal itu, kedua pemuda tadi memegang pedang masing-masing dan langsung memacu kudanya. Ketika sampai, ia langsung memainkan pedangnya hingga akhirnya Abu Jahal dapat dirobohkan. Kemudian mereka kembali kehadapan Rasulullah shalallahu ’alahi wa sallam dan melaporkan kejadian ini kepada beliau. Maka beliau bertanya,“Diantara kamu berdua siapa yang membunuhnya?“ Keduanya menjawab,“Aku yang membunuhnya.“ Rasulullah shalallahu ’alahi wa sallam bertanya,“Apakah kalian telah membersihkan pedang kalian?“ Mereka menjawab,“Belum.“ Kemudian Rasulullah shalallahu ’alahi wa sallam melihat pedang mereka berdua. Lalu beliau bersabda,“kamu berdua telah membunuhnya.“ Dan barang-barang milik Abu Jahal diputuskan untuk dibagikan kepada Mu’adz bin Amr bin Jamuh dan kepada Mu’adz bin Ara’.“
Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf berkata,“Ketika aku sedang berada didalam barisan pasukan sewaktu perang Badar, disebalah kanan dan kiriku ada dua pemuda yang masih belia, aku hampir-hampir tidak percaya mereka berada ditempat itu. Salah seorang diantara mereka keduanya berbisik kepadaku agar tidak didengar kawan satunya lagi,“Hai paman, tunjukan kepadaku orang yang bernama Abu Jahal.“ Aku bertanya,“Wahai keponakanku, apa yang hendak engkau lakukan terhadap dirinya?“
Dia menjawab,“Aku telah bersumpah kepada Allah Subhana wa Ta’ala untuk membunuhnya jika melihat dirinya atau lebih baik aku mati ditangannya.“ Anak yang satunya juga melakukan hal yang sama. Aku benar-benar merasa senang melihat kedua anak itu. Setelah aku tunjukan sosok Abu Jahal, kedua anak itu melesat layaknya dua ekor burung elang dan mampu membunuh Abu Jahal.“
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abdullah bin Abi bakar, mereka berkata,”Bahwa Mu’adz bin Amr bin Jamuh dari Bani Salamah pernah berkata,“Abu Jahal pernah berada dalam pasukan seperti deretan bendera, dikelilingi orang-orang kafir. Aku mendengar mereka berkata,“Abul Hakam (Abu Jahal) tidak akan dapat disentuh oleh siapapun.“ Ketika mendenagar hal itu, aku ingin menghalangi dan membunuhnya. Maka aku berjalan dengan niat membunuh Abu Jahal. Ketika sasaran ada dihadapanku, maka dengan cepat aku menyerangnya dan tenaskan pedangku hingga kakinya putus pada pertengahan betisnya. Demi Allah, kakinya itu putus seperti pecahan batu yang jatuh kebawah. Anak Abu Jahal yang bernama Ikrimah berhasil menebaskan pedangnya kebahuku hingga hampir putus, tetapi masih menggantung karena kulit lengannya masih tersisa. Karena gencarnya berperang, maka rasa sakit itu tidak aku rasakan. Sepanjang hari aku berperang dengan menggantungkan lengan yang hampir putus ke belakang, Ketika aku merasa kesakitan, maka aku menginjak lenganku itu dan menariknya hingga kulitnya yang menggantung itu pun putus, lalu aku lemparkan potongan lenganku itu.“ Al-Bidayah: 3/287
Kisah Perang Badar
Perang Badar terjadi pada 7 Ramadhan, dua tahun setelah hijrah. Ini adalah peperangan pertama yang mana kaum Muslim (Muslimin) mendapat kemenangan terhadap kaum Kafir dan merupakan peperangan yang sangat terkenal karena beberapa kejadian yang ajaib terjadi dalam peperangan tersebut. Rasulullah Shallalaahu 'alayhi wa sallam telah memberikan semangat kepada Muslimin untuk menghadang khafilah suku Quraish yang akan kembali ke Mekkah dari Syam. Muslimin keluar dengan 300 lebih tentara tidak ada niat untuk menghadapi khafilah dagang yang hanya terdiri dari 40 lelaki, tidak berniat untuk menyerang tetapi hanya untuk menunjuk kekuatan terhadap mereka. Khafilah dagang itu lolos, tetapi Abu Sufyan telah menghantar pesan kepada kaumnya suku Quraish untuk datang dan menyelamatkannya. Kaum Quraish maju dengan pasukan besar yang terdiri dari 1000 lelaki, 600 pakaian perang, 100 ekor kuda, dan 700 ekor unta, dan persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari.
Kafir Quraish ingin menjadikan peperangan ini sebagai kemenangan bagi mereka yang akan meletakkan rasa takut di dalam hati seluruh kaum bangsa Arab. Mereka hendak menghancurkan Muslimin dan mendapatkan keagungan dan kehebatan. Banyangkan, pasukan Muslimin dengan jumlah tentara yang kecil (termasuk 2 ekor kuda), keluar dengan niat mereka hanya untuk menghadang 40 lelaki yang tidak bersenjata akan tetapi harus menghadapi pasukan yang dipersiapkan dengan baik -3 kali- dari jumlah mereka. Rasulullah SAW dengan mudah meminta mereka Muslimin untuk perang dan mereka tidak akan menolak, akan tetapi, beliau SAW ingin menekankan kepada pengikutnya bahwa mereka harus mempertahankan keyakinan dan keimanan dan untuk menjadi pelajaran bagi kita. Beliau SAW mengumpulkan para sahabatnya untuk mengadakan musyawarah. Banyak di antara sahabat Muhajirin yang memberikan usulan, dengan menggunakan kata-kata yang baik untuk menerangkan dedikasi mereka. Tetapi ada seorang sahabat yaitu Miqdad bin Al-Aswad ra., dia berdiri dihadapan mereka yang masih merasa takut dan berkata kepada Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah (SAW)!, Kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan oleh bani Israel kepada Musa (AS), 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu, kami duduk (menunggu) di sini'( Dalam surah Al-Maidah). Pergilah bersama dengan keberkahan Allah dan kami akan bersama dengan mu !".
Rasulullah SAW merasa sangat suka, akan tetapi Rasulullah hanya diam, beliau menunggu dan beberapa orang dari sahabat dapat mengetahui keinginan Beliau SAW. Sejauh ini hanya sahabat Muhajirin yang telah menyatakan kesungguhan mereka, akan tetapi Beliau menuggu para sahabat Anshor yang sebagian besar tidak hadir dalam baiat 'Aqaabah untuk turut serta dalam berperang melawan kekuatan musuh bersama-sama Rasulullah SAW di luar kawasan mereka. Maka, pemimpin besar sahabat Anshor, Sa'ad bin Muadh angkat bicara, "Ya Rasulullah (SAW) mungkin yang engkau maksudkan adalah kami". Rasulullah SAW menyetujuinya. S'ad kemudian menyampaikan pidatonya yang sangat indah yang mana dia berkata,
"Wahai utusan Allah, kami telah mempercayai bahwa engkau berkata benar, Kami telah memberikan kepadamu kesetiaan kami untuk mendengar dan thaat kepadamu... Demi ALlah, Dia yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau memasuki laut, kami akan ikut memasukinya bersamamu dan tidaka ada seorangpun dari kami yang akan tertinggal di belakang... Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan kepadamu yang mana tindakan kami akan menyukakan mu. Maka Majulah bersama-sama kami, letakkan kepercayaan kami di dalam keberkahan Allah".
Rasulullah sangat menyukai apa yang disampaikan dan kemudian beluai bersabda, "Majulah ke depan dan yakinlah yang Allah telah menjajikan kepadaku satu dari keduanya (khafilah dagang atau perang), dan demi Allah, seolah olah aku telah dapat melihat pasukan musuh terbaring kalah". Pasukan Muslimin bergerak maju dan kemudian berhenti sejenak di tempat yang berdekatan dengan Badar (tempat paling dekat ke Madinah yang berada di utara Mekkah). Seorang sahabat bernama, Al-Hubab bin Mundhir ra., bertanya kepada Rasulullah SAW, " Apakah ALlah mewahyukan kepadamu untuk memilih tempat ini atau ianya strategi perang hasil keputusan musyawarah?". Rasulullah SAW bersabda, "Ini adalah hasil strategi perang dan keputusan musyawarah". Maka Al-Hubab telah mengusulkan kembali kepada Rasulullah SAW agar pasukan Muslimin sebaiknya bermarkas lebih ke selatan tempat yang paling dekat dengan sumber air, kemudian membuat kolam persediaan air untuk mereka dan menghancurkan sumber air yang lain sehingga dapat menghalang orang kafir Quraish dari mendapatkan air. Rasulullah SAW menyetujui usulan tersebut dan melaksanakannya [*]. Kemudian Sa'ad bin Muadh mengusulkan untuk membangun benteng untuk Rasulullah SAW untuk melindungi beliau dan sebagai markas bagi pasukan Muslimin. Rasulullah SAW dan Abu Bakar ra. tinggal di dalam benteng sementara Sa'ad bin Muadh dan sekumpulan lelaki menjaganya.
Rasulullah SAW telah menghabiskan sepanjang-panjang malam dengan berdoa dan beribadah walaupun beliau SAWmengetahui bahwa Allah ta'ala telah menjanjikannya kemenangan. Ianya melebihi cintanya dan penghambaannya dan penyerahandiri kepada Allah ta'ala dengan ibadah yang Beliau SAW kerjakan. Dan ianya telah dikatakan sebagai bentuk tertinggi dari ibadah yang dikenal sebagai 'ainul yaqiin.
Langganan:
Komentar (Atom)
